HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Gimana Caranya?


__ADS_3

Pria bertato ular kobra itu keluar dari sebuah ruangan yang dia rahasiakan, lalu masuk ke ruangan lain untuk berganti pakaian. pria bertato itu memiliki tujuan tersendiri kenapa harus berganti pakaian jika menemui tamu atau berinteraksi dengan orang lain. Setelah terlihat cukup rapi, pria itu segera keluar ke tempat dimana dia biasa menerima tamu.


Seorang wanita yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan di tempat dia berada, seketika langsung berdiri saat matanya menangkap sosok pria gagah dan berkarisma. Wanita itu lantas tersenyum dan sedikit membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat kepada tuan rumah. "Selamat petang, Mbah Wiro," sapa wanita itu.


Pria yang dipanggil Mbah Wiro lantas membalas senyuman tamu wanitanya dan dengan senyuman yang mampu membuat wanita itu terpana. "Selamat malam juga," balas Mbah Wiro dengan suara yang berat. Sebenernya pria itu belum terlalu tua, badannya masih tegap dan senyumnya nampak menawan meski kulitnya lebih gelap. "Mbak siapa ya?"


"Saya Antika,Tuan, itu nama panggung saya," jawab wanita itu nampak malu malu.


"Kenapa pakai nama panggung? Padahal wajahnya cantik loh. Pasti nama aslinya juha cantik," Mbah Wiro memgeluarkan jurus gombalannya seperti biasa. "Apa kamu seorang biduan? Sampai memiliki nama panggung?"


"Iya, Mbah, saya seorang biduan kampung, tapi sepi job, Mbah," wanita itu menjawab jujur sekaligus mengeluh juga.


"Sepi, Job? Kenapa?" sebenarnya Mbah Wiro tahu tujuan wanita itu datang ke tempatnya. Tapi biar terkesan alami, Mbah Wiro sengaja melakukan tanya jawab seperti itu, agar bisa leboh dekat dengan pasiennya.


"Biasa, Mbah, kalah sama saingan, makanya saat saya mendengar kehebatan Mbah Wiro dari teman saya, saya langsung minta alamatnya. Saya ingin aura saya semakin bersinar, Mbah, agar saya juga laku keras."


"Hehehe ... "Mbah Wiro terkekeh. "Kamu yakin kalau saya mampu melakukannya?"

__ADS_1


"Mbah Wiro jangan merendah, hampir semua biduan saingan saya, memakai jasa Mbah Wiro, jelas aku yakin lah, Mbah."


Mbah Wiro masih tersenyum lebar sambil manggut manggut. "Baikah saya akan bantu kamu kalau kamu benar benar siap. Asal kamu mau memenuhi syarat syaratnya, maka saya bisa membantu kamu."


"Syarat syaratnya apa saja, Mbah?" tanya sang biduan dengan sangat antusias.


"Ritual utamanya sebenarnya hanya bisa dilakukan saat tengah malam, tapi sambil menunggu ritul utama, kamu bisa melakukan ritual lainnya sebagai penguat aura agar bersinarnya sangat tahan lama."


"Wahh! Aku mau, Mbah!" Sang biduan semakin antusias. "Seperti apa ritualnya, Mbah?"


Sang biduan mengangguk lalu membaca tulisan pada kertas yang sudah di laminating. Kening wanita itu terlihat berkerut, tapi tak lama setelahnya, wanita itu tersenyum cerah. "Saya bersedia, Mbah."


Mbah Wiro kembali ikut tersenyum. "Ya sudah kamu masuk kesana dulu, dan lakukan seperti yang saya perintahkan dalam tulisan itu. Saya akan siapkan alat alat ritualnya."


"Baik, Mbah," sang biduan nampak bersemangat, dia segera berdiri menuju ruangan lain yang ditunjuk Mbah Wiro. Sedangkan Mbah Wiro menatap kepergian sang biduan dengan seringai jahatnya.


Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Ozil kembali masuk ke dalam kamarnya. Setelah ngobrol dengan para hantu, kelima hantu wanita itu kembali pergi untuk memanttau dua penjahat. Sedangkan Ozil merasa galau akibat dari pembicaraannya dengan para hantu.

__ADS_1


"Darimana, Bang?" tanya Seruni begitu melihat Ozil masuk kamar setelah tadi keluar dalam waktu yang cukup lama. Seruni yang awalnya rebahan, langsung duduk saat ada Ozil di sana.


"Nggak kemana mana, hanya duduk di depan tadi," jawab Ozil lalu dia duduk dilantai. Ozil mengeccek ponselnya dan jam sudah menunjukan pukul enam malam lebih tiga puluh menit. "Kamu lapar nggak? Kamu mau makan apa?"


"Aku udah pesen makanan buat kita, mungkin sebentar lagi makanannya datang," jawaban Seruni cukup membuat Ozil terkejut.


"Kamu beliin makanan buat aku?" tanya Ozil, dan seketika Seruni mengangguk dengan cepat. "Kenapa aku dibeliin? Nanti uang kamu cepat habis?"


"Kan aku masih memiliki kartu. untung saja semua kartu nggak aku bawa," jawab Seruni santai.


"Bukankah nanti kalau kamu ambil uang pakai kartu, kamu bakalan ketahuan keluarga kamu? Kan bisa dilacak?"


"Kamu tenang saja, aku sudah merencanakannya dengan baik." jawaban Seruni yang nampak yakin membuat Ozil langsung terdiam mengalah. Pemuda itu lantas kembali menatap layar ponselnya dengan pikiran yang sebenarnya tidak tenang.


"Gimana caranya aku ngajak Seruni berhubungan enak enak ya?" gumam Ozil dalam hati.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2