
"Kok tubuh kamu bau asem banget sih," ucap seorang wanita yang pagi itu sedang terbaring di atas kasur busa. Tubuh wanita yang sedang tidak berbusana itu menempel pada tubuh pria yang juga sedang tidak memakai apa apa. Lubang hidung wanita tersebut baru saja menempel pada bagian tubuh si pria yang berbulu cukup lebat.
Si pria pemilik bau asam sontak tersenyum. "Kan aku sudah bilang, aku tuh tadi belum mandi. Baru bangun langsung beres beres kantor, eh begitu selesai kamu malah ngajak enak enak. Tadi aku sempat nolak kan?" ucap pria muda yang namanya sedang viral dalam minggu ini.
Wanita bernama Seruni sontak tersenyum lalu dia menggerakan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada pipi pria yang sedang menatap langit langit. "Ya habisnya aku kan kangen. Tapi bau keringat kamu enak kok, Bang," ucap Seruni setelah bibirnya terlepas dari pipi Ozil.
"Hahaha ... ada ada aja kamu," balas Ozil sembari membalas tatapan wanita yang baru memberi rasa nikmat. "Aku nggak nyangka kamu bakalan minta sepagi ini. Tuh baru jam delapan lebih," balas Ozil sambil menunjukan waktu dalam ponselnya. Saat sedang dikecup tadi, Ozil memang sempat meraih ponselnya yang tergeletak di lantai sebelah kasur. "Tadi kamu kayaknya keenakan banget, Run? Apa udah nggak sakit sama sekali?"
"Nggak dong," jawab Seruni antusias sambil meletakan kepalanya pada dada bidang Ozil. "Aku nggak nyangka, hubungan badan bisa seenak itu kalau kita mainya dengan orang yang kita inginkan. Padahal kita bukan spasang kekasih. Tapi mungkin, sebentar lagi kita bakalan jarang ketemu deh, Bang."
"Kenapa emangnya?" tanya Ozil yang tiba tiba merasa tertegun dengan ucapan yang keluar dari tubuh wanita yang menempel kepadanya. Matanya lurus menatap rambut milik si wanita yang sekarang merebahkan kepalanya pada dada Ozil.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, Paman aku kabur. Daddy nggak mau aku kenapa kenapa, jadi untuk sementara aku harus mengungsi. Mungkin aku akan keluar negeri lagi." Wajah terkejut langsung tergambar jelas pada raut wajah milik Ozil. Ada hati yang mencelos dalam benak pria itu saat ini. Sepertinya apa yang pernah mereka bicarakan dulu, kini benar benar terwujud.
"Ya udah, itu kan sudah keputusan orang tua kamu," ucap Ozil dengan tenang meski hatinya merasa tidak baik baik saja. Ozil juga merasa tidak punya hak untuk melarang Seruni pergi. Ozil sadar, mereka memang tidak memiliki hubungan apa apa. "Pasti orang tua kamu sangat marah ya saat tahu paman kamu adalah pelaku dibalik kejadian yang menimpa kamu."
"Tidak marah lagi, Bang. Sudah murka malah. Bukan orang tuaku saja, tapi para orang tua korban lainnya. Mereka nggak nyangka aja kalau dokter yang mereka percaya malah dalang dibalik hilangnya anak anak mereka. Entah berada di mana paman Sakurrata sekarang, kamu harus hati hati, bang."
"Pasti dong, aku juga sudah ngomong sama keluargaku agar hati hati karena bisa saja keluargaku diserangnya juga," ucap Ozil. "Mana sekarang udah nggak ada para hantu lagi."
"Mungkin saat ini arwah mereka sudah menyatu dengan tubuh masing masing, jadi mereka pada nggak nongol."
Seruni lantas tersenyum, lalu tubuh polosnya dia gerakan menjadi tengkurap di atas tubuh Ozil. "Kamu ngerasa kehilangan dong?"
__ADS_1
Ozil tersenyum masam. "Pasti, aku merasa sangat kehillangan mereka. Lebih dari dua bulan kita selalu bersama. Wajar kan jika tiba tiba kayak ada yang kosong. Tapi meski begitu, aku cukup senang, karena kondisi mereka saat ini baik baik saja."
Seruni ikut tersenyum. "Seandainya nih, mereka kan anak orang kaya. terus pas sadar, mereka nggak ingat sama kamu, apa kamu nggak apa apa?"
Ozil kembali menunjukan senyum kecutnya. "Yang pasti aku sangat kecewa. Meskipun mungkin banyak bukti yang menunjukan kalau kita pernah sedekat itu, tapi kondisinya sekarang sudah beda. Mereka wanita wanita kaya raya, jadi mungkin wajar jika mereka lupa sama pria miskin kayak aku dan mereka cukup berterima kasih saja. Apa lagi orang tua mereka sudah ngasih duit ke aku dengan jumlah yang banyak."
Seruni kembali tersenyum lalu dia semakin mendekatkan wajahnya kemudian bibirnya dia tempelkan pada bibir Ozil. Untuk sejenak bibir mereka bertarung. "Semoga saja sih apa yang Abang takutkan tidak terwujud. Dah ya, jangan terlalu dipikirkan. Mending kamu mikirin masa depan kamu. Uang kamu kan sekarang udah banyak. Psti kamu sudah ada rencana untuk menyusun langkah masa depan yang lebih baik?"
Senyum Ozil terkembang lebih ceria. "Memang itu yang harus aku lakukan. Terima kasih ya, Run, kamu masih mau mengingatku." ucapan Ozil tentu saja membuat Seruni kembali tersenyum dan juga kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ozil sebagai tanda kalau mereka akan menuju ronde kedua di pagi itu.
...@@@@@@...
__ADS_1