HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Saran Dari Teman


__ADS_3

Menjelang sore, Ozil melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju ke tempat kontrakan dua sahabatnya. Kebetulan karena hari ini mereka ada waktu, jadi Ozil ingin menggunakan waktu itu untuk sekedar bermain dan ngobrol bersama. Apa lagi meskipun sama sama tinggal di kota besar, mereka jarang bertemu karena sibuk dengan dunianya masing masing.


Namun itulah namanya perjalanan dalam hidup. Di waktu usia mereka masih sangat muda, apa lagi saat usia sekolah, Ozil dan dua temannya sering menghabiskan waktu bersama. Selalu saja ada waktu untuk bermain tanpa mengenal waktu saat mereka masih di kampung. Tapi seiring berjalanannya waktu, ketika usia mereka terus bertambah, ketiga anak muda itu juga dituntut untuk menentukan jalan hidupnya masing masing sampai jarang memiliki waktu untuk sekadar bermain bersama.


Tidak butuh waktu terlalu lama, Ozil kini sudah sampai di tempat kontrakan sahabatnya, tempat yang sama, yang pernah Ozil tinggali saat baru pertama kali merantau ke kota. Mereka pun langsung berbaur menjadi satu pada salah satu kontrakan yang dipakai sahabatnya.


"Ya elah udah jadi miliarder, masa cuma bawa roti goreng sih, Zil? Pelit amat," protes Surya sambil mencomot roti goreng berbentuk bulat isi kacang hijau. "Bawa makanan sekalian napa."


"Hahahah ... sialan kau! Masih untung aku bawa makanan," Ozil sedikit tidak terima. "Ya sekalian ngelarisin dagangan Nirmala lah."


"Nirmala? Kalian udah jadian apa?" tanya Cipto yang memilih makan roti goreng odading. Dua sahabat Ozil memang sudah mengenal siapa itu Nirmala. Selain kenal dari acara yang Ozil datangi, mereka juga pernah mendengar kisah wanita itu saat beberpa waktu dulu bertemu dengan Ozil.


"Belum," jawab Ozil lalu dia menyeruput kopi putihnya.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu serius? Dia cantik loh, Zil? Dan aku juga ngerasa, dia ada hati sama kamu? Kenapa kamu nggak sikat aja," Cipto berujar dengan penuh rasa heran kepada sahabatnya itu. "Aku sih yakin kamu juga ngerasain kalau dia punya perasaan spesial sama kamu, kan?"


"Jangan kan Ozil, aku aja tahu kalau Nirmala ada hati sama kamu, zil," celetuk Surya. "Padahal dia nggak sekedar cantik loh, dia juga tipe tipe wanita yang mandiri dan ya pantaslah dijadikan istri. Lihat aja, dia nggak gengsi untuk berjualan."


"Nah, itu poin pentingnya," Cipto kembali bersuara. "Apalagi ibarat kata dia juga hidup sebatang kara. Aku sih yakin kalau ngggak ada yang melindungi Nirmala, suatu saat nanti wanita itu pasti akan ada yang mengincarnya, entah itu dijahatin atau apa apa. Lagian, apa yang kamu pikirkan lagi sih, Zil? Sampai kamu nggak mau sama dia?"


Ozil tersenyum tipis. "Bukannya nggak mau," bantah pemuda itu. "Aku sendiri juga nggak tahu kenapa aku belum membuka hatiku sama dia. Aku juga sering memikirkan tu cewek. Apa lagi dia hidup sendirian. Walaupun kontrakannya dekat, tapi aku cukup khawatir."


"Hahaha ... masa Ningrum?" tawa Surya malah meledak. "Kalau kamu masih mengharap cinta pertama kamu, berarti kamu bodoh!"


"Enak aja," sungut Ozil. "Ngapain juga aku ngarepin dia. Bagusan Nirmala kemana mana."


"Ya udah, tunggu apa lagi, orang tinggal sikat doang."

__ADS_1


"Iyaiya, nanti aku coba ngomong sama Nirmala."


"Nah gitu. Nggak perlu mikir yang aneh aneh yang bisa saja menghambat kamu untuk maju. Kamu jadian sama Nirmala dan ajak dia nikah,lalu kalian sama sama merintis usaha, bukankah itu indah? Hidup itu terus bergerak maju, Zil, kita akan tetap membutuhkan teman hidup meski banyak wanita yang mau menjadi teman tidur."


Ozil langsung menyeringai, pemuda itu cukup tersentil dengan ucapan sahabatnya. Biar bagaimanapun saran dari dua sahabatnya cukup masuk akal dan munmgkin memang Nirmala adalah jodohnya. Dan mungkin saja memang sudah waktunya juga Ozil harus lebih fokus memikirkan masa depan termasuk pendamping hidup.


Selang beberapa jam kemudian, setelah puas ngobrol dan bermain dengan dua sahabatnya, Ozil memutuskan untuk pulang. Selain itu dia juga harus membantu Nirmala merapikan lapak jualan wanita itu. Selama ini memang Ozil yang selalu membantu Nirmala dari mendorong gerobag dan beberapa hal kecil lainnya.


Kali ini Ozil melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Namun begitu sampai di tempat tujuan, Nirmala sudah tidak kelihatan di lapaknya. Ozil yakin kalau Nirmala sudah pulang dan mendorong gerobagnya sendiri. Karena merasa tidak enak hati, Ozil segera melajukan motornya menuju kontrakan wanita itu.


Namun disaat dia memasuki jalanan sepi yang menuju ke arah kontrakan Nirmala, Ozil dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2