
Mobil yang diikuti para hantu kini sudah sampai ke tempat tujuan. Entah apa yang akan dilakukan kelima hantu itu, yang pasti mereka sangat geram kepada wanita yang sekarang sedang berada di rumah milik seorang pria. Rumah berlantai dua itu nampak sedikit berantakan karena sedang ada dua tukang di belakang rumah yang sedang memasang keramik.
Terlihat si pria nampak sedang mengawasi dua tukang itu. sesekali pertanyaaan pun meluncur dari mulut si pria. Saat itu memang sudah sore dan si tukang sebentar lagi akan selesai dengan pekerjaannya. Sedangkan wanita bernama Amel berdiri di belakang si pria dan hanya memperhatikan saja.
"Sepertinya aku punya ide," ucap Melati lalu dia langsung fokus menatap pakaian yang dikenakan Amel. Wanita itu memakai rok longgar cukup pendek dengan atasan tengtop yang dilapisi kain berlengan panjang tanpa ada kancing bajunya. Melati perlahan mengendalikan rok itu agar terangkat ke atas.
Mata dua tukang keramik sontak saja membelalak melihat benda segitiga tipis berwarna putih yang menutupi isi celana Amel. Melati menggerakan rok Amel seolah olah tertiup angin sehingga rok itu bergerak naik turun. Amel yang menyadari rok nya bergerak, langsung memekik terkejut sambil tangannya menahan rok yang dia pakai.
"Astaga! Angin kurang ajar," gerutu Amel yang langsung memalingkan wajah si pria ke arrahnya. Sedangkan si tukang senyum senyum sendiri tanpa kedua orang itu sadari.
"Kenapa, Mel?" tanya si pria.
"Nggak apa apa. Ini, angin, nerbangin rok aku," ucap Amel sambil masuk ke dalam.
"Ya udah, kamu langsung ke kamar aja," titah si pria, dan Amel langsung mengiyakan. Wanita itu bergegas menuju ke arah tangga. Tapi para hantu tidak berhenti di situ saja, terutama Melati. Dia langsung mengendalikan salah satu kaki Amel yang sedang menaiki anak tangga. Saat telapak kaki Amel menginjak di anak tangga yang ke kelima, Melati menarik kaki Amel hingga dia terpeset dan berguling ke bawah.
DuggH!
__ADS_1
"Akhh!" Amel memekik kesakitan dan teriakannya sukses mencuri perhatian tiga pria yang ada di belakang. Mereka segera saja bangkit dan bergegas beranjak menuju ke sumber suara teriakan tadi.
"Amel!" seru si pria langsung berjongkok menghampiri Amel yang sedang memgangi kakinya. "Kamu kenapa?"
"Aku terpeleset. Kakiku terkilir," jawab Amel agak terbata sambil memegangi kaki kanannya.
"Aduh, ada ada sih? Kenapa bisa sampai terpeleset gitu?" sungut si pria sambil membantu memapah tubuh Amel menuju kursi yang ada di dekat tangga menghadap ke arah arah belakang.
"Ya aku mana tahu," sungut Amel.
"Duh. Ya udah, nanti aku coba pijat bentar. Aku nyari balsem dulu," si pria bergegas pergi menuju ke letak kotak obat berada. "Ah nggak ada balsem atau apapun, gimana dong?"
"Ya ke apotik aja bentar, Mas. Mumpung kita masih disini. Bentar lagi kan kita pulang, kita akan meneruskan pekerjaaan kita sambil jagain Mbak nya," usul salah satu tukang.
Si pria nampak berpikir dan dia berdiskusi sejenak dengan Amel. Karena wanita itu terlihat sangat kesakitan, jadi dia setuju saja dengan usulan tukang tersebut. Si pria pun segera pergi dengan mobilnya karena letak apotik cukup jauh dari rumahnya.
Melihat keadaan seperti tu, Melati sepertinya kurang puas mengerjai wanita yang memiliki niat menghancurkan orang tuanya. Melati mempunyai ide yang lebih gila dan dia langsung memberi tahu idenya itu kepada empat hantu lainnya.
__ADS_1
"Kamu gila!" seru Cempaka. "Nanti dia terlihat seperti wanita murah meriah gimana?"
"Ya gimana lagi. Itukan sudah jadi pilihan Amel. Pasti tujuan Amel datang kesini karena mau tidur dengan pria itu bukan?"
"Ah iya, benar juga," seru Anggrek. "Terus kita ngapain, Nih?"
Melati langsung membagi tugas, dua hantu pergi mengikutri si pria dan mengusahakan agar pria itu tidak pulang dengan cepat, dan tiga hantu tetap dirumah itu untuk membuat perhitungan dengan Amel. keputusan pun diambil, Cempaka dan Mawar segera pergi menyusul pria itu, sedangkan Melati bersama Lili dan Anggrek langsung bersiap diri mengerjai Amel.
Pertama, mereka menghembuskan udara dingin ke kaki Amel. "Ini kenapa dingin banget ya?" gumam Amel sampai mengangkat kedua kakinya naik di atas kursi. Setelah itu salah satu dari mereka diam diam mengangkat tempat air minum yang ada di meja sebelah kursi, dimana Amel sedang duduk sambil memegangi kakinya yang terkilir. tempat air yang sudah dibuka tutupnya langsung disiramkan ke tubuh Amel.
Byurr!
Klutak!
"Akhh!" Amel berteriak dengan kencang sampai terperajanjat dan tiba tiba merasakan keanehan. "Apa di rumah ini ada hantu?"
...@@@@@@...
__ADS_1