HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Khawatirnya Para Hantu


__ADS_3

"Gimana ini? Apa selamanya kita akan jadi hantu? Aku nggak mau mati konyol kayak gini?" ucap salah satu hantu dengan rasa khawatirnya yang begitu tinggi, usai mendengar rencana dari dokter yang sedang mereka awasi. Para hantu tidak menyangka kalau sang dokter memiliki rencana tak terduga seperti itu.


"Bukan kamu aja, Mel, aku juga nggak mau mati dengan cara seperti ini. Mati karena kecelakaan aja ogah, apa lagi mati hanya untuk tumbal. Kita yang susah, mereka yang menikmati hasilnya," sungut Lili dengan kegeraman yang sedang dia tahan.


"Lalu kita harus bagaimana? Kita bahkan tidak tahu korban berikutnya ada dimana," sahut Anggrek. "Kalian tadi dengar sendiri bukan? Untuk menghindari korban kabur lagi, Dokter Sakurata, hanya menghubungi orang suruhannya melalui ponsel. Bener benar rencana yang sangat matang."


"Bagaimana kalau kita menggunakan kekuatan kita aja untuk ngasih pelajaran sama mereka," Mawar menimpali. "Biar mereka tahu, kalau mereka telah salah pilih lawan."


"Jangan dulu," cegah Cempaka. "Tadi kamu dengar kan, War, kalau dokter Sakurata mencurigai seseorang yang mungkin musuh bos para penjahat? Kalau kita menggunakan kekuatan kita, itu sama saja dengan kita menunjukkan kalau dugaan mereka itu benar. Maka itu kita jangan gegabah. Aku ngerti perasaan kalian seperti apa saat ini, tapi kita masih ada kesempatan untuk selamat, kan?"


"Iya juga sih," sahut Melati. "Tadi kita juga mendengar kalau mereka akan menguji dahulu soal orang yang katanya musuhnya bos mereka, baru membawa korban ke rumah bos saat keadaan aman. Berarti kita memang masih memiliki waktu."

__ADS_1


"Nah, oleh karena itu, kita jangan gegabah. Tadi kan Bang Ozil bilang sesuatu, kita tunggu aja Bang Ozil pulang dan kita juga kasih tahu informasi ini. Aku yakin, Bang Ozil nanti pasti akan mengambil tindakan. Kita percaya sama Bang Ozil kan?" ucap Cempaka lagi.


Seperti biasanya, ke empat hantu lainnya sangat setuju dengan ucapan Cempaka. Mereka semua berharap, akan ada keajaiban buat mereka nantinya.


Sementara itu, Ozil sendiri masih berbaring di atas ranjang Mbak Lisa. Pemuda itu masih tidak percaya kalau dalam dua hari ini, dia bisa menikmati tiga lubang wanita secara berturut turut. Walapun yang paling nikmat adalah lubangnya Seruni, tapi Ozil tidak menyangkal kalau lubang dua janda, juga masih sangat layak untuk dinikmati. Dan yang membuat Ozil semakin senang, tidak ada perlu ada kata cinta, untuk menikmati tubuh tiga wanita itu.


"Masakan Mbak Lisa sepertinya enak nih?" gumam Ozil saat mencium bau masakan. Pemuda itupun bangkit dari berbaringnya. Tanpa menggunakan apapun untuk menutupi tubuhnya, Ozil melenggang keluar kamar menuju ke arah dapur. "Baunya enak banget, Mbak."


Ozil juga tersenyum lalu melangkah mendekat dan tanpa canggung dia memeluk Mbak Lisa dari belakang. Namun sebelum itu, Ozil terlebih dahulu membuka baju yang dikenakan Mbak Lisa. Wanita itu pun pasrah saja saat Ozil melepas bajunya. "kamu nakal banget sih? Pake ngelepasin bajuku segala?"


"Ya biar imbang dong, Mbak. Aku pikir tadi kamu keluar nggak pakai baju," ucap Ozil dengan tangan yang mulai nakal. "Sepertinya masakan kamu enak, Mbak. Aku semakin lapar."

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Ini udah matang kok," jawab Mbak Lisa yang membiarkan saja tangan Ozil menyentuh apapun pada tubuhnya. Wanita itu terus melakukan pekerjaannya hingga selesai. "Udah selesai nih! Yok, kita makan."


Ozil melepas pelukannya dan ikut membantu mengangkat dua piring, dua gelas dan air minum. Mereka makan bersama di depan televisi di atas karpet. "Bener kan! Masakan kamu enak, Mbak," seru Ozil yang sudah mulai menikmati santapannya.


Mbak Lisa sontak kembali tersenyum mendapat pujian seperti itu. "Kamu nginep aja ya, Zil. Besok aku masakin lagi, gimana?"


"Waduh, nggak bisa lah, Mbak. Aku belum ijin sama Mas Ari. Lagian kemarin malam aku sudah nginep dikontrakan teman aku. Kalau sekarang pergi lagi, aku alasannya apa,"


"Oh, kamu semalam nggak di mess," Mbak Lisa berkata dengan perasaan yang sedikit kecewa. "Ya udah kalau kamu nggak mau."


"Tapi nanti kalau Mbak mau main lagi sebelum aku pulang, aku mau kok Mbak, aku pengin dipuasin lagi kayak tadi," ucap Ozil yang sepertinya tahu apa keinginan yang sebenarnya dari janda itu. Sesuai dugaan, janda itu langsung mau dan senyumnya terlihat ceria. Mereka lantas melanjutkan obrolan sambil menikmati hidangan yang ada. Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke kamar untuk melakukan ronde kedua.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2