HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Rencana Lain


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencanaku?" tanya Ozil kepada lima hantu wanita yang duduk melingkar di hadapannya, dan satu wanita yang bergelayut di lengan kekar pria muda itu karena wanita itu merasa takut aneh. Ozil menatap satu persatu hantu wanita yang terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Apa rencana itu tidak akan membahayakan Seruni?" tanya salah satu hantu.


"Aku rasa cuma ini satu satunya jalan agar kalian bisa menemukan alamat bos mereka," jawab Ozil sambil sesekali melirik ke arah wanita yang sedang ketakutan meski wanita itu sangat tenang dan mendengarkan semua yang keluar dari mulut Ozil.


"Nanti kalau Seruni kenapa kenapa gimana, Bang?" hantu yang lain pun ikut melempar pertanyaan.


Ozil lantas tersenyum. "Kan seperti yang aku jelaskan tadi, nanti ada kalian yang bisa mengawasi Seruni. Soalnya gini, kalau Seruni terus berssembunyi, pasti akan sangat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan alamat bos meereka. Kita harus pancing mereka dengan adanya Seruni yang tampil di muka umum. Kan Seruni bisa tuh, akting pura pura baik dihadapan Pamannya."


Kelima hantu kembali terdiam dan mereka semua menatap ke arah wanita yang bergelayut di lengan Ozil. "Gimana, Run, menurut kamu tentang rencanaku?" tanya Ozil yang juga sedang ikut menatap Seruni juga.


Seruni tidak langsung terdiam. Matanya menatap Ozil dan dia nampak sedang memikirkan sesuatu. "Kalau cara itu bisa menyelamatkan semuanya, ya aku bersedia dijadikan umpan," ucap Seruni beberapa saat kemudian setelah dia mencerna baik baik keputusannya.


"Serius?" tanya Ozil dengan tatapan takjubnya. Seruni pun dengan yakin mengangguk. "Baiklah, gimana? Kalian setuju bukan?" Ozil terlihat antusias.


"Ya aku sih setuju aja, Bang, tapi apa kamu sanggup melawan para musuh sendirian?" tanya Melati. "Aku cuma khawatir, kamu kenapa kenapa karena musuh yang kita hadapi pasti bukan orang sembarangan."

__ADS_1


"Iya, Bang, aku juga khawatirnya gitu," Mawar ikut menimpali. "Bagaimana kalau kamu hubungi Leo, Bang, dan kamu ceritakan semua kepadanya. Pasti dia mau jika itu bertujuan menyelamatkanku."


"Nah iya tuh! Ide bagus," seru Lili. "Aku juga akan membawa Marsel kesini deh, gimana?"


"Aku juga ajak William kalau gitu," seru Anggrek.


"Duh, kalian ngajak cowok kalian semua. Nah aku? Cowok aku malah pengkhianat," sungut melati.


"Kalau aku lebih parah, cowokku malah nyimpang," seru Cempaka. "Bukannya membantu Ozil, nanti dia ngajakin Ozil perang pedang, hih."


Para hantu sontak tertawa serantak, sedangkan Ozil hanya mengulas senyum meski dia cukup heran dengan cerita para hantu. Selama ini Ozil hanya baru tahu kisah Mawar bersama Leo saja. Untuk yang lainnya, para hantu belum cerita, makanya Ozil sedikit terkejut saat empat hantu yang lain menyebutkan nama laki laki yang dekat dengan mereka.


Sementara itu di tempat para penjahat, mereka juga sepertinya sedang terlibat pembahasan yang cukup serius. Mereka saat ini sedang tidak berada di kontrakannya. Bersama Dokter Sakurata, mereka berada di suatu tempat.


"Kalau Cen Ling alias Seruni tidak bisa kita tangkap dalam waktu yang cepat, gimana, Dok?" tanya penjahat pertama yang memakai kaos biru, kepada dokter Sakurata. Cen Ling adalah nama Tionghoa dari Seruni. Karena keturunan Tionghoa, Seruni juga memiliki nama sesuai dengan nama marga keluarganya.


"Iya, Dok. Bukankah kita disuruh secepatnya untuk menangkap Seruni?" penjahat kedua yang berkaos hitam juga ikut mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Orang yang dipanggil Dok, yang tidak lain adalah Dokter Sakurata, langsung tersenyum dan wajahnya terlihat lebih santai. "Kalian jangan khawatir, jika Seruni tidak kita dapatkan, aku ada wanita lain yang bisa kita jadikan target pengganti Seruni."


"Serius, Dok?" tanya penjahat ketiga yang memakai jaket putih dengan nada yang cukup keras.


Dokter Sakurata kembali tersenyum tipis. "Apa saya sedang kelihatan berbohong?"


Ketiga penjahat nampak tersenyum juga. "Siapa, Dok? Apa dia memiliki syarat yang dbutuhkan Mbah Wiro?" tanya penjahat pertama.


"Tentu saja punya. Kalau tidak punya, aku mana mungkin menargetkan wanita itu. Mbah Wiro juga sudah setuju dengan usulan saya."


"Ya udah, Dok. Daripada kita membuang waktu, secepatnya aja kita bergerak," usul penjahat kedua.


"Ngapain bergerak. Kita tunggu aja di sini," balas sang dokter masih dengan santainya.


"Tunggu disini, Dok? Apa targetnya ada di disini?" tanya penjahat pertama.


"Itu dia!" balas dokter Sakurata sambil menunjuk ke arah pintu yang terbuka.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2