
Paginya di tempat lain, tepatnya di kamar Ozil, pemuda itu dan wanita yang memeluknya sama sama terbangun karena bunyi alarm yang berasal dari ponsel Ozil. Bunyi alarm itu memang sudah diatur secara otomatis oleh pemuda itu agar dia tidak bangun kesiangan jika jam kerjanya tiba.
Ozil dan Seruni nampak menggeliat bersama. Ozil jelas sangat merasa kalau saat ini dia memang tidak memakai apa apa. Benda di bawah perutnya pun menegang seperti biasanya jika Ozil bangun tidur. Ozil langsung meraih ponselnya untuk mematikan bunyai Alarm. Setelah itu dia bangkit dan duduk sejenak.
Mata Ozil menatap wanita yang enggan membuka matanya. Sepertinya wanita itu masih ingin berlama lama menikmati waktu tidurnya. Senyum Ozil pun terkembang saat dirinya mengingat kejadian semalam yang sangat membuatnyaa terkesan. Walaupun hanya permainan mulut, tapi hal itu cukup membuat Ozil senang. Puas memandangi wajah Seruni, Ozil bangkit lalu memakai kolor dan mengambil kaos di dalam lemari. Setelah siap, Ozil bergegas keluar kamar untuk melaksanakan tugas paginya.
Hingga beberapa puluh menit selanjutnya saat Ozil sudah selesai membersihkan dan merapikan ruangan kantor, Ozil dibuat terkejut begitu dia masuk ke dalam kamar, Seruni nampak sudah terlihat rapi. "Mau kemana? Kok Sudah rapi?"
Seruni lantas tersenyum. "Rapi apaan, ini aja aku belum mandi," jawabnya. "Aku mau keluar sebentar, ada yang harus aku urus."
"Kamu berani pergi sendirian?" tanya Ozil lagi dengan tatapan terlihat khawatir dan tidak percaya dengan sikap wanita itu.
"Berani dong, tenang aja, aku kan nyamar. Kamu jangan khawatir," disaat Seruni hendak membalas ucapan Ozil, ponsel milik Seruni berdentang, menandakan kalau ada pesan yang masuk. Seruni langsung membaca pesan tersebut. "Taksi online ku sudah datang, aku berangkat dulu ya?"
Ozil hanya mengangguk beberapa saat dengan sikap yang masih menunjukan rasa khawatirnya. Seruni mendekat dan berdiri di hadapan Ozil, membuat pemuda itu kaget sampai keningnya langsung berkerut. Seruni meminta Ozil untuk membungkukan badan sejenak. Dengan tatapan aneh, Ozil menurutinya.
__ADS_1
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Ozil, menyebabkan mata pemuda itu membelalak seketika.
Cup!
Kecupan kedua mendarat di pipi kirinya, dan Ozil masih syok dengan apa yang dia alami sekarang.
"Aku berangkat dulu, bye!" Seruni langsung melesat pergi, meningggalkan Ozil yang masih terpaku karena dua kecupan yang membuat jantung Ozil tidak baik baik saja. Namun beberapa detik kemudian senyum Ozil terkembang cukup lebar sambil mengusap kedua pipinya.
"Ahhh, ternyata begini rasanya," gumam Ozil berseri seri. Ozil kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang berbunga bunga. Tingkah Seruni benar benar membuat pemuda itu sangat semangat dalam menjalankan pekerjaannya. Hingga satu jam kemudian saat semua orang kantor sudah berada di tempatnya.
"Iya, Mas, dari pihak Marsel sudah memberi klarifikasi. Nanti dia ngajak saya untuk bertemu, Mas, membahas masalah ini," jawab Lisa dengan lugas.
"Baguslah, rinci semua biaya yang sudah kita keluarkan. Karena hampir delapan puluh persen persiapannya kan?"
__ADS_1
"Iya, Mas, ini aku sedang memprsiapkan semuanya."
"Oke," jawab Mas Ari, lalu pria itu menatap semua karyawannya. "Apa pekerjaan kalian semua lancar? Kalau ada kendala, jangan lupa secepatnya hubungi saya?"
"Untuk saat ini tidak ada, Mas, semua lancar," celetuk Santos dan ucapannya cukup mewakili para karyawan lainnya. Mas Ari terlihat lega, lalu dia beranjak ke dalam ruang pribadinya.
Ozil sendiri saat ini sedang membuatkan minuman untuk para karyawan. Ada teh manis, teh tawar dan air putih hangat. Setelah semuanya siap, Ozl seger mengantar minuman itu ke meja masing masing sesuai pesanan.
"Zil, nanti habis makan siang kamu ikut aku ya?" ucap Rini begitu melihat Ozil masuk ke area kantor.
"Baik, Mbak," jawab Ozil tanpa menanyakan alasannya. Pemuda itu sudah paham, kalau dia diajak pergi, berarti memang ada pekerjaan yang cukup berat dan wanita itu membutuhkan bantuan. Ozil lantas menaruh satu persatu minuman ke meja masing masing sesuai dengan pesanan mereka.
"Capek, Zil?" tanya Pak Satpam saat Ozil menaruh teh manis untuk penjaga tersebut.
"Belum lah, Pak, masih pagi, tenaganya masih banyak," jawab Ozil sembari duduk diatas kursi lain yang ada di pos jaga.
__ADS_1
Pak satpam malah terkekeh sembari tangannya meraih gelas yang baru sampai dan menyeruput isinya sedikit. Di saaat itu pula, Ozil melihat kelima hantu berdatangan dan memberi kode agar OZil segera ke kamar. Ozil pun menuruti mereka karena penasaran dengan berita yang mereka bawa kali ini.
...@@@@@...