
Ozil tertegun begitu mendengar ucapan dari wanita yang saat ini sedang menikmati nasi bungkus dari pemuda itu. Gerakan tangan serta gerakan mulut yang sedang mengunyah gorengan, lansung berhenti sekian detik karena rasa terkejut yang menyeruak dalam benaknya. Namun tak lama setelah itu senyum OZil terkembang sembari kembali menikmati hidangannya.
"Mana mungkin kamu bisa jatuh cinta sama aku, Nir, Kalau kamu lihat aku yang sebenarnya, aku yakin kamu akan berpikir ulang," ucap Ozil setelah menggingit gorengan berupa tahu isi ke dalam mulutnya. Ozil berkata seperti itu karena dari dulu pemuda itu tidak pernah percaya dan yakin jika ada yang jatuh cinta kepadanya.
"Loh, latar berlakang aku lebih parah lagi kan?" Nirmala terlihat tidak mau kalah. Meskipun wanita itu juga tadi sempat terkejut dengan apa yang Ozil katakan, tapi Nirmala tahu alasan Ozil seperti itu karena apa, dan hal itu sebenarnya memang masalah klasik tapi sering terjadi di setiap era kehidupan manusia. "Kamu itu udah ganteng, dan punya hati yang baik. Meskipun semua itu relatif, tapi aku baru bertemu, cowok kayak kamu. Jarang ada loh, nggak saling kenal, tapi nolongnya sampai sejauh ini."
Lagi lagi Ozil mengerutkan keningnya karena tercengang, mendengar ucapan Nirmala. "Emang selama ini kamu nggak pernah ketemu cowok? Kamu juga cantik. Pasti banyak tuh, di tempat asal kamu, pria yang menginginkanmu?"
Mendengar hal itu, Nirmala tersenyum masam lalu menundukan pandangannya. "Bagimana aku bisa mengenal cowok, kalau untuk keluar rumah aja aku dibatasi. Hidupku tidak seindah yang kamu bayangkan, Mas," Untuk kesekian kalinya Ozil kembali dibuat tertegun, dan matanya langsung menatap wanita yang menghentikan makannya secara tiba tiba.
__ADS_1
"Bisa dikatakan, sejak orang tuaku meninggal, hidupku sepenuhnya berubah banyak. Apa lagi setelah aku menumpang di rumah Paman dan Bibiku, Aku kayak hidup di penjara. Waktu untuk keluar rumah dibatasi. JIka ada yang mengadu tentang aku, maka hanya kemarahan yang aku dapatkan. Mereka selalu bilang aku harus balas budi, padahal belum lama tinggal bersama mereka. Aku juga udah cukup gede saat mereka ngajak aku untuk hidup bersama. Entah, balas budi apa yang mereka minta, padahal rumah orang tuaku aja sudah mereka kuasai."
Ozil nampak menganggukan beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Ozil memilih diam dan membiarkan Nirmala kembali meluapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam. Ozil yakin, banyak sekali kesakitan yang Nirmala rasakan selama ini dan wanita itu hanya bisa memendamnya sendirian.
"Agar aku bisa balas budi, mereka mengharuskan aku agar menikah dengan orang kaya raya. Tak peduli pria itu sudah tua atau aku dijadikan istri kedua, yang penting aku menikahi pria kaya agar mereka bisa ikut menikmati kekayaan suamiku nanti. "
Nirmala sontak mengembangkan senyumnya yang terlihat ceria. "Maka itu, kalau kedepannya aku jatuh cinta sama kamu gimana? Bukankah kamu bilang, takdir ke depannya kita nggak tahu."
"Ya gimana ya?" Ozil malah menjadi gugup sendiri. Seperti senjata makan tuan, Nirmala menggunakan ucapan yang keluar dari mulut Ozil, sampai pemuda itu merasa terpojokkan. "Udah lah, jangan bahas cinta cintaan. Mending kamu sarapan dihabisin, nanti aku mau minta ijin sama bos aku agar kamu bisa tinggal di sini."
__ADS_1
"Lah, ya percuma aku tidur disini kalau kamu nanti malam pergi lagi. Kalau kamu takut hilaf, ya mending aku yang pergi dari sini."
"Nggak usah ngomong yang aneh aneh deh," Ozil malah terlihat kesal. "Tinggal nurut aja apa susahnya sih. kalau hilaf ya kita nikah sekalian."
Melihat OZil yang terlihat marah, Nirmala pun akhirnya hanya bisa nurut saja. Lagi pula dia sadar, kapan lagi ada kesempatan bagus seperti sekarang ini. Kalaupun suatu saat nanti dia jatuh cinta sama Ozil, biarlah dia memendamnya sendiri. Meskipun dia sendiri merasa mulai tertarik dengan pemuda itu, tapi Nirmala berusaha menepis perasaan tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian, Ozil dan Nirmala mulai merencanakan apa yang tadi Ozil usulkan. Setelah semua terencana dengan baik, Ozil langsung pamit untuk pergi ke rumah bosnya, sebelum dia membeli beberapa baju untuk Nirmala. Sungguh, apa yang Ozil lakukan kepada Nirmala, semakin menguatkan satu rasa dalam wanita itu. Namun untuk saat ini Nirmala hanya bisa menahannya karena tidak mau merusak suasana akrab yang terjalin di antara keduanya.
...@@@@@@@...
__ADS_1