
Mendengar cerita dari para wanita tentang rencana masa depan mereka masing masing, seketika membuat Ozil tiba tiba menjadi pendiam. Entah kenapa Ozil seperti tidak rela mendengar rencana mereka semua. Dulu, saat kelima wanita yang saat ini bersama Ozil, pernah membahas hal ini, Ozil merasa tidak apa apa dan yakin dia bisa menerima keputusan mereka tanpa beban. Namun kenyataannya, Ozil seperti tidak rela berpisah dari mereka.
Di hadapan para wanita itu, Ozil memang memperlihatkan dukungannya dengan antusias. Namun di lubuk hati yang paling dalam, Ozil benar benar seperti orang munafik. Dia malah berharap kelima wanita cantik yang ada bersamanya saat ini kembali menjadi hantu dan akan selalu menemaninya. Hal jahat seperti itu sempat terbesit dalam benak Ozil beberapa waktu lalu.
"Oh iya, Sakura dan Seruni gimana? Apa mereka sudah sadar, Bang?" tanya Anggrek kepada pria yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sudah," jawab Ozil yang tadi sempat sedikit kaget saat dilempar pertanyaan karena hati dan pikirannya sedng berkelana ke arah yang berbeda. "Seruni kemungkinan akan berangkat keluar negeri juga, kalau Sakura beluum berani keluar rumah, dia masih truma."
"Ya syukurlah, akhirnya kita bisa terbebas semua dari Sakurata. Berarti sebentar lagi, kamu akan disibukan dengan persidangan kasus kita ya, Bang?" tanya Melati, dan Ozil hanya mengangguk sembari tersenyum tanggung. "Abang jangan takut, kita semua juga akan menjadi saksi kok."
"Takut sih enggak, cuma ya mungkin waktunya akan banyak yaang tersisa. Bikin males," jawab Ozil dengan suara yang lebih lirih. Terlihat sekali kalau dia sangat tidak semangat jika berhubungan dengan persidangan.
Kelima wanita yang di sana pun mengembaangkan senyum dan mereka juga setuju dengan apa yang Ozil ucapkan. Kelimanya merasakan hal yang sama persis dengan apa yang Ozil rasakan saat ini. Hingga beberapa jam kemudian, karena waktu yang sudah tdak memungkinkan untuk bersama, akhirnya Ozil harus merelakan kelima wanita itu kembali ke rumahnya masing masing.
Sekarang Ozil diliputi rasa sepi. Waktu kebersamaannya dengan kelima wanita itu benar benar semakin berkurang banyak, tidak seperti saat mereka masih menjadi hantu. Mata Ozil menatap barang barang pemberian para wanita. Selain makanan, mereka juga membelikan barang barang untuk Ozil. Barang barang bermerk yang pastinya harganya tidak murah.
__ADS_1
Harusnya Ozil senang mendapat barang barang seperti itu. Tapi raut wajah Ozil mempertegas suasana hatinya kalau dia merasa kehilangan kelima wanita itu. Meskipun mereka masih bisa berhubungan melalui ponsel, tapi rasanya tetap berbeda. Ozil bangkit dari duduknya dan melangkah menuju brangkar, dimana wanita yang dia tolong, masih memejamkan matanya. Ozil termenung di sana untuk beberapa saat.
"Apa dia sudah sadar?" sebuah suara tiba tiba terdengar di telinga Ozil membuat pemuda yang sedang termenung, sedikit tersentak saat mendengar suara tersebut. Seketika Ozil langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dan senyumnya terkembang saat Ozil tahu siapa yang datang.
"Belum, Mas, tapi kata Dokter, kondisinya semakin membaik," jawab Ozil sambil melangkah dan mengajak bosnya duduk di sofa. Mas Ari tidak datang sendiri. "Mbak Anin ikut kesini, terus anak anak sama siapa, Mbak?"
"Sama Mamah, Zil," jawab Mbak Anin, dan Ozil pun mengangguk diirngi dengan kata oh yang cukup panjang. "Kamu jaga wanita itu sendirian, Zil?"
Ozil kembali mengangguk. "Iya, Mbak."
"Nggak tahu, Mbak. Dokter Sakurata nggak ngasih tahu siapa keluarga wanita itu," jawaban Ozil cukup membuat sepasang suami istri itu cukup terkejut.
"Astaga! Kok Dokter bisa kayak gitu sih perbuataannya?" Mbak Anin terlihat kesal. "Harusnya orang orang seperti itu dirujak sekalian, biar kapok." Ozil dan Mas Ari malah tersenyum cukup lebar begitu mendengar kata yang diucapkan oleh Mbak Anin.
"Ya udah, Zil. Untuk sementara, kamu saya liburkan lebih lama ya?" ucap Mas Ari, dan apa yang dikatakannya cukup membuat Ozil terkejut.
__ADS_1
"Diliburkan lebih lama? Maksud Mas Ari, aku dipecat?" tanya Ozil.
"Tidak," bantah sang bos. "Kamu saya liburkan sampai urusan kamu dengan wanita itu selesai. Kamu nggak perlu khawatir. Untuk sementara tugas beres beres dan yang lainnya, aku limpahan ke istrinya Pak Satpam. Kebetulan dia lagi libur jualan karena lapaknya lagi dibenerin."
"Oh ... kirain," ucap Ozil terlihat lega. Di saat bersamaan, masuklah seroang aparat ke ruangan dimana Ozil saat ini berada. Kedatangan aparat itu disambut ramah oleh Ozil dan sepasang suami istri yang ada di sana.
"Sepertinya korban belum sadarkan diri ya?" tanya aparat setelah dia memandang ke arah brangkar.
"Belum, Pak, tapi keadaannya sudah semakin baik," jawab ozil. "Gimana, Pak? Apa ada informasi penting?"
"Ya, ada yang mau saya sampaikan," jawab sang aparat. "Berdasarkan pengakuan tersangka utama, korban itu dijual oleh keluarganya."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1