
"Kamu kenapa malah kelihatan sedih, Bang?" tanya Seruni saat kepalanya mendongak dan menatap wajah pemuda yang sedang dia peluk. Bahkan salah satu tangan wanita itu membelai lembut wajah pria muda yang telah menyelamatkan dirinya dari musibah besar yang hampir saja merengggut nyawanya.
"Ya sedih aja. Mendengar yang lain masih berjuang, meski sudah lepas dari Mbah Wiro, wajar kan jika aku merasa sedih," ucp Ozil dengan suara yang sangat menunjunkan rasa khawatirnya.
Seruni sontak tersenyum lalu dia mengecup pipi Ozil dalam waktu yang cukup lama. "Mereka pasti akan baik baik saja. Kata dokter sih, mereka sudah melewati masa kritis. Apa tidak ada yang memberi kabar kepada kamu?" tanya Seruni dengan mata terus menatap Ozil dan tangan yang menempel pada salah satu pipi pemuda itu.
"Ya paling yang ngasih kabar Leo, Marsel sama William. Cuma ya wajarlah kalau aku tetap khawatir sebelum mendengar mereka membuka mata. Apa lagi kamu tahu dokter Sakurata kabur dan belum ditemukan," jawab Ozil yang pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh wanita di hadapannya. "Zhang juga saat ini belum berani keluar rumah sendirian."
"Mereka semua sudah dikasih penjagaan yang ketat, kok. Aku aja sekarang kalau pergi nggak boleh sendirian,' ucap Seruni. "Kamu juga harus waspada, bang. Aku yakin saat ini Paman Sakurata juga sedang merencanakan sesuatu. Nama kamu kan sudah terkenal. Bisa saja, Paman juga menargetkan kamu untuk balas dendanm."
"Terus, Mbah Wiro sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Ozil lagi.
"Tentunya dia akan menjalani proses hukum yang cukup berat dong, Bang. Orang tuaku dan orang tua yang lainnya akan menuntut Mbah Wiro dengan hukuman yang tidak main main. Cuma ya gitu, kita harus tetap waspada juga, karena mungkin saja Mbah Wiro juga memiliki orang lain yang masih berkeliaran di luar penjara. Apa lagi Paman Sakurata juga masih buron."
__ADS_1
Ozil menghembus nafasnya secara kasar. Untuk sesaat dia terdiam dengan pikiran menerawang ke segala hal yang kemungkinan akan dia hadapi. Diamya Ozil membuat Seruni tersenyum lalu kembali mengecup pipi Ozil lalu merebahkan kembali di dada bidang pemuda itu. Beberapa saat kemudian Ozil merasakan ada tangan yang memasuki isi kolor Ozil.
"Aku kok kangen disodok sodok lagi ya, Bang?" ucap Seruni sambil mengeluarkan isi celana Ozil. "Kamu nggak kangen nyodok nyodok lubangku, Bang?"
"Ya kangen pastinya lah," balas Ozil. "Tapi kan kamu baru sembuh, Run. Nanti kamu nggak punya tenaga loh. Bukankah kamu juga bilang, kalau mau main mending di apartemen kamu aja?"
"Iya, sih, tapi apa para hantu itu masih sering kesini?"
Sebelum menjawab, Ozil kembali menghembuskan nafaasnya secara pelan. "Sejak malam penyelamatan kalian, mereka sudah tidak pernah menampakkan diri lagi, Run. Di satu sisi aku senang, mungkin arwah mereka sudah kembali ke raga masing masing, tapi di sisi lain aku merasa kehilangan mereka. beberapa malam tidak bertemu dengan mereka, kayak sepi banget."
"Aku harap begitu. Walaupun nanti mereka lupa sama aku, aku harap mereka akan semua baik baik saja dan kembali menjalani hidup bahagia dengan pasangan masing masing dan keluarga mereka."
Seruni kembali tersenyum. "Ya udah daripada kamu mikir yang macam macam, gimana kalau kamu nyodok lubangku aja, Bang?"
__ADS_1
"Astaga! Ini masih pagi loh Run, baru jam tujuh pagi. Aku juga belum beli sarapan dan aku juga belum mandi. Badanku masih bau banget nih."
"Lah itu, kantung plastik yang aku bawa, itu kan makanan," Seruni menunjukan kantung yang tergeletak di atas lantai dekat dengan lemari. "Ayolah, Bang, aku udah pengin disodok banget ini. Mandinya nanti aja setelah penyodokan, ya?" rengeknya.
Ozil menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, berniat untuk meledek Seruni. Tapi nampaknya wanita itu memang sudah ingin merasakan kembali nikmatnya disodok jadi Seruni langsung saja menyerang bibr Ozil dengan bibirnya. Mau tidak mau, Ozil pun menuruti permintaan wanita itu.
Masih di pagi yang sama tapi di tempat yang berbeda, nampak tiga orang pria sedang berbincang. Saat ini mereka sedang duduk tak jauh dari sebuah warung kopi dengan membicarakan penawaran yang baru saja mereka terima.
"Apa kalian tidak curiga? Semalam yang kita temui itu dokter yang sedang menjadi buronan?"
"Curiga sih, tapi bukankah yang penting kita dapat bayaran yang tinggi? Kapan lagi kita ada kesempatan menculik tapi dibayar seratus juta tunai, tanpa pakai ancaman."
"Benar juga? Hahaha ... Ya udah setelah ini, kita langsung beraksi saja."
__ADS_1
"Siap!"
...@@@@@...