HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Antara Senang Dan Gusar


__ADS_3

Setelah mendapat izin dan juga mendapat pesan agar meminta Seruni untuk menghadap Mas Ari, Ozil segera saja bergegas kembali ke tempat tinggalnya guna menyampaikan pesan kepada Seruni. Di sepanjang jalan senyum Ozil terkembang cukup sempurna dengan segala pemikiran yang indah indah.


Bagaimana Ozil tidak senang, dengan adanya Seruni, tidur Ozil menjadi lebih hangat. Apa lagi Seruni diam diam suka memegang isi celana Ozil saat tidur, hal itu membuat Ozil terlalu senang sampai ingin mengulangnya kembali. Menurut Ozil, dia sangat merasa nyaman jika isi celananya digenggam oleh tangan lembut milik wanita yang di tolong para hantu.


"Loh, kamu Seruni kan? Putrinya Tuan Cin Cing wae?" seru Mbak Anin begtu Seruni dan Ozil sudah berada di rumah sang bos beberapa puluh menit kemudian.


Seruni lantas tersenyum. "Iya, kak. Kakak kenal ayah saya?"


"Ya tentu kenal lah," ucap Mbak Anin sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk di sebelahnya sambil memangku anak kedua mereka. "kakak pertama kamu kan pas nikah pakai WO aku, Run."


"Oh, gitu?" balas Seruni. "Pantas tadi pas aku baca nama kantornya, aku kayak kenal, kak."


"Ya memang seharusnya kamu memang mengenalnya, hehehe ..." jawab Mbak Anin terlihat sangat antusias. "Kamu yakin? Mau tinggal bareng Ozil? Kalau tinggal disini aja gimana?"

__ADS_1


"Tidak lah, Kak, aku sama Bang Ozil aja. Kelihatannya, dia orang baik," balasan Seruni seketika membuat Ozil senyum senyum kepedean. "Lagian kalau aku disini, nggak enak sama kalian juga. Takutnya terjadi hal hal yang tidak diinginkan, kak."


"Hal yang tidak dinginkan? Maksudnya?" tanya Mbak Anin lagi. Ozil dan Mas Ari cukup menjadi pendengar dari pembicaraan dua wanita itu.


"Kakak tahu kan, godaan perselingkuhan bisa datang dari arah mana saja. Aku nggak mau, apa yang aku alami, dialami juga sama keluarga kakak. Bukankah lebih baik mencegah, kak?"


"Benar itu," seru Mas Ari tiba tiba ikut mengelouarkan suaranya. "Makanya aku nyari pekerja juga yang anti perselingkuhan. Bahkan yang bantu istri aja, aku nayri yang udah paru baya dan tidak menginap di rumah."


"Ya sudah, terserah kamu saja, keputusan kamu gimana," Mbak Anin pun pasrah. "Tapi kamu beneran? Sudah yakin dengan keputusan kamu?"


Banyak pembahasan yang terjadi pada empat orang yang ada di sana. Yang menjadi topik utama dari pembicaraan mereka adalah tentang penculikan dan pengkhianatan. Ozil dan Seruni berada di sana cukup lama. Hingga dua jam kemudian, Seruni memilih pamit karena harrus pergi ke apartemennyya untuk mengambil pakaian. Pulang dari rumah Mas Ari, ozil dan Seruni langsung berangkat menuju ke apartemen.


"Aman nggak? Nanti di sana banyak yang kenal kamu kan?" tanya Ozil begitu mereka sampai pada jarak yang sudahh cukup dengan letak apatermen yang dihuni Seruni setelah menenpuh waktu perjalanan hampir satu jam lamanya.

__ADS_1


"Aman, tenang saja, aku tahu kok, mana orang yang bisa aku percaya atau tidak," jawab Seruni dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi. "Kamu tunggu di sini saja, aku tidak akan lama. Aku akan masuk sendirian saja," Mau tidak mau, Ozil langsung setuju. Dengan melangkah secara waspada, Seruni langsung masuk menuju ke apartemen.


Cukup lama Ozil menunggunya sampai dia merasa khawatir. Tiga puluh menit kemudian, baru Ozil merasa lega begitu melihat wanita yang sedang menarik koper dan melangkah ke arahnya. begitu sampai didekat Ozil, Seruni meminta Ozil segera saja menjalankan motornya. Begitu jarak tempuh sudah cukup jauh, Seruni minta berhenti di sebuah warung bakso.


"Kamu nggak risih dekat dekat sama cowok miskin kayak aku, Run?" tanya Ozil disela sela menikmati hidangan baksonya. "Secara kamu kan anak konglomerat. biasa bergaaul sama orang orang kaya."


Seruni lantas terkekeh. "Tergantung orangnya sih, Bang," jawab Seruni. "Jujur sih aku dulu trauma berteman dengan orang orang miskin. Mereka sama aja kayak orang kaya, kalau menjalin pertemanan itu selalu saja nggak tulus. Mereka mau mendekati aku gara gara aku anak orang kaya. Memanfaatkan statusku saja. Dulu sih aku pikir mereka tulus, tapi saat aku tahu mereka suka menjelek jelekkan aku di belakang, ya udah, aku langsung membenci orang orang miskin yang gayanya kayak orang yang memiliki duit banyak."


Ozil nampak mengangguk beberapa kali. "Tapi kalau aku ternyata nggak tulus, gimana?"


"Hahaha .. nggak mungkin," Seruni langsung menunjukkan ekspresi tidak percayanya. "Aku udah bisa nebak kalau kamu tulus, jadi ya aku aman aja."


Ozil hanya mencebikkan bibirnya. "Nanti, kita beli kasur lagi ya? Biar tempat tidrunya lebih luas."

__ADS_1


"Nggak mau. Aku lebih suka kayak semalam tidurnya, hangat," ucap Seruni nampak bersemangat. Sedangkan Ozil, wajahnya menunjukan rasa heran, tapi hatinya sangat senang dan bersorak riang.


...@@@@@@...


__ADS_2