HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Suruhan Seorang Bos


__ADS_3

"Dia siapa?" kening Ozil berkerut, langkah kakinya terhenti. Ozil yang saat itu baru kembali setelah membeli makanan, dibuat terkejut saat matanya menangkap seseorang berdiri di depan pintu gerbang kantor sekaligus tempat tinggalnya. Daripada penasaran, Ozil pun melanjutkan langkahnya menuju tempatnya bekerja.


"Permisi, nyari siapa ya?" suara Ozil yang tiba tiba menggema, nampaknya mengejutkan orang yang berdiri menghadap ke arah pintu gerbang sambil melongok ke area dalam. Orang itu lantas menoleh ke arah Ozil dan langsung tersenyum manis. "Cari siapa, ya, Mbak?" tanya Ozil lagi kepada orang itu yang memang seorang wanita.


"Mau tanya, Mas, apa benar disini ada pria yang bernama Ozil? Katanya dia tinggal disini?" pertanyaan dari wanita itu tentu saja membuat Ozil terkejut. Bersamaan dengan itu, di dalam benak Ozil langsung muncul berbagai pertanyaans dan juga kecurigan. Jika diperhatikan, wanita itu sangat cantik dan pakaiannya, cukup membuat Ozil susah berkedip.


"Memang mbak tahu darimana, ada nama Ozil di tempat ini?" Ozil sengaja tidak langsung mengakuinya. Takutnya wanita itu adalah sindikat kejahatan juga. Biar bagaimanapun, Ozil harus bisa lebih waspada.


"Dari kantor polisi. Tadi bos aku yang bilang, pria yang menyelamatkan anaknya adalah pemuda yang bekerja di tempat ini. Saya disuruh bos saya untuk menemuinya," jawab wanita itu yang memakai baju hijau dengan panjang hanya sampai sedikit di bawah pinggangnya. JIka diamati pakaian si wanita memang sangat seksi. Pakaian yang panjangnya tidak sampai menutupi lutut. Bahkan lebih pendek lagi, dan dada yang menyembul sebagian isinya.


"Emang bos Mbak siapa?" tanya Ozil lagi penuh selidik.


"Apa kamu sedang menyelidki saya?" pertanyaan yang terlontar dari wanita itu tentu saja membuat Ozil terkesiap. "Ya sudah, saya akan suruh bos hubungi Pak Ari aja, dan bilang kalau yang namanya Ozil tidak ada disni," wanita itu langsung merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.


"Saya Ozil," akhirnya Ozil mengakuinya, dan wanita itu cukup terkejut. Karena mendengar nama Ari disebut, membuat Ozil mau tidak mau memilih mengakuinya. Ozil tidak mau dipandang buruk oleh bosnya nanti jika sampai wanita itu melapor.

__ADS_1


"Waw! Beneran kamu, Ozil?" Ozil mengangguk dengan cepat. "Keren juga." padahal saat itu Ozil hanya menggunakan kolor dan kaos tenpa lengan.


"Ya udah mari masuk, Mbak." jawab Ozil lalu dia melewati wanita itu dan membuka gerbang yang memang Ozil kunci jika dia pergi saat malam hari. Ketiga wanita itu lantas mengikuti langkah Ozil. "KIta duduk di teras dekat taman ya, Mbak?" tawar Ozil.


"Masa di taman? Gelap gitu loh, apa nggak ada nyamuak?" protes wanita itu. "Emang di sini tidak ada ruang tamunya?"


"Ada sih, cuma kan kalau malam saya nggak berani memasukan tamu ke dalam, Mbak. Maaf, saya hanya menjaga kepercayaaan bos saya saja, Mbak," jawab Ozil jujur.


"Ya jangan di taman, masa gelap gelapan." Wanita itu kembali protes. Padahal di taman tidak gelap banget, hanya remang remang cahanya.


"Ya nggak apa apa di kamar, daripada di taman. Banyak nyamuk." Untuk kesekian kalinya Ozil kembali dibuat terkejut. Dan sekarang rasa terkejutnya dicampur dengan degupan jantung yang tidak biasa. "Di kamar sepertinya lebih nyaman loh," wanita itu sedikit memaksa. Mau tidak mau Ozil menurutinya dan wanita itu nampak kegirangan.


"Emang Mbak kerjanya apa sih? Kok malam malam mau kemari?" tanya Ozil di sela sela langkah kakinya menuju kamar. Hati Ozil benar benar dibuat tak karuan saat ini. Apa lagi lima hantu juga saat ini entah pada kemana. Sedari siang, mereka tidak kelihatan, membuat Ozil cukup mengkhawatirkannya.


"Kerja di tempat pijat, Mas."

__ADS_1


"Hah!" Ozil langsung memekik kencang sampai tangan yang hendak membuka pintu kamar benrhenti pada saat memegang gagang pintu. "Tukang pijat?" pikiran Ozil langsung berkelana.


"Iya, Mas. Tapi bukan tukang pijat murah meriah seperti yang ada dipikiran kamu loh, Mas," jawaban wanita itu membuat Ozil gelagapan bukan main. Wajar jika Ozil berpikir negatif, karena memang kebanyakan tukang pijat identik dengan pelayanan tambahannya.


Begitu pintu dibuka, Ozil lantas mempersilakan tamunya masuk. "Maaf, di kamarku tidak ada kursi."


"Hehehe ... nggak apa apa, Mas. Duduk di lantai juga nggak apa apa," jawab si wanita sambil meletakkan pantatnya di atas lantai


"Kalau dingin, duduk di kasur aja, Mbak," tawar Ozil. Wanita itu lantas bergeser dan duduk di kasur seperti yang Ozil tawarkan. "Terus tujuan Mbak kesini menemuiku itu, untuk apa, Mbak?"


Wanita itu sontak tersenyum lebar, sembari menatap Ozil yang duduk dilanntai bersandar pada tembok. "Saya diminta bos saya untuk melayani kamu, Mas."


"Hah!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2