
Keanehan demi keanehan sering bermunculan setiap Ozil dan para hantu sedang membahas sesuatu. Mereka selalu menemukan keanehan yang akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan dan rasa penasaran. Mereka juga sering menyangkut pautkan keanehan yang di alami dengan keadaan para hantu yang mungkin sebenarnya masih ada harapan kalau mereka masih hidup.
Seperti siang ini, Ozil dan para hantu juga menemukan keanehan yang mengarah ke pemikiran yang membuat para hantu yakin kalau mereka kemungkinan besar masih hidup. Entah berada di bumi sebelah mana, tubuh mereka berada saat ini. Yang pasti para hantu bertekad akan terus berusaha untuk mengingat dan menemukannya.
"Baru jam dua kurang, apa sebaiknya aku ke Bank sekarang ya?" ucap Ozil begitu melihat jam yang tertera pada layar ponsel saat dia sedang terbaring di kamarnya. Mungkin karena udara yang panas, sentuhan dingin para hantu di tubuh Ozil malah terasa menyejukkan.
"Ke Bank ngapain? Bikin rekening?' tanya Lili yang saat itu kebagian mengusap dada bidang Ozil sebelah kiri.
"Iya, biar kalau gajian lebih mudah, dan juga kirim kirim ke kampung juga mudah," jawab Ozil langsung bangkit sampai para hantu wanita menghentikan kegiatan nakalnya.
"Udah tegang banget tapi kok nggak mau keluar, Bang?' tanya Anggrek yang kebagian meraba isi kolor.
Seketika Ozil malah terkekeh. "Mungkin karena tangan kamu dingin, jadi benih benih aku pada beku di dalam."
"Hahaha ... mana mungkin?" suara tawa Annggrek langsung menggelegar diikuti oleh hantu yang lain.
__ADS_1
"Apa Bang Ozil nggak ada rasa ingin nyemburin benih gitu?" tanya Melati.
"Ya penginlah. Apa lagi kalau lihat benda benda di baju kalian. Tapi sayang, aku nggak bisa menyentuhnya. Coba kalian bisa disentuh juga, pasti aku nggak repot kalau ingin mengeluarkan benih."
Para hantu wanita hanya saling senyum. Mereka juga tidak tahu harus berbuat apa agar bisa saling menyentuh dengan satu satunya orang yang bisa mereka sentuh. Ozil lantas bangkit dan memakai pakaian yang tadi dipakai buat kerja, lalu langsung menenteng tas slempang buluknya. Tak lupa juga ponsel dengan ram segiga dan juga uang pemberian sang bos, dia bawa juga.
"Mau kemana, Zil?" tanya Pak Satpam saat melihat Ozil hendak keluar menggunakan motor.
"Mau ke bank, Pak, bikin rekening," jawab Ozil. "Tadinya mau bikin bareng sama Mbak Lisa, tapi karena ada masalah, Mbak Lisa jadi berangkat kerja sendiri. Nggak enak aku karena nggak jadi bantuin."
Pak Satpam lantas menyunggingkan senyum. "Ya nggak apa apa. Itukan kejadian tidak terduga. Bapak salut sama kamu, berani menghadapi para penculik sendirian. Bahkan kamu nyaris nggak terluka."
Pak satpam langsung mengiyakan. Ozil pun langsung saja berangkat menuju Bank yang sudah memiliki nama besar dan lokasinya juga tidak terlalu jauh. Begitu sampai tujuan, Ozil langsung mengambil nomer antrian di dekat pintu masuk dan menunggu beberapa saat. Karena sudah siang, bahkan hampir sore, tidak terlalu banyak nasabah yang mengantri.
Selesai dengan urusan Bank, Ozil memilih kembali pulang. Sesampainya di kantor, Ozil melihat sebuah mobil ada disana. Padahal tadi saar Ozil berangkat ke Bank, hanya ada mobill lain. Tapi sekarang saat pulang, malah mobil lain yang sudah tidak kelihatan. Karena Ozil merasa mengenal mobil itu, dia lantas masuk ke kantor begitu turun dari motor.
__ADS_1
"Hy, Zil, kamu dari mana?" sapa salah satu wanita begitu melihat Ozil masuk. Wanita itu sedang duduk di mejanya sambil menghadap layar laptop.
"Dari Bank, Mbak, habis bikin rekening," jawab Ozil sambil melangkah menuju meja wanita itu. "Mbak Rini kok kembali ke kantor? Apa ada yang ketinggalan?"
"Nggak ada sih, Zil. Cuma tadi kan Mbak menemui klien di daerah dekat sini. baru ngajuin pendaftaran pernikahan untuk dua bulan ke depan. Mbak terpaksa dong harus membuat referensi pernikahan dengan biaya yang mereka ajukan."
"Emang biayanya beda beda, Mbak?" tanya Ozil yang sudah duduk di kursi yang ada diseberang meja kerja Mbak Rini.
"Ya beda beda dong, Zil. Kan ada beberapa paket pilihan. Emang kamu nggak tahu?"
"Ya tahu sih, Mbak, cuma kan aku nggak tahu kalau misal kita punya biaya segini bagaimana gitu. Itu yang baru aku tahu."
"Hahaha ... kirain kamu udah tahu," sahut Mbak Rini. "Oh iya, Zil, gimana dengan penawaranku. Kamu mau nggak?"
"Penawaran yang mana, Mbak?"
__ADS_1
"Ngajarin aku bela diri. Mau ya? Nanti belajarnya di rumahku, gimana?"
...@@@@@...