
"Kamu kenapa sih? Dari tadi aneh banget?" tanya Leo dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Firasat Leo mengatakan kalau apa yang terjadi pada Mauren mungkin disebabkan oleh Mawar. Apa lagi Leo tahu, Ozil juga duduk di cafe yang sama dan dia brada di pojokan. "Tadi katanya nggak mau minum kopi itu, malah habis setengah."
Mauren pun langsung tersenyum dengan terpaksa. Dia juga heran dengan dirinya sendiri, kenapa bisa berbuat seperti itu. Sekarang Mauren tambah bingung, apa jadinya nanti jika obat perangsang yang dia masukkan ke dalam kopi, bereaksi. "Kita pulang yuk, Le?" ajak Mauren. Mungkin karena otaknya memang licik, dia selalu cari cara agar Leo bisa tidur dengannya.
"Aku sedang menunggu teman, sebentar lagi mereka akan datang," ucap Leo masih dengan sikap dingin dan ketusnya.
"Kok kamu malah manggil temen sih, Le?" Maurren jelas banget tidak terima. "Inikan acara kita berdua?"
"Acara dalam rangka apa? Jangan mimpi aku mau kencan sama kamu!" Leo sungguh tidak berperasaan dalam mengeluarkan ucapannya.
"Apa susahnya sih, Le, kamu buka hati buat aku?" wajah Mauren terlihat memelas. "Sedikit aja?"
"Sekarang saya tanya, kamu bisa nggak berhenti dari salonnya Mawar? Bisa nggak?" pertanyaan Leo tentu saja sangat susah untuk Mauren jawab. Kalau bukan karena salonnya Mawar, terus dia dapat duit darimana. "Kamu itu harusnya bersyukur Mawar masih mau nampung kampung di sana. Kalau bukan Mawar, mungkin kamu jadi gembel."
"Salon itu kan hasil kerja kerasku juga, Le. Kalau Mawar kan hanya cuma ngasih modal."
__ADS_1
"Kalau Mawar nggak nagsih modal terus kamu bisa apa? Mau minta uang sama Ayahmu yang korupsi?"
Di bawah meja, Mauren mengepalkan tangannya dengan kencang. Sabar, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Dia selalu berharrap dengan menghilangnya Mawar, Leo dapat melihat cintanya. Tapi Mauren salah, Leo tidak mudah untuk ditaklukan meski Mauren lepas baju sekalipun. Di saat hatinya sedang merasa sakit dengan perlakuan Leo, reaksi dari obat yang dicampur dengan kopi sudah terasa. Di saat itu pula kedua teman Leo datang.
"Kalau gitu aku pulang dulu, Le," Mauren yang sudah merasakan tubuh yang tidak nyaman langsung saja bangkit dari duduknya.
"Loh, kok malah pulang, Ren?" tanya temannya Leo kaget. "Kamu nggak suka ada aku disini?"
"Bukan begitu," agak gugup, Mauren menjawab pertanyaan itu. "Aku ngerasa nggak enak badan aja."
"Ya udah sana pulang, pake taksi."
Ozil pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun saat Ozil akan beranjak, Leo malah datang menghampiri. Mereka sejenak berbincang untuk mengatur waktu agar bisa bertemu lagi. Ozil pun pulang dengan perasaan yang cukup senang.
Ozil sebenarrnya ingin beristirahat selagi para hantu tidak ada, namun di saat motornya sebentar lagi akan sampai ke tempat tujuan, ponselnya Ozil berdering. Tepat di depan pintu gerbang, Ozil baru bisa mengangkat telfonnya yang ternyata sang bos yang melakukan panggilan agar Ozil datang ke rumahnya saat itu juga. Ozil masuk sebentar untuk manaruh barang belanjaan di kamar, lalu pergi lagi menuju rumah bosnya.
__ADS_1
"Kok rumah Mas Ari ramai banget," gumam Ozil begitu sampai di halaman rumah sang bos, terdapat banyak mobil di sana.
"Nah, itu Ozil!" seru Anindita dari ruang tamu.
"Masuk sini, Zil!" seru Mas Ari yang langsung keluar begitu tahu Ozil telah datang. Ozil mangangguk sembari tersenyum lalu memarkirkan motornya di sembarang tempat dan segera beranjak menuju ke arah Mas Ari. Dengan wajah sumringah, Mas Ari langsung merangkul pundak Ozil dan mengajaknya masuk. "Nah, ini pahlawan kita."
Semua mata yang ada di ruang tamu langsung menyambut Ozil. Meski tersenyum, Ozil sebenarnya bingung dengan yang terjadi di sana.
"Nggak usah bingung, Zil, mereka itu keluarga dari anak anak yang kamu selamatkan kemarin," ucap Mas Ari.
"Oh~" balas Ozil setelah mengetahui siapa orang orang itu.
"Terima kasih ya, nak Ozil, kamu telah menyelamatkan anak saya," ucap seorang ibu sembari menjawab tangan Ozil.
"Sama sama, Bu," ucap Ozil dengan ramahnya. Satu persatu mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Gimana semalam pijatan anak buahku, enak?" mata Ozil agak membelalak saat seorang pria berbisik, mananyakan tentang peristiwa semalam. Wajah Ozil langsung bersemu merah dan mengangguk patah patah. "Mau aku kirimin tukang pijat lagi?"
...@@@@@@...