
Berkat aksinya yang berhasil menguak kejahatan Mbah Wiro, nama Ozil saat ini sedang menjadi bahan perbincangan. Hampir berbagai lapisan masyarakat di berbagai tempat, Ozil menjadi topik hangat yang sering menjadi bahan pembicaraan. Dari kalangan rakyat biasa sampai ke ranah para pejabat. Apa lagi beberapa akun media, juga ikut ramai membahas tentang Ozil.
Keadaan seperti itu, tentu saja membawa perubahan yang besar pada kehidupan Ozil dan orang tuanya. Dari segi sosial, Ozil dianggap pahlawan karena aksi heroiknya. Dari segi rejeki, Ozil mendapat begitu banyak hadiah, bahkan bisa dikatakan Ozil mendadak kaya karena perbuatannya tersebut.
Dari satu nama wanita yang Ozil tolong, masing masing memberikan di atas seratus juta. belum lagi rasa terima kasih dari pemerintah dan aparat kepolisian serta beberapa pihak terkait yang jika dijumlahkan totalnya mencapai miliaran. Jumlah yang sangat cukup bagi Ozil untuk mewujudkan cita citanya. Belum lagi dari beberapa orang kaya lainnya yang sengaja menyumbangkan sejumlah uang mereka sebagai bentuk bangga pada Ozil.
Ozil juga sudah banyak menrima tawaran dari berbagai stasiuan televisi dan juga para vloger terkenal untuk diwawancari. Namun untuk yang satu itu, Ozil belum menyanggupi, karena saat ini dia masih sedang dalam masa pemulihan. Sudah tiga hari Ozil berada di rumah sakit, dan di ruangan tempat dia meginap selalu ramai dikunjungi para tamu dari berbagai kalangan.
Meski banyak orang yang Ozil temui, tapi pemuda itu justru merasa sepi dalam hatinya. Ozil merasa kehilangan dengan sosok para hantu yang sama sekali belum muncul di hadapannya. Meskipun Ozil sering mendapat kabar kalau keadaan jasad mereka saat ini semakin membaik, tapi ada sedikit rasa takut dalam benak Ozil, jika para hantu akan melupakannya.
"Udah siap?" suara seseorang yang baru saja datang ke ruangan Ozil, membuat pemuda yang sedikit melamun, langsung tersentak. Ada Mas Ari di sana, yang sedang melangkah mendekati brangkar Ozil.
"Sudah, Mas," jawab Ozil, lalu dia pun beranjak dari brangkarnya dan beranjak keluar dari ruang rawat bersama keluarganya untuk pulang dari rumah sakit. Hari ini Ozil memang dibolehkan untuk pulang karena keadaannya sudah sangat membaik.
__ADS_1
"Kamu nggak mau pulang ke kampung dulu, Zil, buat istirahat?" tanya Mas Ari, saat Ozil dan keluarganya sudah berada di dalam mobil. Untuk kesekian kalinya, Bosnya Ozil itu menawarkan agar Ozil mau kembali ke kampung untuk istirahat.
"Nggak lah, Mas," berkali kali juga Ozil memberi penolakan. "Di rumah juga nggak ngapai ngapain, Mas. Bosen."
"Ozil memang begitu, Mas," Bapak ikut berkomentar. "Anaknya nggak suka diam di rumah." MAs Ari yang pandangan matanya fokus ke arah jalanan lantas mengembangkan senyumnya.
"Makasih ya, Mas, sudah mau menerima Ozil bekerja di tempat Mas Ari," kini ibunya Ozil yang bersuara. "Padahal Ozil hanya lulusan sekolah rendah, Mas. Tapi malah dapat bos yang baik."
"Nggak perlu berterima kasih, Bu," ucap MAs Ari merasa sungkan. "Justru Ozil itu telah banyak membantu keluarga saya. Apa Ozil nggak cerita sama Ibu dan Bapak, atas apa yang telah dia lakukan pada keluarga saya?"
Mas Ari sontak tersenyum. "Ozil itu telah dua kali menolong keluarga saya, Bu. Pertama dia sudah menyelamatkan istri saya, terus dia juga juga menyelamatkan anak saya dari penculikan."
"Wahh, begitu?" seru bapaknya Ozil. "Kok kamu nggak cerita sama Bapak, Zil."
__ADS_1
"Ngapain cerita sih, Pak. Masa berbuat baik harus diceritakan. Ntar takutnya pamer," jawab Ozil dengan santainya.
"Bapak inih, kayak nggak tahu Ozil aja," sang Ibu menyela. "Anak kita kan memang tidak suka mengumbar hal kayak gituan."
"Iya, sih," jawab Bapak sambil mengedarkan pandangannya.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Zil? Nama kamu lagi viral viralnya loh. Apa kamu akan menanggapi undangan acara stasiun televisi dan yang lainnya itu," tanya Mas Ari lagi pada pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Nggak tahu, Mas, aku bingung," jawab Ozil yang pandangan matanya juga lurus ke depan. "Aku nggak mau aja nanti pekerjaannya terganggu. Apa lagi jika terkenal, aku takut jadi manusia sombong."
"Hahaha ... bisa aja kamu, Zil," seru Mas Ari. "Tapi berkat kamu juga nama perusahaan ikut terkenal loh, Zil. Bahkan Mbak Anin dan yang lainnya hampir kewalahan menerima job. Kalau kamu mau menerima undangan televisi, ya kamu atur aja waktunya kapan yang tidak menganggu pekerjakaan kamu."
"Beres, Mas. Itu juga yang aku pikirkan," ucap Ozil, dan mereka yang ada di dalam mobil masih melanjutkan obrolannya selama dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
...@@@@@...