
Seorang pria bertubuh tegap nampak tersenyum tipis saat dirinya memasuki sebuah ruangan khusus. Tubuh pria itu hanya terlilit kain bermotif abstrak di pinggangnya, sehingga memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan sangat atletis. Tidak seimbang dengan profesinya yang terkenal sebagai seorang dukun. "Sudah siap?" tanya dukun tersebut pada pasiennya.
Pasien yang dia maksud adalah seorang wanita cantik dengan tubuh yang sangat seksi. Tubuh itu sekarang sedang terbaring tanpa busana, sesuai interuksi yang diminta oleh sang dukun. Wanita itu pun hanya menunjukkan senyum sekilasnya saat matanya beradu pandang dengan dukun yang sangat gagah dan menggoda tersebut.
Sang dukun berdiri di tepi ranjang, lalu mengitari tubuh wanita itu dengan dupa yang dia bawa. Dupa tersebut mengeluarkan bau yang cukup menyengat. Entah mantra apa yang sedang dibaca sang dukun, terlihat mulut pria itu sedang komat kamit dan nampak sangat serius sekali dengan mata yang terpejam.
Setelah pembacaan mantra selesai, sang dukun meletakkan dupa pada meja di tepi ranjang, lalu kedua tangan kekarnya, meraih dua bukit kembar yang sudah tersaji di hadapannya. Dipijatnya bukit kembar milik wanita itu dengan pelan. "Masih agak kencang, kenapa dikasih susuk?" tanya sang dukun.
"Biar para langgajan lebih betah lagi, Mbah," jawab sang wanita dengan santainya. Dia pasrah saja saat tangan kasar si dukun memijat bukit kembarnya. Pijatannya benar benar menenangkan.
Sang dukun hanya mengangguk, lalu dia meraih bangku plastik dan duduk di atas bangku tersebut. Si wanita di suruh duduk di tepi ranjang dan menghadap sang dukun. Sang dukun memasukkan sesuatu ke mulutnya, lalu dia kembali komat kamit sejenak, terus mulutnya langsung menyesap pucuk bukit kembar sang wanita.
__ADS_1
"Kok pucuknya agak pahit?" tanya sang dukun setelah menyedot pucuk bukit kembar beberapa saat.
"Mungkin itu efek lotion pelembab tubuh, Mbah. Soalnya tadi aku memakainya saat hendak kemari," kilah sang wanita. "Harusnya aku memakainya sekitar dua jam yang lalu biar efeknya hilang."
Tanpa mencurigai apapun, sang dukun mengangguk dan mulutnya kembali memainkan pucuk bukit kembar dengan sangat rakus. Setelah cukup memainkan bukit kembar, Sang dukun memerintahkan pasiennya untuk berbaring dengan posisi seperti wanita yang hendak melahirkan. Sang dukun pun berpindah sisi duduknya menjadi di bawah kaki si pasien yang sudah membentang.
Kembali sang dukun memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Setelah komat kamit untuk beberapa saat, mulut sang dukun langsung menempel pada celah nikmat milik pasien dan menggigit pelan di sana. Mulut sang dukun kembali merasakan sedikit rasa pahit, tapi kali ini dia tidak bertanya karena sudah tahu jawabannya bakalan sama.
"Akhh!" dua suara rintihan kenikmatan menggema bersaaman saat batang sang dukun mulai menerobos masuk ke dalam lubang nikmat pasien. "Ini enak banget, benar benar sempit sekali," racau sang dukun. Setelah batang masuk semuanya, sang dukun mulai menggerakkan pinggangnya secara pelan.
Sang dukun juga tidak henti hentinya menyesap dua bukit kembar di saat sedang malakukan penyodokan. Meski dia merasakan pahit pada lidahnya, pria itu tetap semangat menikmati bukit kembar yang besar itu. Hingga beberapa menit kemudian, entah kenapa sang dukun memegangi kepalanya sampai pria itu menghentikan penyodokannya meski batang masih berada di dalam lubang.
__ADS_1
"Kenapa, Mbah? Kok berhenti?" tanya si pasien dengan tatapan heran karena penyodokan yang dilakukan sang dukun sedang dalam masa yang paling nikmat.
"Tidak tahu, kepala saya mendadak pusing banget," ucap si dukun dengan terus memegangi kepalanya. Pria itu bahkan sampai melepaskan batangnya dari lubang dan pandangan matanya langsung buram. Tak lama kemudian tubuh sang dukun ambruk di atas tubuh pasien.
"Mbah, Mbah kenapa? Mbah?" si pasien pura pura panik dengan mengguncang guncang tubuh pria di atasnya. Padahal dia tahu, itu adalah akibat obat tidur yang dia oles pada bukit kembar dan lubang nikmatnya.
Rasa pahit yang dirasakan sang dukun adalah efek lain dari obat tidur yang memang sudah disiapkan wanita itu Tentu saja wanita itu melakukannya atas dasar suruhan orang yang sudah membayarnya dengan mahal, dan saat ini orang yang membayarnya sedang menunggu kabar darinya. Setelah yakin Mbah dukun tak sudah aman, wanita itu melanjutkan aksinya sesuai yang sudah direncanakan.
Di ruangan yang berbeda, pria yang tadi masuk bersama dengan wanita yang menjadi pasien, nampak sedang menguping pembicaraan seseorang dari balik tembok rahasia. Di saat bersamaan, tiba tiba tembok itu bergerak sampai membuat pria tersebut begitu terkejut.
...@@@@@@...
__ADS_1