
"Bang Ozil kemana ya?" tanya salah satu hantu saat mendatangi kamar yang digunakan Ozil untuk istirahat. Hantu wanita itu baru saja muncul tapi dia terlihat heran karena kamar yang dia datangi kosong, tidak ada penghuninya. Hantu itu tidak datang sendiri. Seperti biasa, dia datang bersama hantu lainnya.
"Apa Ozil sama Seruni lagi cari makan?" tanya hantu yang diberi nama Melati. Dia juga merasa heran dengan keadaan kamar yang kosong itu.
"Mana mungkin," bantah hantu Cempaka. "Ini udah jam berapa, mana mungkin Ozil sama Seruni kelur makan jam segini."
"Yah, gara gara asyik lihatian cowok mandi, kita jadi ketinggalan berita," sesal Anggrek. "Coba kalau tadi kita nggak pergi, mungkin kita bakalan tahu Ozil pergi kemana."
"Ya gimana lagi, kita kan juga butuh hiburan," balas Mawar. "Apa lagi tadi para penjahat tidak menunjukkan gelagat mencurigakan, bukan?"
"Iya sih," sahut Angrek lagi. "Lagian itu penjahat ngapain ada di depan gerbang? Apa mereka tahu kalau target mereka ada di sini?"
"Ya mana kita tahu, kita kan tadi pergi bareng, Nggrek," seru Lili.
"Hahaha ... iya yah," Anggrek malah jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Ya udah, sambil nungguin Bang Ozil sama Seruni pulang, kita awasi aja para penjahat, gimana?" usul Cempaka. Sudah pasti kempat hantu laiannya sangat setuju. Kelima hantu itu pun segera menghilang untuk mengawasi gerak gerak penjahat.
Sementara itu, masih di malam yang sama tapi di tempat yang berbeda.
"Tok! Tok! Tok! Terdengar sebuah pintu diketuk.
"Siapa?" sahut seseroang dari dalam rumah yang pintunya baru saja diketuk. Bukannya mendapat jawaban, orang itu kembali mendengar suara ketukan pintu. Orang itu pun mendengus. Mau tidak mau, dia segera bangkit untuk membukakan pintu. "Siapa sih, malam malam begini bertamu?" gerutunya dengan kesal.
Orang itu segera saja beranjak dan membuka pintu. Namun setelah pintunya terbuka, orang itu sontak membelalakan matanya saat melihat orang yang menjadi tamunya, saat waktu sudah cukup malam.
"Ozil!" Sang tamu pun langsung tersenyum saaat pintu terbuka dan namanya disebut oleh sang tuan rumah. "Kamu ngapain malam malam kesini?"
"Ya nggak juga sih, sini masuk," ajak tuan rumah yang ternyata seorang wanita. Ozil pun melangkah masuk mengikuti wanita itu.
Ozil sempat tertegun saat memperhatikan wanita yang bekerja di kantor yang sama dengan Ozil. Pakaian yang dikenakan wanita berstatus janda itu, hampir sama dengan baju tidur yang dipakai Seruni. Baju itu sangat pendek dengan kain yang tipis menerawang. Di tambah lagi wanita itu tidak memakai apa apa lagi di balik bajunya, hingga Ozil bisa melihat yang indah indah milik wanita itu.
__ADS_1
Jika Ozil terbiasa tidur hanya menggunakan celana kolor, mungkin wanita bernama Mbak Rini itu juga terbiasa tidur hanya menggunakan baju tidur yang tipis, tanpa menggunkan apa apa lagi untuk menutupi bukit kembar dan juga lubang nikmatnya. Sepertinya wanita itu tidak sadar dengan apa yang dia pakai saat ini.
"Kamu sengaja kesini malam malam apa gimana, Zil?" tanya Mbak Rini sambil melangkah menuju kulkas dan mengambil minuman kaleng setelah mempersilakan Ozil duduk.
"Habis dari kontrakan temen satu kampung, Mbak. Karena kebetulan satu arah ya aku mampir. Aku pikir belum terlalu malam jadi ya sekalian aja, Mbak," jawab Ozil yang sesekali matanya melirik ke arah lain yang ada di dalam baju Mbak Rini. "Ternyata benar ya, Mbak, daerah rumah Mbak Rini sepi. Tadi aja aku takut nyasar."
Senyum Mbak Rini sontak terkembang. "Resiiko punya rumah pinggir jalan ya gitu, Zil, ada untung ruginya. Kalau siang juga disekitar sini sepi. Tapi kalau udah masuk ke gang di belakang sana, rame, Zil."
"Tapi kok kamu berani, Mbak. tinggal disini sendirian," tanya Ozil lagi.
"Ya mau gimana lagi, mau pindah ya percuma. Udah punya rumah sendiri itu udah termasuk bangga loh, Zil."
"Heheheh ... benar juga ya, Mbak," jawab Ozil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi kamu udah mau tidur apa, Mbak? Sebelum aku datang?"
"Ya belum sih. Aku lagi ... astaga!" Mbak Rini yang awalnya terlihat santai tiba tiba terkesiap dengan wajah yang terlihat terkejut. Dia sontak memandang tubuhnya sendiri dan seketika Mbak Rini langsung ternganga. "Astaga, pakaianku!" pekik wanita itu, dengan cepat dia menutup benda pentingnya. "Sorry, Zil aku lupa!" Mbak Rini langsung bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
Ozil hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan dimana dirinya berada, dan kening Ozil berkerut saat melihat sesuatu di atas meja kerja Mbak Rini. Karena penasaran, Ozil perlahan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati meja kerja. Mata Ozil seketika membelalak begitu tahu dengan jelas benda yang tergeletak di atas laptop yang menyala.
...@@@@@...