
Sementara itu di tempat lain.
"Akhh~ sodokannya mantap banget, Mbah," racau seorang wanita yang saat ini terbaring pasrah menerima sodokan demi sodokan yang dilakukan oleh pria bertato ular cobra, bernama Mbah Wiro. Orang orang biasa memanggilnya dengan nama tersebut karena Wiro memang nama aslinya sejak kecil.
Nama pria yang berstarus duda tanpa anak itu, kini semakin melejit dikalangan orang orang yang sudah merasakan hasil dari praktek dukun pria tersebut. Banyak yang berhasil mewujudkan impian mereka setelah bertemu dengan Mbah Wiro dan melakukan ritual yang sebenarnya sangat aneh.
Seperti malam ini, seorang wanita rela disodok sodok lubang nikmatnya agar dirinya bisa laris kembali menjual barang dagangannya. Tentu saja barang yang dia jual bukan barang seperti kebanyakan orang di pasar. Tapi wanita itu menjual barang yang sekarang sedang disodok oleh Mbah Wiro. Wanita itu sangat senang karena pemasangan susuk pada lubang nikmatnya berhasil.
Setelah melakukan penyodokan yang cukup lama, akhirnya Mbah Wiro merasakan batangnya akan segera menyemburkan cairan nikmat. Mbah Wiro mempercepat gerakan pinggangnya dan tak lama kemudian tubuh tegap pria itu menegang dan mengejang. Suara kenikmatan juga menggema dari mulut pria itu bersamaan dengan semburan benih di dalam lubang si wanita.
Keringat Mbah Wiro bercucuran dan nafasnya tersengal sengal. Kedua telapak tangannya bertumpu pada sisi kanan dan kiri ranjang karena Mbah Wiro masih berdiri di dekat tepi ranjang. batangnya masih berada di dalam untuk menuntaskan isinya yang sedang keluar.
Setelah nafasnya kembali normal dan batangnya mengecil dan keluar sendiri dari lubang pasiennya, Mbah Wiro kembali mengenakan kain untuk menutupi pinggangnya. "Sekarang pakai bajumu, aku tunggu diluar."
"Baik, Mbah," wanita menjawab dengan riang. Begitu Mbah Wiro keluar, wanita itu bangkit dan turun dari ranjang lalu mengenakan pakaiannya kembali. "Sebenarnya masih pengin disodok Mbah Wiro lagi, tapi ya sudah lah," wanita itu bergumam.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian wanita itu keluar dari kamar dan duduk di kursi, dimana Mbah Wiro sudah berada di sana. "Ingat, jangan langgar pantangannya. Tadi aku sudah mengatakan semua apa saja yang harus kamu hindari."
"Iya, Mbah, aku ingat banget," si wanita sangat antuias. "Jadi maharnya berapa, Mbah?"
"Maharnya nanti saja, jika orang lain sudah merasakan hasil susuknya, kamu datang ke sini lagi."
"Gitu ya, Mbah?" Mbah Wiro mengangguk sambil mengembuskan asap rokoknya. "Baiklah, Mbah, kalu begitu saya permisi." Wanita itu lantas pergi, bersamaan dengan perginya si wanita, masuklah seorang pria ke tempat di mana Mbah Wiro berada.
"Gimana, Bos? Apa ada tugas buat saya?" tanya orang itu begitu duduk di kursi yang letaknya di seberang meja.
"Baik, Bos!"
Di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Seruni benar benar dibuat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar saat Ozil mengatakan semua yang tejadi kepadanya. Wajah Seruni bahkan masih terlihat takut. "Para hantu yang menolongku datang kesini?"
Ozil pun menganguk. "Entah mereka merasuki tubuh kamu atau hanya menuntunmu, tapi saat kamu datang, kamu sudah bersandar di pintu gerbang dan aku langsung membawamu masuk ke sini," terang Ozil. "Maaf, jika aku tidak jujur dari awal, karena aku yakin, kamu nggak bakalan percaya."
__ADS_1
Seruni terdiam untuk beberapa saat. Untuk percaya dengan ucapan Ozil rasanya cukup sulit, tapi jika Seruni mengingat kejadian sebelum dia pingsan, itu benar benar nyatta. Semua benda yang ada di sana pada berterbangan dan hampir menyerang Seruni.
"Mending sekarang kamu istirrahat, besok aku akan lebih rinci lagi menceritakan tentang hantu hantu itu," karena melihat kondisi Seruni yang masih dalam ketakutan, Ozil memilih menunda menceritakan semuanya. Entah reaksi apa yang akan ditunjukan Seruni, jika hantu yang menolongnya ada hubungannya dengan tragedi penculikan satu tahun yang lalu, yang juga menimpa Seruni.
Di saat mereka terdiam, tiba tiba terdengar suara ponsel berdering. Ozil tahu itu bukan ponselnya tapi dia mengambil ponsel itu dan menyerahkan kepada pemiliknya. Seruni menerima telton itu yang ternyata dari orang tuanya. Dari pembicaraan tersebut, Ozil merasa cukup lega, karena Seruni tadi belum sempat melapor ke orang tuanya.
"Kamu nggak cerita kalau aku komplotan penculik kamu?" tanya Ozil memastikan, melihat Seruni menganggangguk dan mengiyakan, Ozil merasa sangat lega dan tenang.
"Kata Mommy, besok pamanku akan datang ke negara ini?"
"Paman kamu, Siapa?"
"Paman Sakurata, dari jepang."
...@@@@@...
__ADS_1