
Hari pun kembali berganti dan hari ini adalah hari diimana Ozil libur bekerja. Karena tidak ada kegiatan yang berarti, seperti biasa, Ozil memanfaatkan libur kerjanya untuk berolahraga. Tentu saja, Ozil olahraga seadanya saja, bukan pergi ke tempat fitnes. Padahal Ozil sering diajak orang orang yang kerja di kantor untuk fitnes bareng, tapi Ozil menolaknya karena terlalu malu.
Biasanya taman yang letaknya tidak jauh dari tempat kerja Ozil menjadi tempat berakhirnya Ozil berolahraga lari. Setelah lari selesai, baru, Ozil melakukan senam untuk menjaga tubuhnya agar tetap ideal. Tak jarang, kedatangan Ozil mengalihkan perhatian pandangan para wanita karena postur tubuhnya yang menggugah selera.
Sejak tinggal di kota dan mendapat pekerjaan yang cukup bagus, penampilan Ozil memang dikatakan lebih keren. Wajahnya tampannya lebih terlihat jelas meski pakaian yang dia kenakan sehari hari tetap kolor dan kaos tanpa lengan jika sedang tidak bekerja.
Setelah selesai olahraga, kegiatan Ozil dilanjut dengan mandi dan sarapan. itu saja baru dilakukan sekitar pukul sembilan siang. Setelah itu sudah tidak ada kegiatan berarti lagi. Jika tidak ada tugas mendadak, Ozil lebih sering menghabiskan waktu di kamar bersama para hantu.
"Bang, jalan jalan yuk? Bang Ozil kan kalau libur jarang jalan jalan," ucap Mawar memberi usulan.
"Jalan jalan kemana?" ucap Ozil. "Gimana bisa jalan jalan kalau kemarin kemarin aku nggak pegang duit."
"Ya ke Mall, deket sini kan ada Mall. Bang Ozil bisa sambil cuci mata itu," usul Mawar lagi.
"Iya juga ya? Lagian, aku juga butuh beberapa baju kerja lagi," ucap Ozil. Akhirnya dia pun setuju dengan usulan para hantu. Ozil bangkit dari rebahannya dan segera berganti pakaian yang lebih rapi. Beruntung ada fasilitas motor, jadi Ozil tidak perlu bingung jika hendak pergi.
Kurang dari sepuluh menit, kini Ozil dengan para hantu sudah berada di sebuah Mall yang letaknya memang tidak jauh dari tempat kerjanya. Mungkin karena akhir pekan, Mall itu terlihat lebih ramai. Ozil pun berkeliling sembari sesekali melihat tingkah para hantu yang iseng ngerjain manusia. Ozil juga terlihat keluar masuk beberapa stand baju, untuk mencari baju kerja berupa kemeja lengan pendek. Setelah mendapat dua baju dan satu celana, Ozil berencana mau membeli minuman.
"War, bukankah itu Leo?" ucap Cempaka sambil menunjuk ke arah yang berlawanan.
__ADS_1
"Ah, iya, War, itu tunangan kamu!" seru Anggrek. "Tapi malah kenapa pergi dengan wanita itu?"
"Iya ih,menyebalkan. Mana nyosor banget itu cewek," sungut Lili.
Mawar hanya terdiam sembari menatap dua orang yang sangat dia kenal. Leo memang terlihat sangat acuh pada sahabatnya yang ternyata seorang pengkhianat, bernama Mauren.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Ozil dan hal itu sukses membuat semua hantu menatapnya. "Kalau iya, biar aku yang sampaikan."
"Apa dia akan percaya?" tanya Mawar.
" Ya kita coba aja dulu. Tapi kamu kasih tahu aku sesuatu yang bisa membuat pria itu percaya dengan ucapanku."
"Ah benar! Ide Bang Ozil bagus tuh, War," seru Anggrek.
Setelah mengikuti Leo dan Mauren beberapa menit lamanya, kedua orang itu terlihat masuk ke dalam sebuah cafe. Ozil dan para hantu pun duduk di sana. bahkan Ozil sengaja duduk tak jauh dari tempat dimana Leo dan Mauren berada.
"Kenapa sih, Le? Kamu tuh sedari tadi cemberut terus?" rengek sambil mengguncang guncang tubuh pria di sebelahnya dengan manja.
"Bisa nggak kamu jangan kekanakan seperti itu! Udah tahu aku nggak mau ke tempat beginian, pakai ngadu ama ibuku segala," sungut Leo sambil berpindah tempat duduk.
__ADS_1
"Ya aku kan cuma niat bikin kamu senang," Muaren nampak begitu kesal karena Leo selalu menjaga jarak darinya.
"Aku akan lebih seneng, jika kamu nggak ganggu hidup aku!" tegas Leo lalu dia bangkit menuju toilet. Ozil yang melihat ada kesempatan bagus langsung menyusulnya. Sementara mauren yang terlihat kesal, langsung mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Apa itu obat?" tanya Lili sembari memperhatikan Mauren memasukkan serbuk ke dalam minuman Leo.
"Sepertinya dia mau berbuat curang?" ucap Anggrek dan ketiga hantu lainnya membenarkan.
Sedangkan Mawar saat ini mengikuti Leo ke toilet. begitu melihat Leo keluar dari salah satu bilik untuk buang air dan berdiri di tempat cuci tangan, Ozil mendekat dengan degup jantung yang tidak biasa.
"Apa anda yang bernama Leo?" tanya Ozil dan tentu saja orang yang dimaksud langsung menoleh.
"Kamu mengenal saya?" tanya Leo nampak terkejut.
Oziil tersenyum canggung. "Ada pesan yang harus aku sampaikan."
"Pesan? Dari siapa?"
"Seseorang yang biasa memanggil kamu dengan sebutan Ole si tukang ngocok."
__ADS_1
Deg!
...@@@@...