
"Semalam Bang Ozil tahu nggak ya? Kalau aku megangin isi celananya?" gumam Seroja saat sedang nongkrong di kamar mandi. Matanya menerawang menatap pakaian miliknya yang basah karena sengaja dia cuci semalam. Berharap paginya kering agar bisa dikenakan, tapi pakaian itu malah masih basah.
Selain memikirkan perbuatannya semalam, Seroja juga memikirkan nasibnya sendiri. "Apa Ozil akan marah jika tahu kalau aku berbohong?" Seroja kembali bermonolog. "Kalau dia tahu aku hanya pura pura hilang ingatan bagaimana?"
Ternyata Seroja hanya berpura pura hilang ingatan. Wanita itu memiliki tujuan tersendiri sampai mau melakukan kebohongan seperti itu. Yang pasti Seroja berbohong bukan untuk berbuat jahat pada pria yang telah menolongnya. Ada hal lain yang menyebabkan wanita itu harus bersandiwara seperti ini.
"Sudah selesai?" tanya Ozil begitu melihat Seroja kembali masuk ke dalam kamar setelah berada di dalam toilet beberapa lamanya.
"Sudah," jawab Seroja singkat sembari duduk di atas lantai.
"Aku mau beres beres dulu, kamu istirahat saja di kamar. Hari ini kantor tutup, jadi kamu masih aman," ucap Ozil sembari beranjak keluar kamar. Seroja hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Setelah Ozil pergi, wanita itu kembali merebahkan badannya dengan perasaan galau luar biasa.
"Bang," para hantu muncul saat Ozil sedang membersihkan ruangan kantor. Ozil sempat kaget dan dia melihat salah satu hantu melambaikan tangan. Ozil pun mendekat ke arah mereka.
"Ada apa?" tanya Ozil lirih.
"Ada yang harus kita bicarakan. Nanti kalau Abang sudah selesai, kita ngobrol di taman ya?" ucap salah satu hantu. Ozil pun setuju dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya Ozil dan para hantu bisa ngobrol di ruang kerja. Tapi karena ada kamera pengawas, Ozil takut nanti dianggap gila jika sampai dia terekam cctv.
Begitu semua pekerjaan beres, Ozil langsung mendekati para hantu yang menunggunya di taman samping kantor. Di tempat itu tidak kejangkau kamera pengawas, jadi aman saat Ozil ngobrol dengan para hantu. "Ada apa?" tanya Ozil sembari duduk di bangku taman yang terbuat dari tumpukan batu bata.
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus kita kasih tahu, Bang," balas Mawar menggebu gebu.
"Emang hal penting apa itu?" Ozil pun menjadi penasaran.
"Begini, Bang, ternyata ..." secara bergantian, kelima hantu mulai menceritikan infromasi yang mereka dengar semalam.
"Apa! Buat dijadikan tumbal? kalian yakin?" Ozil begitu terkejut setelah mendengar sebagian cerita para hantu.
"Ya sangat yakin lah, Bang, masa kita bohong," balas Cempaka. "Mereka itu butuh enam orang wanita yang masih tingting untuk persembahan. Dan wanita itu menjadi target terakhir para penjahat."
"Dan juga, yang kelima orang itu ya, Bang, kemungkinan itu adalah kami, Bang. Soalmya tanggal lahir kami secara kebetulan berdekatan dan itu sesuai syarat yang dibutuhkan bos penjahat katanya," ucap Lili.
"Seingatku kan, aku cuma ngocokin doang, Bang," jawab Mawar. "Tapi biar lebih jelas lagi, Abang coba tanya Leo, pernah berhubungan badan nggak sama aku? Abang punya nomernya kan?"
"Ya elah, mana aku berani tanya gituan? Itu kan privasi," balas Ozil. " Terus kalian tahu nggak lokasi para penjahat itu menyembuyikan lima wanita yang lainnya?"
"Ya belum tahu, Bang. Orang yang menculik wanita itu, harus kembali mendapatkan wanita yang bersama Abang. Karena wanita itu target terakhir mereka. Apa lagi kita juga dengar kelima wanita yang lain itu diculik sekitar setahun yang lalu."
"Ah iya, aku juga kaget pas dengar itu," seru Melati. "Apa lagi mereka bilang tentang berita lima wanita anak orang kaya yang sudah menghilang."
__ADS_1
"Yayaya ... aku paham. Ya udah gini aja, kalian terus aja awasi para penjahat, biar nanti aku coba mikirin jalan keluarnya bagaimana," usul Ozil. Para hantu langsung bilang setuju.
Mungkin pembicaraannya karena terlalu serius, Ozil dan para hantu sampai tidak sempat bercanda seperti biasanya. Bahkan karena terlalu semangat untuk mengunkap misteri dari para penjahat, kelima hantu itu langsung pergi, tak lama setelah obrolan mereka selesai. Ozil pun segera kembali masuk ke kamar, mengambil uang untuk membeli sarapan.
"Kamu udah selesai?' tanya Seroja yang langsung bangkit dari rebahannya begitu mendengar pintu kamar terbuka dan melihat Ozil masuk ke dalamnya.
"Sudah, aku cuma mau ngambil uang buat sarapan kok," jawab Ozil sambil melangkah menuju ke arah lemari.
"Maaf, ya, Bang, aku ngrepotin kamu."
"Nggak apa apa. Aku merasa nggak direpotin," jawab Ozil lalu bersiap untuk keluar kamar lagi.
"Bang," panggil Seroja, sampai membuat langkah Ozil terhenti.
"Ya, ada apa?"
"Sebenarnya aku tidak hilang ingatan."
Deg
__ADS_1
...@@@@@...