HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Membuat Iri


__ADS_3

Sementara itu di tempat berbeda, seorang pria berbadan tegap dengan salah satu lengannya terdapat tato bergambar ular cobra sedang memandangi lima tubuh tidak bergerak yang dia tempatkan dalam ruang khusus. Lima tubuh milik wanita itu masih dalam keadaan hidup. Mereka hanya dibuat tidak sadarkan diri selama satu tahun ini.


Lima wanita yang sudah dia culik sejak satu tahun yang lalu, nampak masih segar meski mereka tidak bergerak sama sekali. Dengan bantuan seseorang yang dibayar mahal, pria itu bisa membuat lima wanita tetap dalam keadaan hidup meski raganya tidak bergerak sama sekali.


Lima wanita itu juga sudah mengenakan pakaian tipis dan tembus pandang sesuai keinginan dia. Hal itu dilakukan oleh pria bertato agar, jika saatnya tiba untuk persembahan, dia tidak perlu direpotkan dengan masalah pakaian. Entah dia dapat ilmu hitam dari mana, sampai menggunakan cara yang menurutnya memang cukup sulit.


Tidak mudah bagi pria yang akrab dipanggil Mbah Wiro itu untuk mengumpulkan ke lima targetnya. Mencari wanita yang masih bersegel antara usia dua puluh tahun sampai dua puluh lima tahun itu sangat susah di jaman seperti ini. Apa lagi kelima orang itu adalah bukan dari kalangan orang orang biasa. Beruntung, berkat kerjasama Mbah Wiro dengan seorang dokter dari kalangan orang kaya, Mbah Wiro berhasil mengelabui dan mendapatkan kelima wanita itu.


Tanggal kelahiran tertentu juga menjadi pertimbangan Mbah Wiro dalam menentukan targetnya. Kelima wanita yang tidak berdaya, memiliki tanggal kelahiran yang hampir sama. Bukan berdasarkan hari senin tanggal sekian, tapi berdasarkan ilmu kuno tentang penghitungan hari seperti yang digunakan dalam ilmu jawa. Sekarang, Mbah Wiro hanya tinggal menunggu target ke enamnya.


"Bos, ada pasien," ucap sang anak buah yang baru saja masuk dan menghampiri Mbah Wiro.


"Pasien lama atau pasien baru?"


"Pasein baru, Bos."

__ADS_1


"Baiklah, jaga mereka," titah Mbah Wiro, lalu dia berbalik badan dan segera melangkah untuk meninggalkan ruang rahasia itu. Namun sebelium melangkah, Mbah Wiro memberi pesan kepada anak buahnya. "Kemungkinan besok siang dokter Sakurata akan datang, suruh beberapa anak buah untuk bersiap menjemputnya."


"Baik, Bos."


Setelah menyampaikan pesannya, Mbah Wiro langsung saja keluar untuk menemui pasiennya. Seperti biasa, Sang pasien yang seorang wanita selalu akan terkesima dengan pesona yang terpancar pada diri Mbah Wiro. Bukan rahasia umum lagi, jika yang datang ke tempat itu memang lebih banyak pasien wanita dengan berbagai keluhan.


Sedangkan di tempat lain, para hantu nampak kaget. Begitu mereka sampai di tempat persembunyian para penjahat, dua orang yang sedari kemarin mereka awasi nampak tidak ada di sana. Mereka lantas menyelidiki setiap ruangan dan mereka hanya melihat pakaian milik dua pria itu berada di tempatnya.


"Mereka pada pergi kemana? Apa mereka sedang mencari makan?" tanya Anggrek dengan jari telunjuk mengangkat satu persatu segitiga bermuda mlik para penjahat. Tentu saja Anggrek melakukan hal itu dengan kekuatannya.


"Terus, kita di sini ngapain?" tanya Mawar yang memilih rebahan bersama Lili dan Cempaka. "Kalau nggak ngapa ngapain, mending kita ke tempat Bang Ozil yuk."


Tanpa ada berdebatan lagi, kelima hantu langsung saja menghilang dan menuju ke tempat pemuda yang melihat wujud mereka. Namun, betapa terkejutnya mereka saat sampai di tempat tujuan, melihat adegan yang tidak biasa di dalam kamar Ozil. Karena mata Ozil terpejam, dia tidak menyadari kedatangan kelima hantu itu. Mereka langsung disuguhi permainan mulut yang sedang dilakukan oleh Seruni.


"Ya ampun, aku pengin," suara Anggrek sontak saja mengejutkan pemuda yang ada di sana. Mata Ozil langsung membelalak saat melihat kelima hantu sudah mengelilingi tubuhnya, dengan mata mereka yang menatap ke satu arah yaitu batang Ozil yang sedng dinikmati oleh Seruni. Karena para hantu tidak memyadari Ozil melihat mereka, pemuda itu kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kok mainin batangnya kayak enak banget?" celetuk Lili. Ozil yang mendengarnya hanya bisa diam tidak berkutik.


"Sepertinya Bang Ozil belum mandi tuh, masih pakai kemeja buat kerja," sahut Melati.


"Akhh, serius aku kepengin kayak Seruni," rengek Mawar.


"Sama, aku juga," Cempaka menimpali, dan kelima hantu terus menonton permainan mulut Seruni dengan air liur yang menetes.


"Daripada kita disini, cuma iri doang, mending kita keluar yuk ah," ajak Anggrek. Tanpa menunggu persetujuan, hantu itu pergi terlebih dahulu. Hantu yang lain pun pada menyusul. Mereka memilih untuk duduk di taman yang ada di samping rumah.


Di saat mereka sedang berkeluh kesah, mata salah satu hantu membulat ketika menatap ke arah gerbang.


"Mereka kok ada disini?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2