HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Menghadapi Penjahat


__ADS_3

Sementara itu, di dalam sebuah gedung, ternyata dua orang itu ada rekan yang lain. Bahkan salah satunya adalah wanita. Mereka nampak sangat senang karena kembali mendapat satu korban yaitu anak seorang bos lagi. Mereka kini sedang berkumpul dalam satu ruang, sedangkan anak anak korban penculikan ada di ruang lain dalam kondisi tertidur.


"Sepertinya kali ini kita akan dapat uang yang banyak," ucap salah satu penjahat yang baru saja mndudukan pantatnya di atas kursi.


"Emamg kenapa?" tanya satu satunya wanita yang saat itu sedang mempersiapkan makanan untuk anak anak tapi nampak di campur sesuatu.


"Anak yang baru datang, sepeertinya dia anak orang kaya. rumahnya tadi gede banget," jawab si penculik yang memakai topi hitam.


"Pasti itu anak orang kaya," rekannya yang memakai kaus salur menimpali dengan antusias. "Aku kan sudah memantau rumah itu berkali kali. Makanya aku usul kita bergerak tadi. Karena memang rumahnya tidak ada penjaganya."


"Tapi kan tadi ada orang lain di rumsh itu? Dan sepertinya dia sempat mengikuti kita," balas penhata bertopi.


"Hahaha ... dia pasti udah kehilangan jejak kita. Kan kamu tadi lihat sendiri, motornya kagak ada," ucap penjahat pemakai kaus salur.


"Iya sih, untungnya pas di jalan raya, aku bawa mobilnya agak kenceng." bersamaan pria bertopi hitam mengehntikan suaranya, ke empat orang itu terlonjak kaget dengan suara keras yang ada di sekitar mereka.


Brak!

__ADS_1


Gebrakan pintu yang cukup keras, membuat pintu itu langsung terbuka hanya dalam sekali tendang. gerombolan penculik itu sampai terlonjak karena kaget, lalu mereka serentak menoleh ke arah pintu, dimana pintu memang ada di dekat mereka semua. Seseorang muncul dengan langkah tegapnya membuat dua orang dari gerombaln penculik langsung membellakan matanya.


"Bukankah dia orang yang mengikuti kita?" seru pria bertopi. "Bagaimana dia tahu kita ada di sini?"


"Udah, hadapi saja, sepertinya dia sendirian," ucap pria bertato yang tadi tidak ikut dalam penculikan. Pira itu lantas menatap wanita yang ada di sana, dan memberi kode. Wanita itu mengangguk, lalu dia pergi menaiki tangga dimana ada ruang penyekapan anak anak.


"Akhh!" tiba tiba wanita itu berteriak dengan kencang saat memasuki ruangan anak anak. Sontak saja ketiga penjahat langsung mendongak begitu mendengar teriakan wanita itu. Sedangkan pria tegap yang baru saja datang, menyeringai, karena tahu apa yang terjadi di atas.


"Ada apa?" tanya pria bertato dengan suara lantang.


"Akhh!" wanita itu kembali berteriak.


"Beres, bos."


Pria bertato langsung saja menyusul rekannya dan dia tercengang karena rekan wanitanya nampak terduduk di lantai menataap pintu kamar dengn wajah pucat dan ketakutan. Pria itu langsung mendekat. "Ada apa?"


"Ada setan," wanita itu menjawab dengan tergagap.

__ADS_1


"Setan? Mana ada siang siang begini ada setan?" pria bertato mengedarkan pandangannya.


"Tadi di atas ranjang ada setan tanpa kepala, lalu di depan lemari ada tangan yang bergerak ke arahku," suara wanita itu sampai terbata.


"Mungkin kamu kelelahan, udah, biar aku yang tangani. Kamu ke bawah bantu mereka." pria bertato itu berdiri, sedangkan si wanita segera saja pergi.


Pria bertato masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan dan mata yang memperhatikan sekitar. Matanya menatap enam bocah yang terlelap karena pengaruh obat bius. Tangannya bergerak hendak meraih bocah yang berada di dekatnya. Namun saat tangannya udah dekat, pria itu tertegun dengan mata yang hampir tidak berkedip. Bocah yang hendak dia angkat, saat itu juga bergeser sendiri menjauh dari tangannya.


"Aku nggak salah lihat kan?" gumam pria itu. Karena merasa yakin kalau itu hanya ilusi, pria itu kembali mencoba hendak mengangkat bocah yang lain. Lagi lagi dia dibuat tertegun karena bocah itu bergerak menjauh. Tak pantang penyerah, dia mencoba lagi dan untuk ketiga kalinya dia mengalami hal yang sama. Tatapan terkejut sekaligus waspada langsung dia layangkan ke ruangan itu sambildia bergerak mundur menuju pintu.


Brak!


Pintu kamar langsung tertutup, dan pria itu terlonjak kager. Dia berbalik badan dan tanganntya terulur meraih gagang pintu. "Apa! Kenapa ini susah!" pria itu tidak bisa membuka pintu. Di saat itu juga pria itu dikejutkan dengan tubuh enam bocah yang perlahan terangkat dan melayang ke udara sampai pria itu ternganga.


"Lepaskan aku, Om. lepaskan aku Om. lepaskan aku."


Wajah pria itu langsung pucat sampai dia terduduk ketakutan. "Tidak, tidak! Tidak!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2