
Malam itu, di lobby sebuah apartemen.
"Nggak sia sia ya, Mbah Wiro bisa bekerja sama dengan Dokter Sakurata. Otak dokter jepang itu sunggh encer,"ucap seoang pria kepada dua temannya. Sebut saja pria itu adalah penjahat pertama. Dia dan dua temannya terlihat sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius.
"Aku juga kagum sama itu dokter," penjahat kedua ikut bersuara. "Nggak nyangka aja, orang yang selalu terlibat dengan dunia medis, malah percaya dengan hal mistis yang kita anut. Awalnya aku pikir, jepang kan negara maju dan selalu memakai logika. Lah ini, seorang dokter malah mendukung perbuatan Mbah Wiro."
"Emang sejak kapan sih, Dokter Sakurata itu kerja sama dengan bos kita?" tanya penjahat ketiga. Dari pertenyaan yang dia lontarkan, sepertinya dia adalah orang yang baru saja bergabung dengan kelompok para penjahat itu. "Aku tuh penasaran, kenapa Mbah Wiro bisa kenal dengan dokter itu?"
Salah satu dari penjahat yang lain nampak tersenyum. "Sudah lama, ya sekitar hampir dua tahun yang lalu," ucap penjahat pertama. "Dulu, Dokter Sakurata juga kurang percaya dengan apa yang dilakukan Mbah Wiro. Tapi saat dia melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang dilakukan bos kita, Dokter Sakurata begitu takjub. Dari sana lah mereka dekat."
"Aku juga masih sangat ingat dengan kejadian itu," penjahat kedua menimpali. "Saat itu, ada pasien yang terserang penyakit parah. Yang bikin dokter Sakurata heran, dia tidak menemukan penyakit dalam tubuh pasien itu. Tapi pas ditangani oleh Mbah Wiro, pasien itu malah sembuh. Bahkan di depan mata Dokter Sendiri kejadiannnya."
"Oh, gitu?" ucap penjahat ketiga. "Jadi sejak saat itu dokter Sakurata jadi anak buah Mbah Wiro?"
__ADS_1
"Ya bukan anak buah," bantah penjahat pertama. "Dia itu orang paling penting bagi bos kita. Kamu lihat kan, alat yang digunakan Mbah Wiro untuk menahan lima wanita agar tetap hidup meski tubuhnya tidak bergerak? Itu semua milik Dokter Sakurata. Bahkan dokter itu juga yang sesekali mengecek keadaan para wanita itu."
Penjahat ketiga nampak manggut manggut sejenak. "Lah terus, tujuan Dokter mambantu mencarikan tumbal itu untuk apa? Bukankah ritual tumbal nanti hasilnya hanya untuk Bos kita?"
"Ya nggak begitu konsepnya," sekarang giliran penjahat kedua yang membantahnya. "Dokter Sakurata akan menerima hasil pesugihan juga. Kalau bos kita kan, selain buat pesugihan, dia juga ingin tubuhnya kebal oleh senjata apapun dan juga bertambah sakti. Biar banyak yang menggunakan jasanya."
"Oh," kata itu keluar lagi dari mulut penjahat ketiga. "Terus,Nsekarang kita disini gimana? Kapan bergeraknya?"
"Ya nunggu kabar dari dokter Sakurata," jawab penjahat pertama. "Tadi kan dokter sudah ngomong kayak gitu?"
"Ya maka itu kita tunggu. Kan dokter Sakurata sedang nunggu hasil dari pelacakan nomer pensel target kita. Bukankah titik terakhir posnel Seruni ada di apartemen ini."
Tanpa ketiga penjahat itu sadari, tak jauh dari keberadaaan mereka, ada seorang pemuda yang nampak terkejut begitu mendengar kata yang diucapkan salah satu penjahat. Karena ini merupakan infromasi yang cukup penting, pemuda itu segera saja bangkit dari duduknya dengan sikap setenang mungkin agar tidak curigai. Pemuda itu tidak peduli lagi dengan obrolan tiga penjahat itu yang masih berlangsung.
__ADS_1
"Gawat!" ucap pemuda itu saat menemui wanita yang masih bersembunyi di tempat yang sama. "Mereka tahu kamu ada di sini, Run?"
"Apa!" seru Seruni. "Bagaimana mereka bisa tahu?" wajah Seruni langsung terlihat panik.
"Dokter Sakurata bisa mengetahui keberadaan kamu karena berhasil melacak menggunakan nomer ponsel kamu," ucap si pemuda yang tidak lain adalah Ozil.
"Hah!" Seruni kembali memekik. "Darimana Paman tahu nomer hp ku yang baru? Apa dari Mommy?"
"Aku nggak tahu, kita bicarakan nanti aja," ucap Ozil lagi. "Sekarang, kita harus keluar dari sini."
Seruni langsung setuju. Keduanya pun bersiap untuk meninggalkan apartemen tersebut. Karena hanya ada satu jalan keluar, mau tidak mau mereka harus melewati pintu tersebut yang letaknya tidak jauh dari lobby, dimana para penjahat itu berada. Beruntung Ozil dan Seruni memakai masker. Sekarang mereka tinggal melangkah menuju ke arah pintu dengan sikap yang tenang agar tidak ada yang curiga.
Sepanjang kaki melangkah, Seruni menggengam erat telapak tangan Ozil dengan begitu kencang. Seruni terus menunduk dengan mata menatap ponsel yang dia pegang sebagai pengalihan perhatiannya agar tidak dicurigai. Namun, di saat itu juga ada suara yang mengejutkan keduanya.
__ADS_1
"Nona Seruni!" teriakan itu sontak membuat langkah kaki Ozil dan Seruni terhenti, dan suara itu juga mengundang perhatian ketiga penjahat yang ada di dekat mereka.
...@@@@@@...