
"Nona Seruni!"
Teriakan seseorang yang ada di lobby sebuah apartemen, sontak menjadi perhatian orang orang yang ada di sana, termasuk lima orang yang terhubung dengan nama yang baru disebutkan oleh seseorang itu. Pemilik nama Seruni yang sedang melangkah bersama seorang pria langsung menghentikan langkah kakinya dengan dada yang berdegup cukup kencang.
Sementara itu, di sana juga ada tiga orang pria yang sedang mengobrol, langsung menghentikan obrolan mereka, saat telinga ketiga orang itu mendengar ada seseorang menyebut nama Seruni dengan kencang. tentu saja, ketiga pria itu langsung mengalihkan pandangan ke arah orang yang baru saja menyebut nama wanita yang sedang mereka incar.
"Kamu menunduk saja, biar aku yang lihat," ucap pria bernama Ozil kepada wanita yang saat ini sedang ketakutan. Tanpa menunggu persetujuan dari wanita yang bersamanya, Ozil langsung berpaling ke arah sumber suara. Di sana, di sisi lobi lainya, ada seorang pria yang sedang melangkah terburu buru. Senyum pria itu mengembang dan langkahnya tertuju ke arah Ozil berada.
"Kamu diam aja, dia ke arah sini," bisik Ozil lagi. Seruni sontak saja langsung mengencangkan pegangan tangannya pada tangan pemuda itu. Seketika juga langsung Ozil berpikir cepat, saat melihat langkah pria itu semakin dekat. Namun di saat Ozil hendak mengeluarkan suaranya, tiba tiba ada suara lain yang lebih dulu dia dengar sampai Ozil terbungkam.
"Ayah, apaan sih, manggil aku Nona."
__ADS_1
Ozil sontak menoleh ke arah sumber suara itu dan ternyata tak jauh dari tempat berada, ada gadis kecil di sana. Sepertinya gadis kecil itu habis bersembunyi dari ayahnya. terlihat gadis itu cemberut mengahampiri pria yang tadi memanggilnya. Melihat hal itu, Ozil dan Seruni, nampak begitu lega. Sejenak keduanya saling menatap, lalu mereka segera saja melangkah menuju ke arah pintu keluar.
"Mending nomer ponsel kamu buang deh, Run. ganti nomer lagi," ucap Ozil begitu mereka sampai di tempat motor mereka terparkir. "Nomer kamu sudah terlacak."
"Nggak usah, nanti aku buang aja sekalian sama ponselnya," jawab Seruni. "Pecuma ganti nomer, mungkin ponselku juga sudah terdeteksi."
Ozil langsung setuju saja, kemudian mereka segera naik motor dan setelah mesin motor menyala, motor pun melaju meninggalkan apartemen. Sebelum sampai ke tempat tinggal Ozil, mereka berdua memilih mengisi perut di sekitar jalan yang mereka lewati. Mereka memasuki sebuah warung tenda yang menyajikan berbagai macam menu bebek.
"Kemungkinan, Paman dan para penjahat itu sudah tahu keberadaanku di tempat kamu, Bang," ucap Seruni, tak lama mereka duduk di sana, setelah memesan makanan. "Aku yakin orang yang digunakan paman Sakurata bukan orang sembarangan. Mungkin dia sudah mengetahui, titik dimana aku berada selama ini."
"Untuk sementara memang harus gitu, Bang. Apa lagi besok sama lusa, kamu libur. Aku yakin, para penjahat makin leluasa mencariku disana."
__ADS_1
"Yah, aku tidurnya nggak anget lagi dong," Ozil menekuk wajahnya. "Baru aja aku ngerasain enak enak, eh malah kamu mau pergi."
Seruni lantas tersenyum. "Ya kan untuk sementara, Bang. Lagian ini juga demi lancarnya rencana kita, bukan? Apa lagi aku sudah ngasih tahu Leo, Marsel dan William. Nanti malam senin aku kembali tidur di tempat kamu deh. Saat itu kan lubangku udah nggak sakit lagi."
Ozil nampak mendengus. "Terus kamu mau tinggal dimana? Bukankah di apertemen juga kamu udah nggak aman? Apa kamu akan pulang ke rumah?"
"Nggak," bantah Seruni. "Aku akan ke tempat Zhang. Nanti setelah ini, kita langsung pisah aja ya?"
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Ozil selain menyetujui usulan Seruni. Mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati hidangan yang baru saja datang. Begitu selesai makan, Seruni dan Ozil benar benar berpisah seperti yang sudah direncanakan. Dengan lesu, Ozil melajukan motornya menuju ke tempat tinggalnya.
Ternyata, apa yang dikatakan Seruni memang benar. Saat motor yang dikendarai Ozil hendak sampai ke tempat tujuan, dia melihat ada orang yang sedang mengawasi tempat tinggalnya. Ozil yakin kalau orang yang sedang bersandar pada tembok itu adalah salah satu dari tiga penjahat yang tadi Ozil lihat. Untuk memastikannya, Ozil kembali melajukan motornya yang tadi sempat berhenti sebentar, melewati bangunan tempat tinggalnya yang sedang diawasi
__ADS_1
"Benar kan, dia penjahat yang tadi aku lihat di lobby," gumam Ozil setelah melewati tempat kerjanya dan berhenti pada jarak tertentu. "Terus aku harus gimana sekarang? Apa aku kembali saja ke sana?" Seketika Ozil berpikir mencari jalan keluar. Setelah cukup lama berpikir, Ozil pun menemukan sebuah ide. "Aku tahu, apa yang harus aku lakukan."
...@@@@@@...