HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Ozil Pun Bingung


__ADS_3

"Gimana, Zil dengan penawaranku? Kamu mau nggak?"


Ozil yang saat itu sedang duduk di depan meja kerja Mbak Rini, sontak mengerutkan keningnya. "Penawaran yang mana yang, Mbak?" Ozil malah terlihat bingung.


"Yang tadi? Ngajarin aku bela diri? Mau dong? Nanti kita belajarnya di rumahku." mata Ozil langsung membelalak. "kenapa? Kok malah kaget itu?"


Ozil langsung salah tingkah sambil garuk garuk belakang telinganya yang tiba tiba terasa gatal. "Mbak Rini serius?"


"Seriuslah, Zil," balas Rini terlihat meyakinkan. Bahkan wanita itu sampai menghentikan pekerjaan dan menatap Ozil sampai pemuda itu menjadi gugup. "Apa kamu pikir aku sedang bercanda dan hanya ingin menjebakmu agar aku bisa menguji kejantananmu?"


Mata Ozil kembali membulat dan dia semakin gugup. "Bukan begitu, Mbak. Aku pikir, Mbak tadi hanya bercanda."


Mbak Rini langsung tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Aku serius. Nanti kalau libur, kita atur waktu ya buat latihan? Tenang, rumah Mbak sepi kok, jadi kamu nggak perlu malu."


Ozil hanya mengangguk asal. Dia terlalu bingung dan gugup. Lagi lagi dia dihadapkan dengan janda pirang yang seperti memberi kode kepadanya. janda yang satu ingin berlatih bela diri, janda satunya lagi meminta Ozil bertandang ke rumahnya kalau libur kerja. yang membuat Ozil heran, rumah kedua janda yang bekerja di sana, sama sama sepi.

__ADS_1


"Zil, kamu waktu di kampung kerjanya apa sih? Terus kamu belajar bela diri dimana?" tanya Mbak Rini dengan mata yang fokus menatap layar laptop.


"Ya serabutan, Mbak, Nggak menentu. Kadang ikut orang kerja di sawah. Kadang jadi kuli di pasar. Pokoknya apa aja lah, Mbak, yang penting bisa menghasilkan. Kalau silat, aku ikut karang taruna, Mbak. Kan ada program desa yang menyediakan beberapa kegiatan yang bermanfaat untuk pemuda. Ada beladiri, jahit, masak, tukang las, sablon. Aku ikutnya bela diri, Mbak."


"Pantes badan kamu bagus, terbentuk alami dan sempurna gitu. Mbak pikir kamu ikut fintes."


"Nggak Mbak, nggak ada duit, hehehe ..."


"Ya baguslah. Setidaknya bela diri ada manfaatnya buat kamu. Tapi kamu punya pacar kan?"


"Masa?" Mbak Rini terlihat terkejut. Sepertinya dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Nampak wanita itu langsung mematikan laptopnya. "Kamu belum pernah pacaran sama sekali? Kamu ganteng loh."


Ozil kembali tersenyum lebar. "Kalau di kampung kan aku kelihatan dekil, Mbak. Nggak pernah rapi. Lagian mana ada cewek mau pacaran sama cowok kere. Aku di rumah hanya punya sepeda, Mbak."


"Astaga! Hahaah ... berarti kamu masih polos banget ya? Tapi pernah nggak kamu membayangkan atau nonton yang enak enak?"

__ADS_1


"Tahu akh,Mbak," Ozil tidak berani menjawab. Dia malah tidak enak sendiri di lempar pertanyaan seperti itu. "Mbak aku ke kamar dulu ya?" pamit Ozil karena merasa bingung hendak membicarakan apa lagi, jadi Ozil memutuskan kembali ke kamarnya.


"Mau ditemenin nggak ke kamarnya?" tawar Mbak Rini sambil senyum senyum.


Ozil segera menggeleng. Bukanyya manafik apa jual mahal, Ozil hanya tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia hanya bisa menggeleng. Apa lagi Ozil memang tidak pernah digoda sampai salah tingkah begini, jadi ini merupakan sesuatu yang mengejutkan.


Ozil pun bergegas ke kamar, tak lama setelahnya, Mbak Rini juga keluar dai kantor. Ozil melepas pakaiannya dan hanya memakai kolor serta kaos tanpa lengan lalu kembali keluar kamar guna sekedar ngobrol dengan Pak Satpam karena para hantu entah sedang pergi kemana sore ini.


Waktu terus bergerak maju dan kini malampun telah datang. Ozil saat ini sedang melangkah menuju tempat kerjanya untuk sekedar membeli makan malam. Sepanjang perjalanan lagi lagi Ozil harus menahan pandangannya agat tetap lurus ke depan. Ozil tidak mau ada hantu lain yang mengetahui kalau dia bisa melihat mereka. Para hantu yang dilihat Ozil wujudnya sangat mengerikan. Ozil saja sampai ketakutan, makanya dia pura pura saja bersikap kalau dia tidak melihat para hantu tersebut.


"Dia siapa? Hantu atau bukan?" gumam Ozil begitu langkah kakinya hampir sampai di kantor, tapi matanya melhat ada orang yang berdiri di depan kantor kerjanya. Ozil pun mendekat dengan mata menyelidik. "Sepertinya dia manusia. Ngapain malam malam datang ke kantor? Mau daftar nikah?" Ozil melanjutkan langkah kakinya.


"Permisi? Nyari siapa ya?" sapa Ozil hingga membuat orang itu menoleh. Bukannya menjawab, orang itu malah tersenyum kepada Ozil.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2