HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Kejutan saat Bekerja


__ADS_3

"Apa!" pekik penjahat kedua setelah dia mendengar ucapan yang keluar dari penjahat pertama. Begitu penjahat kedua selesai melakukan obrolan lewat telefon, dia langsung menceritakan hasil pembicaraan dengan bos mereka kepada penjahat pertama dan nampaknya apa yang dikatakaan penjahat kedua sangat mengejutkan. "Kita menghabisi nyawa wanita itu? Apa dokter itu sudah gila!"


"Aku juga kaget, mendengarnya tadi," balas penjahat kedua. "Aku nggak mau kalau sampai menghilangkan nyawa seseorang. Itu bukan kebiasaan kita meski kita penjahat."


"Maka itu aku kaget. Ini nggak bisa dibiarkan, ***. Aku nggak mau kalau memakai cara kayak gini. Yang punya dendam dia loh, bukan kita," sungut penjahat pertama.


"Terus kita harus bagaimana? Kita sudah terlanjur bertindak sejauh ini," penjahat kedua bingung hingga utuk beberapa saat kedua penjahat itu nampak sedang berpikir dengan sangat serius.


"Aku tahu apa yang harus kita lakukan," seru penjahat pertama beberapa lama kemudian.


"Apa itu?" tanya penjahat kedua. penjahat pertama langsung mengatakan idenya. "Wahh! Ide bagus tuh. Ya udah kita kasih tahu dokter teman kita aja."


"Ide bagus tuh!"


Sementara itu di tempat kerja Ozil, pemuda itu masih nampak ngobrol dengan rekan rekan kerjanya. Hari ini tidak ada tugas lapangan yang bisa Ozil kerjakan, jadi dia cukup membantu pekerajaan kantor saja. Di saat sedang seru serunya ngobrol, mereka kedatangan tamu yang membuat Ozil terperangah saat melihat wajah tamu tersebut. Ozil terdiam tak berkutik dengan hati yang berdebar lebih kencang.

__ADS_1


"Selamat datang di kantor kami," sapa Mbak Rini dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"


Tamu itu mengembangkan senyum manisnya. Senyum yang Ozil rindukan sejak beberapa hari ini. Mata Ozil bahkan terpaku pada sosok yang sedang tersenyum itu. "Aku ingin menemui seseorang yang ada di sini, apa boleh?" mendengar ucapan tamu itu, jantung Ozil langsung terpacu dengan kencang.


"Oh silakan, Nona. Anda mau menemui siapa?" ucap Mbak Rini lagi.


Wanita itu kembali tersenyum dan arah matanya langsung tertuju pada sosok yang paling muda di kantor tersebut. Ozil seketika menjadi salah tingkah sendiri karena bukan hanya tamu itu yang memandangnya. Semua mata yang ada di sana ikutan menatap ke arah Ozil.


"Oh, mau ketemu Ozil," celetuk Mas Erwin. "Ya ampun, Zil, diam diam kamu sudah punya cewek? Gila! mana cakep banget lagi. Tukeran mau nggak?" Ozil hanya cengengesan dan dia semakin salah tingkah dibuatnya.


"Saya adalah salah satu cewek yang ditolong oleh Ozil, Mas," ucapan sang tamu sontak membuat semua yang ada di sana langsung terperangah.


"Ozil, kamu kenapa bengong? Ini tamunya diajak ngobrol, bukan dianggurin," celetukan Mbak Rini semakin membuat Ozil gugup. Dia pun mendekat ke arah tamunya dengan perasaan yang sangat canggung.


"Mari Mbak, kita bicara di depan aja," ajak Ozil dengan segala rasa canggung yang bersarang dalam benaknya. Wanita itu pun mengangguk dengan senyum yang masih terkembang. Ozil mengajak tamunya duduk di taman samping yang memang rindang tempatnya.

__ADS_1


"Kamu sudah sehat, Mbak?" tanya Ozil lagi. Dia bahkan beberapa kali menggaruk badannya yang tidak gatal karena rasa canggung yang mulai menjalar.


"Mbak? Kamu manggil aku Mbak, Bang?" tamu itu malah terlihat santai menghadapi Ozil sampai membuat pemuda itu cengengesan.


"Aku pikir kamu lupa sama aku, Cem," ucap Ozil. "Eh nama asli kamu siapa sih? Aku lupa?"


Wanita yang sempat diberi nama Cempaka oleh Ozil kembali mengembangkan senyum manisnya. "Panggil Cempaka aja nggak apa apa kok, Bang. Itu kan nama kenangan aku dari kamu. Jujur, saat aku terbangun dari tidur panjang, aku memang sempat lupa sama kamu, Bang."


Kening Ozil sontak berkerut. "Emang kamu kapan sadarmya?"


"Tiga hari yang lalu, sekitar hari jum'at sore. Saat itu aku sama sekali tidak ingat sama kamu. Aku baru mengingat semua tentang kamu saat kemarin aku pulang. Aku diperlihatkan semua berita tentang kita. Di sana ada video kamu yang lagi siaran langsung. Dari situlah aku mengingat semuanya tentang kamu dan saat saat sulit aku."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya," ucap Ozil nampak begitu lega. "Lalu apa rencana kamu kedepannya?"


"Mungkin aku akan keluar negeri, Bang. Jujur, aku masih agak takut berada di negera ini. Apa lagi dokter Sakurata katanya masih buron, kan?" ucap Cempaka, dan Ozil pun mengagguk. "Tapi ada satu hal yang harus aku lakukan sebelum aku pergi, Bang."

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Ozil. Bukannya langsung menjawab, Cempaka malah menunjukkan senyum manisnya, membuat kening Ozil sampai berkerut karena tidak tahu arti dari senyum yang Cempaka tunjukkan.


...@@@@...


__ADS_2