
"Kamu mengenal wanita itu, Zil?" pertanyaan Mbak Rini sontak membuat Ozil terkesiap. Ozil tidak langsung menjawabnya dan dia memang bingung harus mengatakan apa sekarang. Ozil takut, apa yang keluar dari mulutnya membuat Mbak Rini salah paham kermbali. "Kalau mengenalnya ya tinggal ngaku aja, Zil, apa susahnya sih."
"Hanya mengenalnyya, Mbak, nggak ada hubungan yang lainnya," jawab Ozil sambil bersiap diri turun dari mobil yang dia naiki.
"Ada hubungan lain juga nggak apa apa, takut amat kalau aku tahu," balas Mbak Rini dengan sikap terlihat santai.
"Ya udah, Mbak, aku turun dulu," ucap Ozil. Tanpa menunggu dipersilahkan, Ozil bergegas turun dari mobil milik Mbak Rini. Tak lama berselang, setelah pamit, Mbak Rini pergi dengan mata menatap wanita yang tersenyum mengantarkan kepergiannya.
"Kok wajahnya kayak tidak asing ya?" gumam Mbak Rini begitu mobil melaju meninggalkan dua orang yang berdiri di depan gerbang.
"Kamu baru pulang?" tanya Ozil begitu mobil Mbak Rini menghilamng dari pandangan.
"Pulang sejak tadi siang. Cuma tadi aku pas nyampai sini, kantor masih rame, jadi aku pergi lagi, dan nungguin kamu di taman," jawab Seruni. "Tadi Pak satpam juga melempar pertanyaan sama aku ya aku bingung jawab apa."
"Terus kamu langsung pergi apa gimana?" tanya Ozil sambil membuka pintu gerbang.
"Iya, lah, aku bilang aja kalau aku salah masuk. Nggak mungkin kan aku ngaku tinggal di tempat ini." Keduanya lantas melangkah bersama menuju kamar mereka. Ozil membuka lemari dan meraih kolor dan juga kaosnya. "Aku dulu yang mandi, boleh?" pinta Seruni.
__ADS_1
"Ya udah sana," jawab Ozil. "Kamu udah makan belum?"
"Udah, tadi, di taman," jawab Seruni sembari mengambil perlengkapan mandinya.
"Oh, kirain belum, itu aku tadi bawa makanan." Seruni hanya tersenyum dan dia segera saja keluar dari kamar menuju kamar mandi. Ozil sendiri memilih rebahan sembari bermain ponsel.
Beberapa puluh menit kemudiann, mata Ozil agak membelalak begitu melihat Seruni masuk dalam keadaan rambut yang basah. Yang membuat Ozil tercengang adalah, pakaian yang di pakai Seruni, membuat isi celana Ozil langsung bergerak. Baju tidur yang modelnya hampir sama seperti semalam dengan dua kain penutup bukit kembar dan bawah perutnya yang kelihatan berwarna merah muda.
"Kok kamu udah pakai baju tidur?" tanya Ozil dengan perasaan yang sudah resah.
Ozil sontak terkesiap dan tebakan Seruni memamg benar, isi celananya sudah sangat tegak sempurna. "Aku mandi dulu," Ozil pun bersiap untuk bangkit tapi tangan Seruni langsung mengcengkram bagian tengah celana Ozil hingga pemuda itu terjengat. "Kamu lagi ngapain?"
"Pengin lihat yang tegang," rengek Seruni dengan manja.
"Aduh, jangan sekarang deh, nanti aja pas tidur. Sekarang masih kotor," tolak Ozil tapi tidak menyingkirkan tangan Ozil. Bukannya menurut, Seruni malah langsung melepas sabuk celana dan juga membuka celana itu. "Astaga!" Ozil pun pasrah.
Di tempat lain, karena tadi siang dua penjahat tidak ada di tempatnya, para hantu memutuskan pergi ke sebuah tempat fitnes untuk menikmati tubuh tubuh pria yang sanggat menggugah selera. Mereka cukup lama berada di tempat seperti itu. Selain bisa menikmati dengan bebas tubuh para pria, para hantu juga bisa menikmati pemandangan isi celana pria itu di kamar mandi yang disediakan tempat fitnes itu.
__ADS_1
Tempat fitnes ini terbilang tempat fitnes yang cukup elit. Dengan segala fasilitas yang lengkap, membuat para pengunjungnya merasa aman dan tenang jika fitnes di tempat itu. Para membernya juga dari kalangan orang orang kelas elit semua.
"Isi celananya kok nggak ada yang segede punya Bang Ozil ya?" celetuk Anggrek sambil memandangi beberapa pria bertubuh atletis yang sedang mandi di dalam bilik yang ada di dana. Satu orang satu bilik.
"Itu kan mereka semua lagi pada nggak tegang, Nggrek," ucap Lili.
"Apaan, tadi juga banyak yang tegang tapi masih kalah gede dengan punya Bang Ozil," bantah Anggrek tidak mau kalah.
Di saat salah satu hantu sedang hendak mengeluarkan suaranya, tiba tiba kelima hantu mendengar suara yang tidk asing. Kelima hantu sontak terdiam dengan mata saling menatap. "Kok kayak ada suara orang keeakan?"
"Sial! Di tempat umun ada orang yang sedang enak enak?" sungut Melati.
"Mending kita lihat, yuk," ajak Mawar, dan semuanya setuju. Mereka langsung saja menuju ke salah satu suara yang ada di salah satu bilik di sana.
"Astaga!" pekik salah satu hantu begitu melihat orang yang sedang enak enak tersebut karena hantu itu mengenalnya.
...@@@@@@...
__ADS_1