HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Kepergok


__ADS_3

Sementara itu di kamar Ozil.


"Kok kayak masih kenyal banget ya? Agak keras gitu?" tanya seorang pemuda begitu jari jarinya memencet mencet bukit kembar milik seorang wanita yang berbaring bersamanya. Ini adalah untuk pertama kalinya pemuda itu memegang bukit kembar milik wanita secara nyata, bukan hanya khayalan semata.


"Ya wajar lah, orang ini juga pertama kalinya punyaku dipegang oleh tangan cowok," balas si wanita yang nampak pasrah saat kedua bukit kembarnya di keluarkan dari kain yang menjeratnya. Namun ucapan wanita itu cukup membuat sia pria yang akrab dipanggil Ozil seketikq terkejut.


"Hah! Kamu serius?' seru Ozil dengan mata langsung manatap wanita di sisinya. Wanita yang lebih akrab dipanggil Seruni itu nampak mengangguk meyakinkan. "Terus pacar kamu nggak pernah gitu pengin mainin?"


"Dulu ya dia sering minta, tapi aku menolaknya. Aku pikir dia mau menunggu, bertahan sampai nikah. Eh nggak tahunya, dia memilih tubuh wanita lain untuk dia cicipi. Mana aku yang disalahkan lagi."


"Disalahkan? Di salahkan bagaimana?" tanya Ozil dengan jari tangan yang terus bergerak memaiankan dua bukit kembar itu.


"Gara gara aku nggak mau melayani dia diatas ranjang, jadi dia mencari selingkuhan."


"Astaga!" pekik Ozil. "Terus ini, punya kamu dipegang oleh aku, tapi kok kamu malah ngijinin?"


Seruni tidak langsung menjawab, dia mengangkat kepalanya dan bergerak maju lalu menempelkan bibirnya pada bibir Ozil. Dengan senang hati, Ozil pun menyambutnya. Tidak seperti malam kemarin, Ozil hanya terdiam ketika mendapat serangan bibir. Kali ini Ozil bisa mengimnbangi gerakan bibir Seruni dengan handal.

__ADS_1


Setelah selesai perang bibir, Seruni kembali merebahkan kepalanya di atas bantal sedangkan Ozil senyum senyum dengan tangan masih menikmati dua benda kenyal. "Kalau jadi cewek baik masih dikhianati, bukankah lebih baik jadi cewek brengsek sekalian? Ya walaupun entah nanti lubangku akan aku serahkan kepada siapa, tapi percuma aku bertahan jadi cewek baik baik."


"Semoga saja sih, lubang nikmat kamu, aku yang pertama memasukinya, hehehe ..." sahut Ozil sambil cengengesan. keduanya lantas saling melempar senyum. Namun di saat Ozil sedang asyik dengan kegiatan enaknya, tiba tia telinganya menangkap suara yang sangat dia kenali.


"Bang, ada berita penting, ayo keluar!" karena lagi asyik, Ozil pura pura tidak mendengarnya dan dia terus memainkan bukit kembar Seruni.


"Bang, ayo kita keluar!" ajak salah satu hantu. "Kalau nggak mau, aku gangguin Seruni loh."


Mendengar ancaman yang keluar dari mulut hantu, senyum Ozil langsung surut dan wajahnya berubah menjadi kesal. Mau tidak mau Ozil menghentikan kegiatannya pada Seruni dan dia pamit dengan alasan lupa harus memberi kabar kepada orang tuanya. Ozil pamit keluar kamar sebentar.


"Ada apaan sih? Senangnya kok datang di saat yang tidak tepat?' sungut Ozil begitu dia sudah berada di taman samping bersama para hantu.


"Iya nih, Bang Ozil. Kalau bukan kami yang membawa Seruni kesini juga, Abang nggak bakalan bisa kayak gitu," Mawar ikut menimpali.


"Iya iya, maaf," Ozil memilih mengalah daripada nanti dia dikroyok, bisa panjang urusannya kalau para hantu marah. "Ada Informasi apa?"


"Gini, Bang, sepertinya Seruni udah ketahuan, kalau dia berada di sini," ucap Cempaka.

__ADS_1


"Apa! ketahuan!" pekik Ozil.


"Iya, sepertinya Seruni tadi ketahuan," sahut Lili. "Tadi, orang orang yang yang menculik Seruni ada disekitaran komplek ini."


"Hah! Kalian serius?" seru Ozil.


"Seruis lah, Bang," jawab Melati. "Mungkin penculik itu tidak tahu kalau Seruni tinggal di gedung ini, tapi kan kayaknya dia tahu kalau Seruni tinggal di daerah sini."


Ozil nampak mengangguk sambil mencerna ucapan kelima hantu. "Tadi siang, memang Seruni ketahuan oleh si penculik saat dia lagi di Mall."


"Hah! Kok bisa ketahuan, bang?" tanya Melati dan pertanyaan itu mewakili hantu lainnya yang sama sama terkejut. Ozil lantas menceritakan semua yang dia ketahui secara jelas.


"Owalah, jangan jangan, mereka tahu dari taksi yang digunakan Seruni dan taksi itu tidak sampai masuk ke sini. Jadi para penjahat tidak tahu tepatnya Seruni berada dimana sekarang," seru Anggrek. Sepertnya semua nampak sependapat dengan kessimpulan yang Anggrek katakan.


"Jadi kita harus bagaimana ini?" tanya Ozil.


"Paling nggak, Abang harus ngomong sama Seruni agar dia lebih berhati hati. Soalnya ada kemungkinan, para penjahat itu akan kembali lagi ke komplek ini."

__ADS_1


Ozil lantas mengiyakan dan mereka melanjutkan obrolan mereka, tanpa Ozil sadari ada mata yang tercengang saat menyaksikan Ozil berbicara sendirian. "Bang Ozil ngobrol sama siapa? Kok ponselnya masih dipegang gitu?"


...@@@@@@...


__ADS_2