HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Wanita Yang Malang


__ADS_3

Mendengar permintaan yang keluar dari mulut Nirmala, membuat gerakan tangan Ozil yang hendak memasukan butiran anggur ke mulutnya mendadak terhenti. mata sang pemuda menatap lekat wajah wanita yang saat ini menatap dirinya dengan lekat. Dari tatapan mata Nirmala, Ozil dapat menyimpulkan kalau wanita memang membutuhkan bantuannya setelah keluar dari rumah sakit ini.


"Biar nanti aku tanyakan sendiri sama Bosku, karena aku sendiri hanya seorang Ob," jawab Ozil antara jujur dan tidak jujur. Ozil jujur karena pekerjaan dia memang Ob, dan dia tidak jujur karena dia tidak yakin kalau di tempat kerjanya membutuhkan tenaga lain. "Kamu fokus saja sama kesehatan kamu dulu."


Wanita itu tersenyum dan mengangguk beberapa kali. "Emang aku di rumah sakit sudah berapa lama, Mas? Kok aku merasa tubuhku baik baik saja?" sebuah pertanyaan kembali terlontar dari mulut wanita itu. Pertanyaan yang Ozil sendiri bingung untuk menjelaskannya. Sejenak Ozil terdiam sembari berpikir dengan menikmati anggur hijau yang kemarin dikasih oleh sala satu wanita yang datang ke sana.


Namun di saat itu pula kedua anak muda tersebut dikejutkan dengan datangnya dua orang aparat kepolisian. Yang paling terkejut dari dua anak muda itu adalah Nirmala. Kening wanita itu bahkan sampai berkerut, merasa heran dengan kedatangan dua polisi tersebut. Rasa heran Nirmala semakin menyeruak saat menyaksikan Ozil dengan ramah menyambut dua polisi yang datang.


"Bagaimana keadaan anda, Nona, apa anda sudah merasa lebih baik?" tanya salah satu polisi begitu mereka berdiri di sisi kanan brangkar. Dengan tatapan bingung dan terbagi antara menatap Ozil dan polisi di sebelahnya, Nirmala mengangguk pelan.


"Memang apa yang telah terjadi sama aku? Kok bisa sampai berurusan dengan Polisi?" tanya Nirmala saat arah pandangnya tertuju pada pemuda yang menemaninya.

__ADS_1


"Nanti Polisi yang akan menjelaskan kronologinya, kamu tenang aja ya?" jawab Ozil dengan sikap setenang mungkin.


"Benar kata teman anda, biar saya jelskan apa yang menimpa anda, sampai anda berada di rumah sakit," ucap Polisi yang sama. Nirmala hanya mengangguk dan dia dengan serius mulai mendengarkan cerita dari salah satu Polisi tersebut. Nampak beberapa kali Nirmala menunjukkan wajah terkejutnya kala mendengar kenyataaan yang menimpanya secara bertubi tubi.


"Jadi aku beneran dijual?" wanita itu berkata dengan air mata yang mulai menggenang.


"Untuk sementara informasi yang kami dapatkan memang seperti itu, Nona. Mengenai Paman dan Bibi anda, mereka sudah kami tangkap dan untuk sementara, mereka akan kami mintai keterangan sebagai saksi," jawab sang Polisi yang sebenarnya tidak tega menceritakan kenyataan yang terjadi. Tapi Polisi itu tidak memiliki pilhan lain karena itu memang sudah menjadi tugasnya.


"Jangan terlalu dipikirkan," Ozil berusaha menenangkan Nirmala yang sedang tangisnya langsung pecah begitu kedua polisi itu menghilang dari pandangan mereka.


"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya, kenapa mereka begitu jahat? Padahal selama ini orang tuaku tidak pernah jahat. Mereka yang memiliki utang banyak, kenapa harus aku yang disengsarakan? Setelah ini aku akan hidup dimana? Satu satunya rumah peninggalan orang tuaku sudah mereka jual. Mereka benar benar keterlaluan!"

__ADS_1


Ozil pun jadi terdiam. Selain dia juga bingung dan tidak tahu cara mengibur wanita yang sedang bersedih, Ozil memilih diam agar wanita itu bisa menumpahkaan segala rasa yang menjadi beban pikirannya. Yang bisa Ozil lakukan saat ini hanya menjadi pendengar setiap keluhan berbalut amarah, yang keluar dari mulut wanita itu.


"Aku tidak kenal kamu, aku juga tidak kenal dengan Dokter itu, tapi kenapa aku malah dijadikan alat balas dendam? Kenapa nasibku bisa seburuk ini? Harusnya kamu tidak menolongku. Biarkan aku menemui ajalku. Percuma aku siuman kalau setelah ini aku tidak tahu akan seperti apa hidupku nanti."


"Jangan bicara seperti itu. Bukankah kamu tadi sudah bilang ingin kerja bersamaku? Nanti akan aku usahan ngomong sama bosku," Ozil mengeluarkan suaranya agak kencang agar wanita itu tak lagi asal bicara hanya karena nasibnya yang terlihat buruk.


"Pecuma aku kerja. Untuk apa aku menjalani hidup jika aku sendiri sudah tidak memilki siapa siapa lagi di dunia ini. Ada saudara pun percuma. Mereka belum tentu mau menerimaku yang sedang berada dalam keadaan kayak gini. Bahkan, mereka saja tidak mencariku sama sekali."


"Jangan terlalu banyak mikir buruk, mungkin mereka belum dengar, berita hilangnya kamu," Ozil berusaha berpikir posistif saja agar Nirmala juga terpancing memikirkan hal yang sama.


"Mana mungkin," ucap Nirmala dengan yakin. "Aku lebih tahu, bagaimana sifat saudara saudara dari orang tuaku itu."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2