HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Rencana Untuk Ozil


__ADS_3

Suara tawa pecah dan menggema di ruang berukuraan dua kali tiga meter. Suara tawa yang keluar dari mulut lima hantu dan seorang pria itu, hanya mampu didengar oleh pria itu sendiri. Beruntung keadaan tempat itu sepi, jadi tidak ada yang curiga atau merasa takut karena pria bernama Ozil itu tertawa dengan suara yang cukup kencang.


"Kalian ini, iseng banget sih," ucap Ozil begitu suara tawanya perlahan surut.


"Ya gimana lagi, wanita seperti Mauren memang harus diberi pelajaran dong," ucap Anggrek.


"Benar. Cewek sok suci gitu, memang harus dikasih pelajaran, biar kapok," sambung Lili.


"Tapi nanti kalau kalian ketahuan bagiamana?" tanya Ozil.


"Ya nggak bakalan lah, Bang. Yang ada, mungkin Mauren takut karena perbuatannya sendiri, aku kini jadi hantu," balas Mawar. "Tadi setelah kami pergi buat ngerjain Mawar, kamu tetap di cafe? Apa langsung pulang Bang?"


"Langsung pulang," jawab Ozil. "Cuma tadi Leo nyegat aku dan dia minta kita tukeran nomer. Sepertinya dia akan menemui aku lagi."


"Buat apa?" tanya Mawar dengan kening berkerut. Wajah pucatnya juga memperlihatkan kalau dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Ozil.


"Nggak tahu, mungkin membicarakan tentang kamu." Jawaban Ozil membuat Mawar menganggukan kepalanya beberapa kali.


"Apa sebaiknya aku kayak gitu juga, Bang?" ucap Cempaka. "Aku ngasih tahu keluargaku kalau kita baik baik saja?" usulan Cempaka langsung didukung para hantunya.


"Ya jangan semuanya," Ozil mencoba memberi saran. "Gimana kalau salah satu saja orang yana sangat kalian percaya."

__ADS_1


"Kenapa gitu?" protes Melati.


"Begini, kalian ambil contoh saja si Mawar, sahabat yang dia perccaya, tak tahunya malah hendak merebut tunangannya bukan? Nah, kalian kan nggak tahu, mana yang pengkhianat sebenarnya. Lagian kalau banyak yang tahu tentang kalian, saya takutnya orang yang menyembunyikan tubuh kalian malah tahu akan hal ini. Apa kalian mau, kalian terus jadi hantu penasaran?"


Para hantu terdiam sembari mencerna ucapan pria yang bersama mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kelima hantu wanita setuju dan mereka langsung membuat jadwal untuk mengatur siapa yang akan terlebih dahulu mendapat bantuan dari Ozil untuk memberitahukan orang orang terdekatnya.


"Nanti malam minggu loh, Abang nggak ada niat buat main kemana?" tanya Anggrek begitu musyawarah selesai.


"Nggak lah, bingung nggak ada teman, mau main kemana?" ucap Ozil lanbgsung berbaring sambil meraih ponsel barunyaa yang tepat ada atas lantai dekat kepala.


"Ya ke kontrakan dua teman Abang, atau ke rumah janda pirang. Kan rumahnya sepi?" ucap Anggrek lagi.


"Nggak lah. kontrakan mereka jauh. Aku nggak mau nanti dihadang lagi oleh orang yang mengincar akan membunuhku kayak dulu."


"Nggak tahu mungkin. Tapi kan aku harus waspada. Takutnya mereka tiba tiba nyerang pas kalian lagi nggak ada, bahaya."


"Benar juga," ucap Melati, dan hal yang sama juga ditunjukan hantu lainnya. "Ya udah main ke rumah janda pirang aja."


"Aku nggak tahu alamat rumah Mbak Rini dan Mbak Lisa. Lagian aku juga takut. kalau aku diajak ngapa ngapain gimana?"


"Hahaha ..." para hanttu sontak tertawa. "Ngapaain takut? Kan enak, Bang. Emang Abang nggak kepengin gitu."

__ADS_1


"Ya penginlah, lihat punya kalian aja, isi kolorku tegang mulu. Aku cuma takut, aku kan nggak pengalaman soal gituan, sedangkan mereka janda. Pasti mereka sudah sangat ahli. Nanti kalau aku cepat keluar dan tidak bikin mereka puas gimana? Yang ada aku akan malu dan bisa jadi bahan ledekan satu kantor."


"Hahaha ... iya sih, cukup masuk akal. Ya terserah Bang Ozil aja, enaknya gimana," Lili menimpali.


"Ya udahlah, aku pengin tidur, ngantuk."


"Nggak mandi dulu? Nanggung itu loh sebentar lagi sore."


"Nanti aja."


Para hantu pun memaklumi dan mereka memutuskan untuk pergi agar Ozil bisa istirahat. Kelima hantu itu memilih duduk di taman untuk melatih kekauatan mereka sembari ngobrol.


"Eh kita, jadi bikin kejutan nggak sih buat Bang Ozil? Kasihan banget dia loh," ucap Mawar.


"Ya jadi, tapi kita kan nggak tahu nyarinya kemana?" balas Cempaka dengan mata dan telunjuk fokus ke arah pot bunga yang dia kendalikan.


"Nah itu dia masalahnya, kita nyari kemana. Cukup susah kan nyarinya," Melati menimpali, dan akhirnya kelima hantu itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing.


"Aku tahu!" seru Lili tiba tiba setelah beberapa saat mereka terdiam. "Aku tahu tempatnya," Lili terlihat antusias.


"Dimana?" tanya Cempaka. Semua mata langsung tertuju pada satu hantu yang katanya memiliki ide. Lili lantas menyebut salah satu tempat yang membuat hantu lainnya terkejut. Tapi, setelah mereka berunding cukup lama, akhitrnya mereka sepakat untuk pergi ke tempat yang disebut Lili.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2