HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Sepucuk Surat Tantangan


__ADS_3

"Saya telah menculik seroang wanita. Jika kamu berhasil menemukan keberadaan wanita itu, berarti saya akui anda adalah orang hebat. Ingat, masalah ini hanya menjadi urusan anda dengan saya. Jika ada pihak lain yang mengetahuinya, saya pastikan nyawa wanita ini tidak akan selamat dan akan ada banyak nyawa yang akan lepas dari tubuh mereka jika sampai anda melapor. Anda sedang dalam pengawasan saya, jadi anda jangan berani macam macam. Temukan saya, maka wanita ini akan selamat."


Ozil mematung, matanya hampir saja tidak berkedip begitu membaca isi pesan yang dia dapatkan. Benak Ozil saat ini langsung berkelana dan tumbuh banyak pertanyaan menghampirinya. Ozil membawa masuk kertas itu ke dalam kamarnya. Di sana, dia merenung dan kembali membaca surat peringatan yang tertuju untuknya. Dilihat dari nama pengirim dan juga nama yang dituju, jelas sekali kalau itu memang untuk Ozil dari Dokter Sakurata.


"Jadi dia selama ini ngawasin gerak gerak aku?" gumamnya. "Apa dokter Sakurata berpikir aku memiliki kekuatan? Lalu, siapa wanita yang dia culik? Apa dari kalangan orang terkenal?" Berbagai pertanyaan tumbuh dalam benak Ozil saat ini. "Sial, bagaimana caranya aku membalas tantangan ini?"


Ozil saat ini sungguh dibuat bingung dengan tantangan yang baru saja dia terima. Bahkan sampai beberapa waktu lamanya, pemuda itu terdiam di dalam kamarnya untuk mencari jalan keluar. "Ah, kalau wanita itu dbikin seperti nasib wanita yang lainnya, berarti bisa jadi wanita itu sekarang sudah menjadi arwah? Bagaimana wajah wanita itu ya?"


Otak OZil terus berpikir sampai pikirannya terganggu saat suara ponsel tiba tiba berdering dan cukup membuat Ozil terkejut. Ozil segera saja menggeser tombol hijau pada layar ponsel yang sudah ada di tangannya. Hanya panggilan sebentar yang dilakukan dan Ozil bergegas keluar kamar untuk menemui orang yang menelponnya.

__ADS_1


"Ya ampun, Mbak Lisa, kamu sengaja kesini hanya untuk mengantar makanan? Duh, aku jadi ngak enak nih, Mbak," ucap Ozil begitu dia telah menemuai orang yang tadi melakukan panggilan telefon. Dia adalah Mbak Lisa, janda yang bekerja di tempat yang sama dengan Ozil.


"Ngapain merasa nggak enak? Lagian kan aku juga lagi nggak ngapa ngapain di rumah. Jadi ya mending aku jengukin kamu," ucap Mbak Lisa. "Gimana? Apa kamu masih ada sesuatu yang dirasakan tubuh kamu?"


"Ya masih agak lemas sih, Mbak," jawab Ozil dusta. Pemuda itu terpaksa berbohong karena dalam benaknya, dia takut Mbak Lisa akan mengajaknya berhubungan badan. Bukannya Ozil tidak doyan main dengan janda cantik itu, tapi dari kemarin Ozil sudah berhubungan badan dengan tiga wanita lain, jadi bisa dibayangkan lelahnya pemuda itu bagaimana.


"Hehehe ... nggak enak lah, Mbak. Kamu tahu kan sendiri, Mbak Rini juga nawarin diri untuk merawatku. Kalau aku milih salah satunya, takutnya hubungan baik Mbak Lisa dan Mbak Rini bisa renggang. Aku nggak mau gara gara aku nantinya, ada masalah di kantor juga. Jadi mending aku tetap di sini kan?"


Mbak Lisa sontak mengembangkan senyumnya. "Oh seperti itu? Baguslah, ternyata kamu peka juga ya? Ya udah kalau gitu aku pulang dulu. Nanti kalau udah benar benar pulih, jangan lupa main ke rumah ya. Aku tungggu loh kamu nginep di rumahku."

__ADS_1


"Beres, Mbak. Nanti kalau libur, aku usahakan main ke tempat kamu deh," balas Ozil. Mbak Lisa pun tertlihat senang dan dia pamit pulang setelah ngobrol sejenak dengan Ozil di taman samping. Begitu Mbak Lisa pergi, Ozil kembali masuk ke dalam kamar sambil menenteng makanan. "Lumayan, nggak perlu beli sarapan," gumam Ozil riang.


Hinga waktu terus bergerak maju, tanpa terasa, kini sore hari sudah menjelang. Saat ini gantian Mbak Rini yang datang untuk menjenguk Ozil dan tentunya wanita itu juga mengantar makanan. Sama seperti Mbak Lisa, Mbak Rini juga meminta Ozil untuk datang dan menginap kembali di rumah janda cantik itu. Ozil pun dengan halus menolaknya. Diabcuma bilang akan mengusahakannya agar janda cantiik itu senang.


Tak jauh dari tempat Ozil berada, ada dua pasang mata yang sedang mengawasi gerak gerik pemuda itu. Namun dua pasang mata itu memiliki tujuan yang berbeda saat melakukan pengawasan. Yang satu mengawasi Ozil karena itu memang tugasnya, tapi yang satunya lagi mengawasi Ozil karena dia adalah hantu wanita yang membutuhkan pertolongan pemuda itu.


"Apa dia yang bernama Ozil? Sepertinya aku harus cari tahu ke sana," gumam arwah wanita itu.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2