
"Run," Ozil memanggil begitu bibir keduanya terlepas satu sama lain. Mata pemuda itu lekat menatap wanita yang saat ini masih duduk di pangkuannya.
"Hum?" sahut Seruni, sama sama menatap pria itu dengan tatapan yang hampir tidak berkedip.
"Kamu nggak takut, jika nanti aku jatuh cinta sama kamu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Ozil seketika membuat Seruni tertegun. Untuk beberapa saat, wanita itu terdiam dengan pikiran yang bekerja, mencari kata yang tepat, untuk menjawab pertanyaan yang terlontar untuknya.
"Kenapa emangnya?" bukannya menemukan jawaban, Seruni malah melempar pertanyaan untuk mencari tahu alasan Ozil mengatakan hal tentang cinta kepadanya.
"Aku cuma takut, Run, kedekatan kita ini akan menumbuhkan benih benih cinta dalam hatiku. Biar bagaimanapun aku lelaki, Run. Jika diperlakukan seperti ini, nantinya aku malah baper dan berharap. Apa kamu nggak takut, aku merasakan hal kayak gitu terhadapmu?"
Seruni seketika langsung tersenyum untuk menutupi kegundahan dalam hatinya yang tiba tiba menyerang. Apa yang dikatakan Ozil memang benar, rasa cinta itu bisa tumbuh kapan saja tanpa bisa dicegah. "Emangnya kenapa kalau kamu jatuh cainta sama aku?"
__ADS_1
Ozil malah mendengus dan wajahnya langsung memasang wajah cemberut, membuat wanita yang maasih setia duduk di pangkuannya tersenyum lebar karena Ozil terlihat menggemaskan. "Ya, aku takut aja kalau cintaku tidak tersambut. Apa lagi dari status kita aja udah beda. Kamu anak orang kaya, aku anak miskin. Agama kita juga beda. Sudah sangat jelas bukan kalau aku nggak mungkin bisa memiliki kamu. Mana mungkin orang tua kamu mau merestui aku yang hanya seorang anak buruh tani."
Seruni kembali tersenyum lebar. Biar bagaimanapun apa yang ditakutkan Ozil memang bisa jadi kenyataan. "Aku tahu apa yang kamu takutkan, Bang. Aku sendiri juga pernah merasakan hubungan yang ditantang kedua keluarga itu bagaimana. Sakit memang, Bang. Maka itu, daripada nanti kamu jatuh cinta sama aku, kamu usahakan dulu, jangan sampai ada cinta dalam hati kamu, Bang."
Ozil menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Ya untuk saat ini sih belum, cuma kan takutnya suatu saat nanti itu akan terjadi. Emang orang tua kamu nggak suka ya kalau kamu berhubungan dengan pria miskin? Kok sampai kamu pernah merasakan hubungan yang ditantang?"
Seruni sedikit mendongak hingga leher jenjangnya terpampang di depan mata Ozil. Secara otomatis, Ozil tergiur ingin memberi kecupan pada leher indah itu. Namun Ozil tidak berani melakukannya. Padahal jika Ozil melakukan kecupan pada leher itu, belum tentu juga Seruni akan menolaknya. Bukankah Seruni juga pernah membiarkan Ozil melihat dan memainkan benda berharga lainnya milik Seruni? Jadi tidak masalah jika hanya tentang kecupan di leher.
"Jadi kamu pernah berhubungan dengan laki laki yang beda agama?" tanya Ozil setelah mendengar penjelasan Seruni yang cukup lebar.
"Ya, aku pernah berhubungan dengan pria dari agama yang berbeda. Dia anak orang kaya juga sebenarnya, tapi ya, itu, karena perbedaan agama, akhirnya kita ditentang. Apalagi si cowok selingkuh, makin terpojoklah aku, disalahkan oleh orang tuaku. Maka itu, daripada kamu nanti ada rasa cinta dalam hati, mending secepatnya kamu tepis. Bukankah lebih baik kita berteman seperti ini. Kita tidak saling menyakiti satu sama lainnya."
__ADS_1
Ozil mengangguk membenarkan. "Baiklah, semoga aja nantinya nggak ada cinta diantara kita. Lagian kalaupun berteman juga mungkin kita nggak bakalan lama."
"Kenapa?" tanya Seruni dengan kening yang berkerut.
"Aku sih yakin jika masalah tumbal ini selesai, kamu akan kembali ke jalan hidupmu lagi dan aku juga. Kita akan pelan pelan saling melupakan satu sama lain karena jalan hidup kita berbeda."
"Hahaha ... benar juga," Seruni malah sampai terbahak. "Maka itu selagi kita masih bersama, kita nikmati aja waktu kebersamaan ini. Jarang jarang, kan ada teman wanita yang mau perang bibir dan juga mainin isi celana kamu. Pasti kamu nggak punya teman cewek seperti itu, iya kan?"
Ozil pun tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya, membenarkan terkaan Seruni. "Tapis sayang sekali, kamu nggak ngijinin batang aku memasuki lubang kamu."
Seruni juga seketika tersenyum sangat lebar. "Tunggu saatnya tiba, Sayang," ucapnya, lalu dia kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ozil.
__ADS_1
...@@@@@...