
"Kamu yakin tidak mengingat apapun?" tanya Ozil kepada wanita yang beberapa saat lalu dliiputi rasa takut. Saat ini wanita itu lebih tenang meski dia lebih banyak menunduk. Ozil hanya bisa menatapnya dengan pikiran yang sudah kemana mana. Yang pasti Ozil lebih banyak ke arah bingungnya.
"Aku tidak ingat apapun," jawab wanita itu pelan. Kalau sudah begini, Ozil yang jadi merasa pusing sendiri. Sudah dua kali Ozil menanyakan hal yang sama, tapi jawaban wanita itu selalu sama juga. Tentu saja Ozil bingung harus bagaimana kali ini. Tidak mungkin dia akan menyembunyikan wanita itu di tempat Ozil berada.
"Nama kamu sendiri, kamu ingat nggak?" tanya Ozil lagi dan gelengan wanita itu membuat Ozil merasa frustasi. "Lalu bagaimana caranya aku menolong kamu? Kamu saja sepertinya bukan orang negara ini."
Wanita itu mendongak dan menatap Ozil dengan tatapa sendu. "Aku memang tidak ingat apapun. Yang aku ingat, aku terakhir kali berada di sebuah kapal bersama dua laki laki, tapi aku tidak kenal mereka siapa."
"Mungkin mereka yang telah menculik kamu," balas Ozil. "Mungkin kamu anak orang kaya. Tapi kamu bisa menangkap ucapanku. Apa kamu memang bisa menggunakan bahasa negara ini?" tanya Ozil lagi, dan untuk kessekian kalinya Wanita itu menggeleng. "Ahh! membingungkan!" keluh Ozil lalu sembari bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya wanita itu sambil bersiap berdiri untuk mengikuti Ozil. "Aku takut."
"Mau ambil makanan untuk kamu," jawab Ozil agak ketus. Sebenarnya Ozil sedang bingung saja. Hidupnya sendiri juga baru terlihat ada perubahan, tapi sekarang ibaratnya dia akan mendapatkan beban. Ozil beranjak keluar dari kamar dan mengambil makanan yang tadi dia bawa dari rumah sang bos. Kebetulan masih ada sisa jadi Ozil akan menyerahkannya kepada wanita itu.
"Nih, makan," Ozil menyerahkan sepiring nasi dengan lauknya. "Nggak usah malu. Makanlah."
__ADS_1
Perlahan, tangan wanita itu bergerak meraih piring. Wanita itu memandangi makanan yang sudah ada di tangannya, membuat Ozil yang sedang memperhatikannya langsung mengernyitlkan kening. "Tidak ada racunnya. Aku mau keluar sebentar, cari angin. Minumnya ada di dapur sebelah kamar ini ya?" wanita itu mengangguk.
Ozil keluar dari kamar dan memilih duduk di bangku taman yang cahayanya remang remang. Ozil terdiam dan pikirannya berkelana, memikirkan nasib wanita yang saat ini berada di kamarnya. Entah apa yang akan dia lakukan esok hari. Tidak mungkin Ozil akan menyembunyikan wanita itu di kamarnya. Tapi membiarkan dia pergi, rasanya juga tidak tega.
"Kok Bang Ozil di sini?" salah satu hantu tiba tiba muncul dan menghampiri Ozil, di susul hantu yang lainnya. Entah mereka pada darimana, datang dan pergi sesuka hati.
"Kalian dapat wanita itu darimana sih? Masa dia tidak ingat apapun?" sungut Ozil pada para hantu yang mengelilinginya.
"Apa, Bang? Dia tidak ingat apapun?" pekik Cempaka.
"Iya, namanya sendiri aja dia tidak ingat, bagaimana cara aku menolong dia coba. Tinggal sementara di sini ya tidak mungkin," keluh Ozil nampak frustasi.
"Haiss, isi celana aja yang ada di otak kalian, aku tuh serius," kesal Ozil, sedangkan Anggrek malah cengengesan.
"Ya kita nggak tahu kalau dia hilang ingatan, Bang. Aku pikir dia hanya tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius," ucap Cempaka lagi.
__ADS_1
"Apa mungkin, dalam obat bius itu dicampur dengan obat pencuci otak?" ucap Mawar.
"Emang ada obat seperti itu?" tanya Ozil dengan wajah cukup terkejut ketika mendengar apa yang diucapkan Mawar.
"Ya ada, Bang, tapi itu jenis obat ilegal karena takut disalah gunakan," jawab Mawar lagi.
"Terus aku harus gimana dong? Aku nggak enak sama yang punya kantor, kalau sampai aku nyimpen wanita dalam kamar," ucap Ozil.
Kelima hantu pun terdiam. Mereka juga ikut bingung. "Gini aja deh, kita coba cek lokasi yang tadi wanita itu disembunykan gimana? Kali aja kita dapat informsi tentang wanita itu." usul Lili.
"Nah, iya, benar itu. Ya udah kita berangkat sekarang," ajak Melati. Tanpa menunggu persetujuan dari Ozil, kelima hantu langsung saja menghilang. Ozil pun hanya mendengus lalu kembali menuju kamar.
"Sudah makannya?" kedatangan Ozil nampaknya mengejutkan wanita itu yang sedang melamun. Wanita itu mengangguk pelan dan tersenyum sangat tipis. "Kamu mau mandi atau gimana?"
"Nggak ada baju."
__ADS_1
Ozil menghembus nafasnya secara kasar. "Pakai baju aku mau? Karena nggak ada pakaian wanita di sini?" wanita lantas mengangguk. Dia bangkit dan membawa handuk yang biasa dipakai Ozil menuju kamar mandi. Ozil membuka lemari baju dan dia langsung tertegun. "Aduhh! Hanya ada kolor!"
...@@@@@...