
"Apa! Dokter Sakurata?" pekik Zhang begitu mendengar nama dokter yang sangat dia kenal, keluar dari mulut lawan bicaranya. Tentu saja dia sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Yang Zhang tahu adalah dokter Sakurata itu orangnya baik. "Kamu lagi nggak bercanda kan, Run?"
Seruni lantas tersenyum sinis, lalu dia berpindah posisi duduk menjadi bersandar tembok yang ada di dekat kasur. "Aku juga awalnya ngggak yakin, tapi saat aku melihat dengan mataku sendiri, saat Paman Sakurata sedang ngobrol dengan para penculik, disitulah aku tahu, kalau penculikan yang aku alaminsejak satu tahun yang lalu, itu karena perbuatan paman saya sendiri."
"Nggak mungkin!" Zhang terlihat begitu sangat syok. "Untuk apa dokter Sakurata melakukan hal itu, Run? Apa dia butuh uang apa gimana? Kan dia sudah kaya raya?"
Seruni kembali menyeringai. "Dia itu menculik kita bukan karena uang tebusan, tapi Paman sakurata menculik kita demi penelitiannya yang berhubungan dengan hal hal mistis. Paman tuh bekerja sama dengan seorang dukun."
Hah! Yang bener, Run? Lalu apa hubungannya dengan kita?" Zhang sampai memotong ucapan Seruni yang belum selesai.
"Kita itu mau dijadikan tumbal untuk pesugihan dukun itu, Zhang!" ucap Seruni dengan lantang. Dia sedikit kesal karena Zhang nampak tidak percaya dengan perkataannya. "Gini deh aku ceritakan semuanya." dengan wajah syok, Zhang langsung mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya.
Seruni lantas menceeritakan semua yang dia tahu. Sungguh entah berapa kali Zhang menunjukkan ekspresi terkejutnya, begitu mendengar semua cerita yang keluar dari mulut Seruni. Dari cerita soal penculikan sampai pria yang bisa melihat hantu, semuanya seperti tidak masuk akal bagi Zhang. Seruni juga tentu menceritakan kelima hantu yang dia dengar dari Ozil beserta asal usulnya. Zhang sampai ternganga mendengar kisah tersebut.
"Yang benar, Run?" entah itu pertanyaan yang keberapa, keluar dari mulut Zhang. Sepanjang seruni bercerita, pertanyaan bernada sama selalu keluar dari mulut wanita itu.
__ADS_1
"Nanti kamu tanya aja sama pria yang tadi mengantar kamu kesini. Para hantu juga bakalan nurut sama dia," terang Seruni dengan santai.
"Kok seram banget sih, Run? Masa kita mau dijadikan tumbal? Terus kita harus gimana, Run? Apa aku hubungi orang tuaku untuk meminta bantuan?" tawar Zhang.
"Jangan dulu. Mending kamu kasih kabar ke orang tua kamu terlebih dahulu, kalau kamu saat ini baik baik saja," usul Seruni. "Nanti urusan selanjutnya kita obrolin dengan Bang Ozil. Kalaupun kita sekaang ngaku habis diculik oleh Paman Sakurata, aku yakin Paman sudah memiliki alibi yang sudah dia siapkan sebelumnya agar kita tidak memiliki bukti."
"Begitu yah? Baiklah, aku pinjam telfon kamu sini, buat ngasih kabar orang tuaku."
"Emang kamu hafal nomer orang tua kamu?"
"Oh iya, " ucap Seruni, lalu dia menyerahkan ponselnya kepada Zhang.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Sakurata sedang uring uringan setelah mendapat laporan tentang hilangnya target pengganti. Pria itu tidak menyangka kalau korban berikutnya juga bisa meloloskan diri. Pria itu lantas ssegera bersiap untuk pergi ke rumah Zhang. Dengan alasan akan memeriksa keadaan pasiennya, Tuan Sakurata akan mencari informasi tentang Zhang kepada orang tuanya. Siapa tahu saja, Zhang saat ini sudah berada di rumah, menurutnya.
Bukan hanya dokter Sakurata yang begitu marah dengan hilangnya wanita yang dia culik. Ada sosok lain yang terlihat lebih ramah karena lagi lagi harus kehilangan korban yang akan dia tumbalkan. Siapa lagi kalau bukan Mbah Wiro. Pria itu bahkan semalam begitu senang saat mendapat kabar, ada wanita lain sebagai pengganti target terakhir. Namun kini dia harus kembali menelan kecewa dan juga marahnya atas hilangnya target ritualnya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, kini Dokter Sakurata sudah berada di rumah keluarga Zhang. Pria itu disambut baik oleh semua orang yang ada di rumah itu. Yang membuat Sakurata heran adalah sikap para anggota keluarga Zhang saat ini. Wajah mereka terlihat biasa saja dan ceria. Sungguh sikap yang ditunjukkan keluarga Zhang menumbuhkan banyak pertanyaan dalam benak dokter Sakurata.
"Semalam saya nitip obat lewat Zhang, apa sudah disampaikan?" tanya Sakurata setelah dia berbasa basi dengan ibunya Zhang. Dokter itu sangat penasaran sehingga dia mulai memancing dengan menceritakan tentang obat yang memang dia titipkan kepada Zhang.
"Oh sudah, Dok," jawab Ibunya Zhang. "Obatnya sudah ada di kamar ayah saya."
Sakurata tercengang begitu mendapat jawaban dari ibunya Zhang. Agar tidak dicurigai, Sakurata lantas tersenyum dan mengangguk beberapa kali. "Syukurlah kalau obatnya sudah sampai. Lalu dimana Zhang? Kok tidak kelihatan?"
Ibunya Zhang lantas tersenyum. "Zhang lagi main sama temannya. katanya mau piknik dia."
"Piknik?" tanya Sakurata semakin terlihat heran.
"Iya, dia katanya mau piknik bareng Seruni."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...