HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Main Ke Rumah Janda


__ADS_3

"Aku pergi dulu ya?" ucap seorang pria yang nampak rapi dengan balutan kaos putuh dipadu jaket berwarna biru dan memakai celana pendek selutut serta sepatu yang warnanya sama dengan kaos yang dipakai. Pira itu akan pergi ke suatu tempat untuk mengantarkan sebuah benda dan akan menanyakan benda lainnya yang dia temukan pagi tadi.


"Apa kita boleh ikut?" pertanyaan itu bukan keluar dari mulut manusia, melainkan dari salah satu hantu. Pria yang masih berada di kamar itu, tadi pamit kepada lima hantu yang ada di sana.


"Sebaiknya jangan, kalian awasi aja para penjahat seperti biasa," jawab pria bernama Ozil. "Doa kan saja, semoga kepergianku kali ini membawa hasil yang baik buat kalian," setelah mengatakan hal itu Ozil lantas keluar kamar dan mengunci kamar itu.


Kening para hantu sontak berkerut. Mereka langsung melempar pertanyaan satu persatu, meminta penjelasan kepada pria yang saat ini sedang melangkah menuju ke tempat motor yang akan digunakan untuk pergi. Ozil hanya memberikan senyuman tanpa ada niat untuk meemberi jawaban. sampai Ozl pergi, para hantu dibuat penasaran karena Ozil tidak mau menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Apa mending kita ikuti bang Ozil diam diam aja?" usul salah satu hantu kepada empat hantu lainnya yang kini sedang menatap punggung Ozil yang semakin menjuh.


"Sepertinya itu ide bagus," sahut hantu yang lainnya dengan antusias. "Biar kita nggak penasaran."


"Jangan lah," hantu yang diberi nama panggilan Lili menolaknya. "Kita hargai aja permintaan Bang Ozil. kalau pun ini memang demi kebaikan kita, ya mending kita menunggu aja."


"Aku sependapat dengan Lili," Cempaka menimpali. "Mungkin ini juga privasi Bang Ozil juga. Biarkan Bang Ozil juga melakukan sesuatu tanpa harus kita awasi. Siapa tahu juga ini memang kejutan buat kita."


"Iya juga sih," sahut Melati. "Ya udah, mending kita awasi gerak gerik para musuh dan Dokter Sakurata aja. Kali aja mereka ada rencana lain. Apa lagi Seruni dan Zhang lagi nggak bersama Ozil. Takutnya mereka sengaja nggak ketemu, bisa bahaya itu."

__ADS_1


Sudah bisa dipastikan kalau para hantu akhirnya setuju dengan apa yang dikatakan Melati. Mereka lantas menghilang satu persatu menuju ke tempat, dimana para musuh berada. Para musuh saat ini memang sedang bingung, mereka seakan tidak punya cara untuk menemukan dua wanita yang akan mereka bawa ke tempat bos mereka.


"Bagaimana ini? Kalau kita nggak dapatin target itu, bisa bisa kita nggak dapat bayaran," keluh penjahat pertama. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu kontrakannya.


"Ya gimana lagi, orang kita tidak menemukan petunjuk apapun," ucap penjahat kedua. "Satu satunya petunjuk cuma rumah itu doang yang semalam kita awasi."


Wajah ketiga penjahat itu semakin kusut karena mereka cukup frustasi dengan apa yang mereka hadapi kali ini. Di saat itu, ponsel milik salah satu dari mereka berbunyi. Segera saja si pemilik telfon mengangkat terlfon tersebut, dan setelah saling sapa sejenak, si penerima telfon nampak terkejut.


"Apa!"


"Baik, Bos."


Sementara itu di tempat lain.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari sebuah rumah menggema, hingga mengejutkan seorang penghuninya. Penghuni rumah yang sepertinya hendak mandi, sontak menghentikan langkah kakinya begitu mendengar bunyi ketukan pintu di rumahnya. Langkah kakinya berubah arah, dari yang tadinya hendak menuju kamar yang ada di dalam kamarnya, kini dia harus keluar sebentar untuk membukaan pintu. Dengan mengenakan pakaian seperti daster berwarna putih, yang tadi sudah dia lepaskan, orang itu segera saja keluar kamar.

__ADS_1


"Ozil!" pekik si pemilik rumah setelah tahu siapa orang yang sudah mengetuk pintu tadi.


Ozil sontak melempar senyum termanisnya. "Aku ganggu nggak Mbak?" tanyanya basa basi.


"Nggak dong, sini masuk," balas sang tuan rumah yang ternyata adalah seorang wanita dan dia lebih akrab dipanggil Mbak Lisa. "Tumben kamu mau main ke rumahku, ada perlu?" tanya Mbak Lisa setelah mempersilakan Ozil duduk.


"Mumpung ada waktu, Mbak. Kan kamu yang minta aku sesekali main ke sini," balas Ozil dengan ramah. "Apa Mbak Lisa mau pergi?"


"Hehehe ... iya juga sih," jawab Lisa. "Nggak, pergi kemana? Nggak ada niat mau pergi. Udah tua, buat apa keluyuran."


"Ya kan ini malam minggu, Mbak. Kali aja mau main kemana," sahut Ozil, sembari mengeluarkan benda milik wanita itu.


"Loh, kok malah di bawa kesini?" ucap Mbak Lisa saat Ozil mengambil buku catatannya yang tertinggal. "Kan aku minta di simpenin aja dulu, dikantor."


"Ya nggak apa apa, Mbak, kali aja Mbak nanti atau besok membutuhkannya," jawab Ozil sambil meletakkan benda milik Mbak Lisa di hadapan wanita itu, lalu dia mengambil benda lain dan menunjukkan benda yang lainnya. "Aku juga mau menanyakan tentang ini, Mbak."


"Loh, ini kan?"

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2