
"Seruni! Kamu lagi ngapain?" seru ozil dengan mata terbuka lebar, tak lama setelah dia membuka pintu kamarnya. Seruni yang ada di sana juga terkejut begitu mendengar suara Ozil. Saat Seruni mendongak, sudah ada Ozil di dekat pintu, Seruni seketika merapatkan kedua pahanya dan langsung meraih bantal untuk menutupi kedua paha yang nampak sangat menggiurkan itu.
Begitu wajah terkejutnya menghilang, Ozil lantas tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam. "Ngapain ditutupin? Orang aku udah lihat."
Wajah Seruni bersemu merah dan dia tidak berani menatap Ozil karena sangat malu. "Kalau mau masuk kamar, ketuk pintu dulu napa, Bang?" protes Seruni.
Ozil yang sudah duduk dilantai sambil membuka kancing baju yang dia pakai langsung tersenyum lebar. "Ini kan kamar aku, dan aku biasa masuk begitu saja. Lagian kenapa tadi nggak dikunci? Kalau dikunci kan nggak bakal ada yang tahu kamu lagi masukin jari kamu ke lubang enak kamu."
"Siapa yang masukin jari? Sok tahu!" sungut Seruni dengan tatapan terlihat kesal menatap Ozil yang sedang cengengesan.
"Lah tadi yang aku lihat apaan? Orang jelas banget jari tengah kamu masuk kok," Ozil tak mau kalah.
"Nggak masuk, Bang, cuma usap usap doang dekat celah. Lagian kalau masuk nanti segel aku jebol, enak aja kalau ngomong," Seruni pun tidak mau kalah dalam memberi bantahan.
"Nggak mungkin!" Ozil masih tetap ngeyel. "Orang jelas jelas tadi aku lihat. Coba buktiin kalau cuma diluar doang jarinya?"
"Enak aja!" hardik Seruni. "Bilang aja kamu mau lihat punyaku. Pakai alasan minta bukti segala."
__ADS_1
"Hahaha ..." Ozil malah terbahak.Nyatanya dia ingin melihat lubang nikmat milik Seruni. "Ya nggak apa apa kan kalau aku pengin lihat? Lagian kamu kan udah sering lihat punya aku, masa aku nggak boleh lihat punya kamu, nggak adil!" Seruni sontak mencebikkan bibirnya.
"Ayo dong, Run? Aku lihat punya kamu, sebentar aja? Rengek Ozil.
Awalnya Seruni tidak peduli, tapi rengekan Ozil yang terus meminta membuat Seruni dilema. Wanita itu lantas mencebikkan bibirnya, lalu dia diam sejenak. Batinnya seketika bergejolak, timbul rasa iba dengan rengekan yang keluar dari mulut Ozil. "Tapi lihat sebentar aja ya?" akhirnya Seruni mengijinkan Ozil untuk melihatnya. Senyum Ozil langsung tersenyum lebar dan matanya berbinar saat Seruni kembali membentangkan kedua kakinya.
"Lah, kok cepat banget!" protes Ozil saat kaki Seruni kembali merapat.
"Kan tadi aku udah bilang, boleh lihat sebentar doang," balas Seruni.
"Ya ampun! Aku aja ngijinin kamu memainkan isi celanaku sampai berjam jam. Masa aku cuma dikasih lihat punya kamu, nggak sampai satu menit?"
Ozil tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada. Pria itu langung berpindah tempat agar bisa menatap milik Seruni lebih dekat. "Kok basah, Run? Ini basah air kencing apa?" tanya Ozil tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bukan ih. Masa kamu nggak tahu itu basah karena apa," protes Seruni yang saat itu duduk bersandar paada tembok sembari memperhatikan kepala Ozil yang berada di antara dua kakinya yang membentang.
"Lah terus ini basah kenapa?"
__ADS_1
"Ya sentuh aja lah. Bawel banget banyak nanya."
Senyum Ozil kembali melebar. tanganya bergerak dan jari harinya menyentuh milik seruni yang udah basah. "Loh lengket! Apa jangan jangan ini benih wanita?" Seruni memilih diam, tak menjawabnya.
Namun hingga beberapa menit berlalu, Seruni makin dibuat resah karena Ozil malah mengusap miliknya dan juga memijatnya. "Tangannya jangan begitu, Bang," protes Seruni yang suaranya sudah cukup berat karena sudah ada yang naik sampai ke ubun ubun.
"Kenapa?" tanya Ozil tanpa menatap Seruni. Tangannya pun bergerak terus sampai Seruni semakin resah. Ozil sendiri juga sebenarnya sudah sangat resah. Namun Ozil tahan karena ingin melihat lubang merah jambu milik Seruni lebih lama.
"Tambah gatal, Bang, nanti aku jadi pengin dimasukin," protes Seruni yang sudah sangat tidak tahan, sampai wanita itu memilih segera bangkit dan langsung saja keluar dari kamar menuju kamar mandi.
Ozil langsung melongo melihat tingkah Seruni. Mau tidak mau Ozil pun mengeluarkan isi celananya yang sudah sangat mengeras dan mengeluarkan beban yang sudah sangat tidak tertahankan dengan bantuan tangan.
Beberapa menit kemudian, wajah wajah lega terlihat dari dua anak manusia itu. Wajah Seruni sampai bersemu merah saat kembali masuk ke dalam kamar. Ozil sendiri sudah selesai dengan permaianan tangannya.
"Kenapa kita nggak main bareng aja, sih, Run? Daripada main sendiri sendri kayak tadi?" ucap Ozil dengan mata yang lekat menatap wanita yang menutup tubuh bawahnya dengan handuk. Seruni hanya terdiam. "Kamu tahu nggak, Run, kalau kamu nggak segera melepas mahkotanya, kamu sama saja mendukung orang yang kamu kenal bekerja sama dengan para penculik untuk menjadikan kamu tumbal."
"Apa!" pekik Seruni dengan tatapan langsung tajam ke arah Ozil.
__ADS_1
...@@@@@...