
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, wanita yang bersama Ozil, saat ini sudah terbaring diatas kasur yang ukurannya hanya untuk satu orang. Ozil yang masih ada di sana, sesekali melirik ke arah waniita yang memunggunginya. Ozil pun ingin rebahan, tapi dengan adanya wanita itu, Ozil jadi dilema.
"Kamu tidak mau berbaring?" sepertinya si wanita mengerti dengan kegelisahan yang dirasakan Ozil saat ini. Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah Ozil dan menatap pria itu sampai yang ditatap salah tingkah sendiri.
"Aku belum ngantuk," balas Ozil. Dia memang belum ngantuk. Apa lagi, tadi Ozil tidur siang cukup lama. Tapi saat ini, dia hanya ingin rebahan sembari bermain ponsel. Si wanita menghembuskan nafasnya secara pelan lalu dia bangkit dari tidurnya kemudian berdiri dan beranjak menuju ke arah pintu kamar.
"Mau kemana?" tanya Ozil nampak terkejut, tapi si wanita hanya membalasnya dengan senyuman dan dia tetap keluar dari kamar. Ozil bergegas menyusulnya. "Kamu mau kemana?" Ozil bertanya lagi.
Wanita itu menoleh dan tersenyum. "Aku tidur di sana aja," si wanita menunjuk ke arah pos satpam.
"Jangan!" tentu saja Ozil langsung melarangnya. "Di kamar aja. Ngapain kamu tidur disana?"
Lagi lagi si wanita tersenyum. "Tidak apa apa. Yang penting kamu nyaman."
Wanita itu hendak meneruskan langkah kakinya tapi pergelangan tangannya langsung dicekal oleh Ozil sampai membuat si wanita terkejut. "Ayo masuk, atau kita sama sama tidur di luar." Ozil langsung saja menarik tangan wanita itu.
__ADS_1
Si wanita hanya bisa menggelengkan kepala saja, tetapi dia menuruti ajakan Ozil. Dimata wanita tanpa nama itu, Ozil terlihat seperti pria yang baik dan pengertian. Makanya wanita itu sekarang merasa lebih aman. Tapi, dia juga merasa tidak enak hati karena kehadirannya seperti menjadi musibah bagi pemuda itu.
"Tidurlah,"titah Ozil begitu mereka sudah berada di dalam kamar kembali. Ozil sendiri langsung merebahkan tubuhnya menghadap ke tembok. Si wanita kembali tersenyum. Lalu dia juga ikutan berbaring. Jantung Ozil seperti sedang melompat lompat saat itu juga. Ozil jelas sekali merasa kalau punggungnya dan punggung wanita itu memang sangat menempel.
"Nama kamu siapa?" tanya si wanita. "Aku bingung mau manggil kamu apa sedari tadi."
Ozil tertegun. Dia segera berusaha menguasai benaknya agar bisa bersikap tenang. "Nama aku Ozil. Panggil aja aku nama atau Abang."
"Oke, Bang. Kayaknya Abang lebih bagus buat manggil," balas si wanita. "Apa kamu tidak bisa memberiku sebuah nama untuk sementara?"
Si wanita tersenyum, lalu dia merubah posisi tubuhnya menjadi telentang. Ozil sangat merasakan pergerakan dari wanita itu. "Apa kamu sedang merayuku, Bang?"
Kening Ozil sontak berkerut. Pria itu masih memunggungi wanita yang baru dikasih nama Seroja. "Merayumu?"
"Iya, tadi kamu bilang cantik. Apa kamu sedang merayuku?" wanita itu menatap punggung Ozil yang terlihat bidang dan kekar. Biasanya Ozil hanya memakai kolor, tapi berhubung ada wanita di sana, Ozil terpaksa memakai kaos.
__ADS_1
"Hehehe ..." Ozil malah terkekeh. "Seroja kan memang nama yang cantik." jawab Ozil sedikit berdusta. Padahal di dalam hatinya dia sangat ingin mengatakan kalau wanita itu lebih cantik dari nama bunga Seroja.
Wanita itu hanya tersenyum senang. Matanya menerawang langi langit dan sejak detik itu tidak ada pembicaraan diantara mereka. Untuk beberapa waktu, keduanya diam. Seroja masih menghadap langit langit dan Ozil masih memunggui Seroja.
Namun, beberapa puluh menit kemudian, Ozil merasa kalau wanita itu sudah tertidur. Ozil yang terbaring miring, perlahan memutar tubuhnya menghadap ke arah Seroja. Ozil nampak bernafas lega, ternyata Seroj sudah terlelap. Ozil menggunakan kesempatan itu untuk menatapi wajah cantik wanita disebelanya. "Andai kamu jadi pacarku," gumam Ozil sambil senyum senyum.
Ozil menghadap langit langit. Telapak tangannya diletakkan di bawah kepala sebagai bantal. Namun, Ozil dibuat kaget, saat tubuh Seroja tiba tiba bergerak menghadap Ozil dan tangannya langsung memeluknya. Ozil tergagap, tidak bisa berkutik. "Aduhh! Bagaimana ini?" keluhnya.
Sedangkan di tempat lain, para hantu sungguh dibuat kaget dengan obrolan yang baru saja mereka dengar. Ditambah lagi fakta mengerikan dibalik penculikan yang menimpa wanita, yang saat ini sedang bersama Ozil dan juga kelima wanita lainnya yang katanya masih hidup di markas mereka.
"Sepertinya kita harus kasih tahu bang Ozil secepatnya deh. Ini berita yang amat penting," seru Lili.
"Benar! Mending kita pulang, ayo!"
...@@@@@...
__ADS_1