
Hantu wanita itu menatap lekat pria yang baru saja dilempar sebuah pertanyaan. Pria itu terlihat sedang berpikir dan sepertinya dia terlihat salah tingkah atas pertanyaaan yang diajukan si hantu. "Kenapa, Mas? Kok diam? Apa sebelumnya kita ada hubungan dan orang yang namanya Sakurata itu musuh kamu?"
Ozil semakin kebingungan untuk menjawabnya. Tapi Ozil tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya tentang semua yang terjadi pada wanita itu karena itu adalah masalah yang cukup rumit, yang terjadi beberapa waktu yang lalu, antara dokter Sakurata dan dirinya. Jika hantu wanita itu tahu tentang kebenaranya, yang ada hantu itu pasti akan sangat kecewa lalu bisa saja dia marah besar.
"Dari sikap yang ditunjukan Sakurata, aku tahu kalau dia bukan penculik. Dia bahkan rela membayar tiga orang yang menculikku. Aku juga merasakan kebencian dan dendam dari sorot mata pria itu saat menyebut nama Ozil," ucap hantu wanita itu dengan pandangan menerawang ke arah lain. "Entah ada hubungan apa diantara kita sebelumnya, sampai Sakurata itu menjadikanku alat untuk mengancammu. Apa mungkin kamu seorang playboy yang menyakiti Sakurata?"
"Playboy? Darimana kamu bisa berpikiran seperti itu?" Ozil sedikit tidak terima dikatakan playboy dan dia cukup terkejut dengan tuduhan dari si hantu.
"Kalau bukan playboy terus apa? Kenapa Sakurata berencana melenyapkanku dan mencari orang lain untuk dijadikan korban demi tujuannya agar bertemu dengan kamu. Nggak mungkin kalau dia adalah pembunuh berantai, karena dia melakukan hal seperti itu hanya sama kamu. Atau mungkin kamu sama Sakurata pernah ada hubungan spesial, Mas?"
"Hubungan spesial apaan, ngaco kamu," sungut Ozil tidak terima.
__ADS_1
"Ya kan kali aja, kamu ada hubungan sejenis dengan Sakurata. Secara kamu masih muda dan ganteng, terus sakurata itu pria tua yang banyak uang. Mungkin saja dia merasa terkhianati karena cintanya kamu mainkan. Bukankah aku juga melihat kamu bersama dua cewek yang berbeda, kemarin siang?"
"Nggak lah, amit amit," bantah Ozil dengan tegas. "Kayak nggak ada cewek aja, sampai pacaran sama cowok. Dikiranya aku nggak normal atau gimana. Enakan juga lubang cewek."
"Hahaha ..." si hantu malah terbahak. "Ya kan siapa tahu aja. Buktinya kamu ditanyain tentang hubungan kita, kamu nggak mau jawab. Ya wajar kan aku mikirnya ke sana. Nggak mungkin kalau kita nggak saling kenal sebelumnya, tapi aku diculik dan nama kamu yang menjadi tujuan utama, bukan keluargaku."
Ozil terdiam dengan wajah yang masih terlihat masam. Biar bagaimanapun, Ozil masih bingung untuk mengatakan alasan utama wanita itu diculik. Saat ini Ozil benar benar tidak tega untuk mengatakan yang sejujurnya. Bayangkan saja kekecewaan yang dirasakan hantu wanita itu, jika tahu yang sebenarnya alasan dia diculik dan dijadikan alat balas dendam.
Sepertinya ucapan Ozil berhasil mengalihkan perhatian si hantu. Terlihat disana, hantu wanita itu berpikir. "Ya aku masih ingat sih, tidak jauh dari tempat ini. Tapi kan rencananya mereka akan berpindah pindah tepat."
"Ya udah gini aja, sekarang kamu terus awasi dua orang yang sedari kemarin kamu ikuti. Apapun yan terjadi, kamu harus rutin memberi laporan kepada saya sebelum mereka benr benar mendapat korban lagi, kamu paham kan?" ucap Ozil dengan sangat tegas. "Oh iya, satu lagi, kamu tahu nggak dimana keberadaan dua penjahat yang kamu ikuti itu? Mereka menginap dimana?"
__ADS_1
"Nggak jauh dari sini sih? Mereka juga kayak menyewa tempat kost gitu," jawaban yang keluar dari mulut si hantu langsung membuat senyum Ozil terkembang. "Ya udah sekarang kamu tunjukkan tempat mereka. Aku pengin tahu wajahnya biar aku bisa cepat bertindak."
Dengan sangat antusias wanita langsung mengiyakan. Ozil pun segera bersiap diri. Dari yang awalnya mau mandi, Ozil memilih pergi terlebih dahulu untuk menjalankan rencana yang begitu mendadak. Setelah merasa cukup dalam melakukan penyamaran, Ozil dan hantu wanita itu langsung bergerak.
"Mereka ngekost di rumah itu, Mas," ucap hantu wanita beberapa menit kemudian sambil menunjuk hunian berlantai dua yang tidak jauh dari taman kota, yang sering Ozil kunjungi untuk membeli makanan. "Mobilnya yang warna putih."
Ozil mengangguk dan melangkah menuju ke tempat yang ditunjuk oleh si hantu. "Apa itu mobil mereka?" tanya Ozil saat sampai pintu gerbang dan melihat satu satunya mobil berwarna putih ada di sana."
"Iya, Mas, yang itu," jawab sang hantu.
Ozil langsung mengambil ponsel dan memngambil gambar mobil itu. Di saat bersamaaan. "Mas, itu mereka keluar kamar!" Ozil terperangah. Dia segera saja, lari dan mencari tempat persembunyian.
__ADS_1
...@@@@@@...