
"Bos, ada pasien," ucapan seorang anak buah yang baru saja masuk ke dalam ruangan khusus, sontak mennghentikan suara tawa yang pecah dari mulut dua orang, yang saat itu sedang merayakan keberhasilan rencana mereka. Di ruangan itu, ada beberapa anak buah yang ikut merayakan kebahagian bos mereka dan juga ada tujuh tubuh wanita yang terdiam seperti mayat.
"Pasien lama atau pasien baru?" tanya bos dari anak buah itu.
"Pasien baru, Bos. Dia datang bersama dengan seorang pria," ucap sang anak buah.
Sang Bos nampak manggut manggut lalu dia menatap ke arah rekan kerjanya. "Maaf, dokter saya harus menemui pasien terlebih dulu. Nanti setelah selesai, kita berbincang lagi."
"Baiklah, silakan," orang yang dipangil dokter mempersilahkan rekan kerjanya pergi. Setelah Mbah Wiro meninggalkan ruangan tersebut, Sang dokter pun bersiap untuk pergi ke kamarnya yang telah disiapkan oleh sang bos untuknya. Sebelum pergi, dokter tersebut menatap ketujuh wanita yang diam tidak berdaya, dimana salah satunya adalah sang keponakan.
"Maafkan, Paman, Seruni. Paman sengaja melakukan hal ini sama kamu," ucap Dokter Sakurata dengan senyum jahatnya. "Setidaknya Paman harus bisa menunjukan siapa paman, dimata orang tua kamu," setelah mengatakan hal tersebut, Dokter Sakurata meminta anak buah Mbah Wiro untuk mengantarkan dirinya ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.
__ADS_1
Sementara itu, di rumah yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Ozil nampak terkejut saat matanya menangkap pria yang nampak gagah keluar dari sebuah ruangan dan duduk di hadapannya. Pria itu benar benar tidak seperti dukun pada umumnya. Dia memiliki pesona yang lebih dari seorang dukun. Sekrang Ozil sedikit tahu alasan kenapa, yang datang ke tempat ini adalah pasien wanita.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Mbah Wiro basa basi setelah dia duduk berhadapan dengan Bembi dan juga Ozil.
"Tidak apa apa, Mbah," ucap Bembi mulai menjalankan aktingnya. Menjadi wanita yang bekerja sebagai wanita bayaran, tentu saja membuat Bembi harus bisa bersandiwara sesempurna mungkin. Apalagi bayaran yang dia terima termasuk sangat besar, jadi wanita itu harus bisa menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
"Ngomong ngomong yang ada perlu sama saya, satu orang apa dua orang?" tanya Mbah Wiro denggan tatapan memandang satu persatu tamunya tanpa menaruh curiga.
"Cuma saya, Mbah," balas Bembi. "Kalau ini teman yang mengantar saya, soalnya saya tidak berani datang kesini sendirian."
"Saya ingin memasang susuk, Mbah. Agar dagangan saya semakin laris," jawab Bembi dengan gaya khas wanita yang sangat nakal, sampai membuat Mbah Jiwo dan Ozil tersenyum hampir bersamaan. Di saat itu pula Ozil melihat sosok Sakurata keluar dari ruangan yang sama dengan Mbah Wiro.
__ADS_1
"Kamu jualan yang anget anget?" pertanyaan yang keluar dari mulut Mbah Wiro sontak membuat bembi senyum senyum centil. "Daerah mana saja yang ingin kamu pasangin susuknya?" Bembi pun menunjukan tiga tempat yang menjadi tempat umum para wanita nakal yang sudah menjadi langgganan Mbah Wiro. Pria tua itu langsung memberi petunjuk yang sama seperti kepada pasien lainnya.
"Masa ada ritual kayak gini?" gumam Ozil setelah tadi membaca sebuah catatan yang disodorkan Mbah Wiro kepada Bembi. Saat ini, Ozil sudah duduk sendirian karena Bembi telah masuk ke dalam ruangan khusus untuk melakukan Ritual, sedangkan Mbah Wiro, masuk ke ruangan lain untuk bersiap siap.
Di saat bersamaan, Ozil melihat orang yang dia kenali wajahnya, keluar dari ruangan yang sama, dimana ruangan itu tadi digunakan untuk keluar Mbah Wiro. Orang itu yang tidak lain adalah penjahat yang ditugaskan menculik Seruni dan Zhang, melewati Ozil begitu saja. Sepertinya mereka tidak mengenali wajah Ozil karena mereka memang tidak pernah ketemu sebelumnya kecuali satu orang yang pernah bertemu di tempat kerja Ozil.
Tak lama berselang, Mbah Wiro pun melintas dengan pakaian yang berbeda. Saat ini, Mbah Wiro hanya menggunakan kain bercorak yang melilit pinggangnya. Setelah mereka saling tatap dan saling melempar senyum sebagai tanda rasa hormat, Mbah Wiro masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Bembi berada.
"Sepertinya keadaan sangat sepi," gumam Ozil. "Lebih baik, aku menyelidikinya terlebih dahulu."
Ozil bangkit dari duduknya dengan sikap yang waspada. Ozil berharap, Bembi bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Ozil melangkah menuju ke ruangan yang tadi Mbah Wiro dan anak buahnya keluar. Merasa keadaan aman dan sangat mendukung, Ozil perlahan masuk ke ruangan itu. Namun sesampainya di sana dia tidak melihat apa apa karena ruangan itu nampak seperti sebuah kamar.
__ADS_1
Di saat Ozil sedang memperhatikan ruangan tersebut, mata Ozil membealalak saat mendengar suara dari tempat lain, Ozil pun mendekat ke arah suara itu. Setelah dia memperhatikan dengan seksama, Ozil pun paham kalau suara itu berasal dari ruang rahasia yang ada di balik tembok tersebut.
...@@@@@...