
Ozil saat ini banyak diberondong pertanyaan dari beberapa orang yang ada di sekelilingnya. Kebanyakan mereka yang ada di sana, menanyakan hal hal yang bersifat pribadi dan Ozil menjawab dengan jujur apa adanya. Bahkan tak jarang pula ada pertanyaan dari beberapa orang yang membuat pemuda itu malu setengah mati.
Ozil juga masih berada di rumah bosnya, bertemu dengan para orang tua yang anaknya berhasil selamat dari korban penculikan. Menurut kabar yang Ozil dengar, para orang tua kehilangan anak anak mereka di hari yang berbeda beda. Dari cerita mereka pula, Ozil tahu kalau orang tua korban penculikan itu memang berasal dari keluarga yang cukup kaya.
Hampir tiga jam lamanya, Ozil bercengkrama dengan para orang tua korban penculikan anak. Mereka juga memberikan sejumlah uang kepada Ozil sebagai bentuk dan ungkapan terima kasih karena telah menyelamatkan anak anak mereka. Setelah obrolan santai dirasa cukup, satu persatu para orang tua itu pamit karena mereka juga ada kegiatan lainnya.
"Kalau butuh pijat lagi, jangan sungkan ngomong sama saya ya, Zil. Saya pastikan, kamu akan mendapatkan pelayanan yang sangat istimewa tanpa dipungut biaya," tawar seorang bapak saat menjabat tangan Ozil ketika pamit.
"Terima kasih, Pak," cuma itu yang bisa Ozil katakan sambil mengulas senyum. Bukannya menolak, tapi Ozil cukup bingung saja harus menanggapinya dengan cara seperti apa. Perlakuan dari tukang pijat yang dikirim pria itu sangat berkesan, jadi mana mungkin Ozil berani menolaknya.
"Gimana, Zil, rasannya dipijat? Enak?" tanya Mas Ari begitu tamunya sudah menghilang dari halaman rumahnya.
"Ya enak, Mas," jawab Ozil sambil senyum senyum.
"Ya enak lah, udah gratis, dapat layanan vvip pula," celetuk Mbak Anin membuat Ozil salah tingkah.
Mas Ari dan Mbak Anin lantas tersenyum. "Tapi jangan kebablasan ya, Zil, ingat juga pesan orang tua kamu."
"Baik, Mas. Kalau begitu, aku pulang dulu, Mas, udah sore?"
__ADS_1
"Kamu bawa nasi sekalian aja ya? Tuh, makanan masih ada sisa," ucap Mbak Anin. "Tunggu sebentar, biar aku bungkusin."
"Makasih, Mbak," Ozil hendak menolak, tapi karena tahu penolakannya bakalan sia sia, Ozil lantas mau menunggunya. Sambil menunggu, Ozil kembali terlibat pembicaraan dengan Mas Ari. Tentunya pembicaraan soal pekerjaan dan hal hal lainnya.
"Ponsel kamu lucu amat, Zil," celetuk Mas Ari saat melihat Ozil mengeluarkan ponsel dari sakunya karena ada pesan masuk.
"Ponsel murah, Mas. Beli bekas dulu. Lumayan lah, buat komunikasi," jawab Ozil malu malu.
"Mah, sekalian ambilin ponsel Papah yang tidak terpakai!" teriak Mas Ari tiba tiba dan itu cukup mengejutkan bagi Ozil. Padahal Mas Ari sendiri sedang memegang ponselnya. Tak lama kemudian, Mbak Anin datang dengan membawa nasi dan beberapa lauk yang dibungkus terpisah serta sebuah kotak pesanan suaminya.
"Nih, Zil, pilih aja mana yang kamu mau," Mas Ari menyodorkan kotak yang tadi dia terima dari istrinya ke hadapan Ozil.
"Ambil aja yang kamu suka. Itu ponsel bekas aku dan istri aku yang udah nggak kepake. Masih bagus bagus kok. Ambil aja satu," ucap Mas Ari.
"Iya, Zil. nggak apa apa, ambil aja," Mbak Anin pun ikut memprovokasi. Ozil dengan canggung menerima kotak itu dan memilih ponsel yang menurutnya bagus.
"Aku ambil ini aja, Mas," Ozil mengangkat ponsel merk sungsang yang diperkirakan harga bekasnya masih sekitar tiga jutaan.
"Nggak itu, yang apel terbelah?"
__ADS_1
"Nggak, Mas. Kurang suka ponsel merk itu."
Mas Ari hanya mengangguk saja. Lalu setelah basa basi sejenak akhirnya Ozil pun pamit. Pemuda itu benar benar senang dengan apa yang dia dapatkan hari ini. Mendapat uang dengan jumlah yang lumayan banyak dan juga ponsel yang masih bagus serta beberapa lauk untuk makan malam. Begitu sampai tempat tinggalnya, seperti biasa, Ozil langsung ganti baju menggunakan celana kolor dan mencoba ponsel barunya.
"Ciyee! Dapat ponsel baru nih!" seru hantu yang baru saja muncul bersama hantu yang lainnya. "Baru beli, Bang?"
"Enggak. Dikasih bos aku tadi," jawab Ozil tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.
"Lumayan itu, masih bagus."
Ozil langsung tersenyum. Karena baterai ponsel itu lemah, Ozil segera mengisinya dengan daya. Beruntung, Ozil mendapat penambah daya juga karena jenis penambah daya ponsel barunya berbeda dengan ponsel lama miliknya.
"Kalian tadi ngapain aja? Nggak berbuat yang aneh aneh kan?" tanya Ozil melayangkan pandangannya ke arah wajah para hantu, satu persatu.
Para hantu saling pandang dan sejenak kemudian, tawa merreka pecah. "Hahaha ... nggak kok, Bang. Kami hanya membantu Mauren melampiaskan pengaruh obat perangsangnya."
"Jadi yang dicampur ke dalam minuman Leo, obat perangsang?" para hantu langsung mengangguk dengan senyum yang tidak surut. "Astaga!"
...@@@@@...
__ADS_1