
"Kamu lagi ngapain, Zil?" tanya Mbak Rini saat melihat Ozil berdiri di dekat meja kerjanya. Wanita itu nampaknya sudah berganti pakaian dengan memakai daster. Mbak Rini pun mendekat. Belum hilang rasa malunya dengan kejadian tentang baju, kini wanita itu kembali dikejutkan dengan apa yang sedang dilihat Ozil. "Astaga!" Dengan gerakan cepat, Mbak Rini langsung mengambil benda yang tergeletak di atas laptop dan mematikan laptopnya juga.
Ozil pun tak kuasa menahan senyumnya melihat tingkah Mbak Rini yang salah tingkah. Ozil tahu, wanita itu pasti sangat malu. "Nggak usah malu, Mbak, aku bisa jaga rahasia kok," ucap Ozil sambil cengengesan lalu dia kembali duduk.
"Ya tetap malu lah, Zil," seru Mbak Rini yang tadi sempat ke kamar untuk meletakan benda yang bentuknya sama dengan isi celana pria dan juga laptop yang tadi menayangkan film dewasa.
"Berarti tadi kamu lagi main sendiri sama alat itu, Mbak?" karena penasaran, Ozil pun melempar pertanyaan tentang sesuatu yang bisa membuat Mbak Rini semakin malu. "Apa nggak sakit dimasukin benda tiruan kayak gitu? Apa lagi, itu tadi kayak ada duri durinya."
Wanita yang sekarang sudah duduk di depan Ozil hanya bisa mendengus. Sudah ketahuan, mau mengelak pun percuma. "Ya nggak lah, itu kan lentur dan elastis. Itu tadi juga bisa bergerak, jadi ya nggak sakit dan bahaya."
"Aku boleh lihat nggak, Mbak? Pengin tahu kayak apa gerakannya," Ozil malah penasaran.
"Jangan lah," tolak Mbak Rini dengan tegas.
"Ya kan selagi aku main di sini, Mbak? Aku tuh dari dulu penasaran dengan alat alat seperti itu. Cuma bisa nonton dalam video doang."
"Jangan lah, Zil," tolak Mbak Rini lagi. Tapi kali ini suaranya lebih lembut.
__ADS_1
"Ya udah," Ozil pun pasrah, dan seketika suasana menjadi hening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka.
Mbak Rini sesekali menatap Ozil yang sedang mengecek ponselnya. Kemarin kemarin, wanita itu meminta Ozil agar mau main ke rumahnya, tapi sekarang dia malah bingung saat Ozil sudah ada di depan mata. Mbak Rini pun bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Ozil tertegun saat wanita itu masuk kamar, lalu tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa benda yang tadi dia ingin lihat.
"Nih," Mbak Rini menyerahkan benda itu kepada Ozil. "Ini colokannya masukin aja ke sebelah kursi sebelah kamu."
Ozil pun langsung tersenyum dan dia menerima benda yang bentuknya sangat mirip dengan isi celananya, lalu dia mencolokan benda itu sesuai anjuran pemiliknya. "Ah iya, benar, busa bergerak, Mbak," seru Ozil dengan wajah yang berbinar. Jelas sekali kalau OZil merasa kagum dengan benda yang dia pegang.
"Kamu baru lihat benda seperti itu atau gimana, Zil?" tanya Mbak Rini heran dengan sikap Ozil saat ini.
"Kalau melihat sih pernah, tapi kalau memegang seperti ini ya belum," jawab Ozil jujur dan hal itu membuat senyum Mbak Rini terkembang.
"Kayaknya sih lebih gede ini, Mbak," jawab Ozil dengan suara tiba tiba agak gugup. Meski begiitu, Ozil tahu akan kemana arah pembicaraan ini.
"Apa aku boleh lihat?" Mbak Rini kembali melempar pertanyaaan yang membuat dugaan Ozil benar.
Sejenak Ozil tediam dan berpikir, lalu matanya membalas tatapan wanita yang sedang menunggu jawaban dari Ozil. "Kalau kamu mau lihat punyaku, maka aku boleh dong lihat ini masuk ke dalam milik kamu, Mbak."
__ADS_1
Mata Rini sontak melebar. "Kenapa begitu?"
"Ya aku penasaran aja, Mbak."
"Tapi masa dimasukin dilubang aku, di hadapan kamu, Zil?" protes Mbak Rini.
"Ya kan biar adil, Mbak. Kamu bisa melihat isi celanaku, masa aku nggak bisa?"
Mbak Rini sontak terdiam. Mbak Rini juga sedang memikirkan -penawaran yang Ozil berikan. "Baiklah. Tapi aku duluan yang lihat punya kamu ya?" Ozil tentu saja tidak menolak. Malah pemuda itu memberi perintah agar Mbak Rini sendiri yang melepaskan celana Ozil. Mata janda itu langsung berbinar begitu celana Ozil sudah dia buka. "Gede banget Zil? Sama kayak benda itu."
Senyum Ozil langsung terkembang. Dia pun membiarkan janda itu memegang miliknya yang sudah sangat menegang. Padahal tadi sore sampai petang, OZil baru saja bermain dengan Seruni. Kemungkinan malam ini dia akan bermain lagi dengan janda yang sedang menatap batangnya dengan penuh kekaguman dan memainkanya juga dengan tangan.
"Sekarang, coba dong, Mbak, ini alatnya dimasukin," ucap Ozil sambil menunjukan isi celana palsu.
Mbak Rini lantas tersenyum. "Kamu yang masukin tapi ya?" dengan antusias, Ozil mengangguk.
Sungguh diluar dugaan Ozil, ternyata Mbak Rini hanya berhanti daster saja. Saat daster itu diangkat, Mbak Rini tidak memakai apa apa lagi dan dia dengan suka rela langsung duduk bersandar di kursi yang sama dengan Ozil dan membentangkan kedua kakinya. "Mainkan sekarang, Zil."
__ADS_1
Dengan senang hati, Ozil menurutinya.
...@@@@@...