
Nyaman, itulah yang Ozil rasakan saat ini. Pijatan dari wanita yang Ozil sendiri tidak tahu namanya, membuat pria itu bisa lebih santai sembari menikmati tekanan demi tekanan di setiap inci tubuhnya. Obrolan yang terjalin diantara keduanya, menambah suasana akrab dari dua orang yang baru saja bertemu beberapa puluh menit yang lalu.
"Sekarang, Mas Ozil telentang ya?" titah si tukang pijat. Meski canggung, mau tidak mau, Ozil harus menurutinya. Ozil memutar tubuhnya dan kini dia menghadap langit langit kamar dengan mata yang terpejam. Kembali sentuhan nyaman Ozil rasakan saat jari jari kakinya mendapat pijatan. Pijatan wanita itu benar benar pijatan orang yang sudah sangat terlalih dan Ozil bisa merasakan nikmatnya.
Namun hingga beberapa menit berjalan, rasa nyaman yang Ozil rasakan mendadak berubah. Ozil kembali dibuat resah, saat merasakan jari jari tukang pijat mulai menyentuh dua pahanya. Ozil juga sangat merasakan jari wanita itu menyentuh benda dibalik sarung yang sudah sangat menegang sedari tadi.
"Punya kamu sudah tegang banget, Mas," ucap si tukang pijat. Meski dia tidak menyentuh secara sengaja, tapi wanita itu sangat tahu kalau milik Ozil sudah menegang dengan gagah. "Aku pijat sekalian ya, Mas?"
Ozil malah tergagap. "Janganlah, Mbak. Malu aku," jawab Ozil yang saat itu sudah menutup wajahnya dengan tangan.
"Malu kenapa? Nggak ada yang lihat ini. Lagian kan cuma pijat, Mas, agar punya kamu semakin kuat dan tahan lama. Jika nanti kamu dapat jodoh, istri kamu bakalan puas dibuatnya, Mas."
"Terserah Mbak aja deh enaknya gimana," Ozil akhirnya pasrah. Mendengar ucapan si tukang pijat, Ozil jadi tergoda. Sebagai laki laki, Ozil juga ingin memiliki senjata yang kuat dan tahan lama.
__ADS_1
Si tukang pijat langsung tersenyum. Dia mengeluarkan tangannya dari dalam kain yang menutupi batang Ozil dan meneteskan minyak yang dia bawa ke telapak tangannya, mengusapnya, lalu tangan si tukang pijat kembali masuk ke dalam kain. Tubuh Ozil bahkan sampai menegang saat dia merasakan tangan si tukang pijat menggengam batangnya.
"Bulunya lebat banget ya, Mas," ucap si tukang pijat sambil memijat batang Ozil dengan lembut dan pelan serta naik turun. "Nggak perah dicukur apa?"
"Jarang, Mbak. Nggak suka gundul. Kalau cukur paling tipis tipis aja," jawab Ozil dengan perasaan yang tidak karuan. Wajar jika Ozil sangat tidak tenang, karena ini adalah pertama kalinya punya Ozil dipegang lawan kenis dalam bentuk manusia.
"Ya memang lebih bagus sih kalau lebat, kelihatan gagah gitu," tukang pijat menimpali. "Bulu ketiak juga kalau bisa jangan sampai dipotong, Mas."
"Kenapa, Mbak?" tanya Ozil dengan mata terpejam, menikmati pijatan pada batangnya.
"Banyak loh, cewek yang suka sama bulu ketiak. Apa lagi badan kamu sangat bagus, Mas. Jadi semakin terlihat seksi sempurna dengan bulu ketiak yang tebal itu."
Kali ini Ozil hanya membalasnya dengan senyuman. Dia bingung mau ngomong apa lagi. Pijatan wanita itu pada batangnya benar benar membuat Ozil merasa keenakan. Senyum si tukang pijjat juga merekah. Wanita itu merasakan batang Ozil saat ini berkedut. Dia yakin sebentar lagi akan ada yang keluar. Si tukang pijat mempercapat sedikit gerakan tangannya seperti sedang mengocok botol.
__ADS_1
"Akhh~" suara kenikmatan Ozil keluar dengan kaki yang mengejang bersamaan semburan air hangat yang kini memeleh di tangan si tukang pihat.
"Yah! Kok muncrat!" seru wanita itu sembari senyum senyum.
"Maaf, Mbak. Udah nggak tahan," jawab Ozil sambil cengengesan menahan malu. Si tukang pijat hanya geleng geleng kepala tapi tangannya masih bergerak menuntaskan benih Ozil yang keluar. Wanita itu membuka sarung yang menutupi batang Ozil.
"Banyak banget keluarnya, Mas. Sehat ini, kental banget," Ozil lagi lagi hanya cengengesan. "Ini sarungnya buat bersihin cairan kamu ya? Aku udah lihat punya kamu ini, jadi kamu jangan malu kalau nggak ditutupin."
"Terserah Mbak aja enaknya gimana," Ozil benar benar pasrah. Kali ini dia benar benar memberanikan diri menatap si tukang pijat yang sedang memegangi batangnya tanpa ragu sambil membersihkan benih yang bertebaran. Setelah dirasa cukup bersih, si tukang pijat minta ijin ke toilet sebentar untuk cuci tangan karena habis megang benihnya Ozil.
"Sekarang tinggal perut dan dada," ucap tukang pijat sambil duduk di sebelah kanan ozil yang terbaring. Mata keduanya kadang saling tatap dan mereka juga saling tersenyum. sebenarnya Ozil agak malu saat ini karena dia benar benar polosan tanpa ada kain yang menutupi tubuhnya.
"Mbak, Mbak udah menikah apa?" tanya Ozil basa basi, agar tidak terlalu teganng dan grogi.
__ADS_1
Si tukang pijat lantas tersenyum. "Aku janda, Mas."
...@@@@@...