HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Menjadi Pahlawan


__ADS_3

Ozil melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup sedang. Benaknya sedikit bergumam dengan penuh rasa heran. Pemuda itu tidak habis pikir dengan apa yang dimnta para hantu tadi saat berhasil menyelamatkan anak anak. Bisa bisanya mereka meminta imbalan yang sangat membuat heran dan juga sangat aneh.


JIka itu adalah permintaan manusia, pasti dengan senang hati, Ozil akan langsung mengabulkan saat itu juga. Tapi ini yang minta para hantu, dan itu membuat Ozil tak habis pikir kalau mereka bisa meminta hal seperti itu. Namun Ozil pun memang harus menurutinya, biar bagaimanapun, lima hantu wanita itulah yang telah menolong dirinya menemukan dan juga melumpuhkan para penculik.


"Hore! Pahlawan kita telah datang!" seru salah satu karyawan begitu Ozil sampai di tempat kerjanya. Semua langsung menyambut kedatngan Ozil dengan penuh suka cita.


"Keren kamu, Zil, bisa mengalahkan empat penjahat sendirian," puji Edwin.


"Ozil pahlawanaku! Kamu jantan banget. Nanti aku di ajarin ilmu bela diri juga ya di rumahku ya?" seru Mbak Rini dengan centilnya.


"Mau minta diajarin bela diri apa mau mencoba kejantanan Ozil, Rin?" celetuk Santos. Tentu saja semua langsung terbahak dibuatnya.


"Ih, kalian ini. Suka gitu deh," sungut Mbak Rini.


"Zil, ke ruanganku ya?" suara Mas Ari langsung mermbuat tawa para karyaawan barangsur surut dan sedikit masih terdengar riuh.


"Baik, Mas," ucap Ozil. Dia lantas mohon diri kepada yang lainnya dan segera melangkah, menyusul sang bos ke ruangannya. "Gimana keadaan fazel, Mas?" tanya Ozil begitu dia telah sampai di ruangan Bosnya.

__ADS_1


"Baik baik saja, Zil. Dia kena bius, jadi saat ini Fazel, kami bawa ke rumah sakit," jawab Mas Ari lalu dia membuka laci dan mengambil amplop coklat dan menyerahkannya pada Ozil.


"Apa ini, Mas?" Ozil tidak lang menerimanya.


"Aku tidak tahu caranya berterima kasih itu seperti apa, Zil. Ini sejumlah uang untuk kamu."


"Tapi, Mas, Aku ..."


"Zil, aku nggak ada maksud untuk mengukur semua jasamu menggunakan uang. Uang ini bahkan tidak sebanding dengan keberanian kamu menolong anak aku. Tapi aku harap uang ini kelak bisa berguna buat kamu dan keluarga kamu, Zil."


"Tapi, Mas," Ozil bingung. Tentu saja dia sangat tulus menolong anak bosnya itu.


Mau tidak mau Ozil pun menerimanya. "Terima kasih, Mas. Kalau begitu saya permisi."


Mas Ari mempersilakan, dan Ozil segera saja keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan sang bos, Ozil kembali mendapat sambutan dan selamat serta hal lainnya yang membuat suasana kantor begitu hangat. Tak lama kemudian, Ozil pun pamit kepada mereka, dan segera beranjak ke kamarnya.


"Sepuluh juta? Banyak bangeet!" seru Ozil setelah menghitung isi amplopnya. Bagi Ozil, tentru uang segitu sangat banyak, karena bagi pemuda itu, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu. Paling banyak Ozil pernah megang sekitar dua atau tiga juta saja. "Beliin apa ya buat bapak, emak dan adik?"

__ADS_1


"Wuihh! Uangnya banyak banget, Bang!" seru salah satu hantu yang tiba tiba muncul menembus pintu dan disusul hantu lainnya. Ozil yang sedang melamun sejak beberapa saat yang lalu sampai terkejut dibuatnya. "Uang dari siapa, Bang?"


"Dari Bos aku. Harusnya uang ini milik kalian, karena kalian yang telah menyelamatkan anak anak," ucap Ozil langsung menelentangkan tubuhnya dari posisi tengkurap.


"Ya buat kamu aja, Bang. Kita kan hantu. Mana mungkin butuh uang," ucap Mawar. "Mau digunakan untuk apa uang itu, Bang?"


"Nggak tahu. Mungkin sebagian akan aku kirim ke orang tua. Mereka yang paling butuh. Disini aku nggak terlalu," ucap Ozil.


"Ya bagus itu. Bang Ozil memang terbaik," puji Lili tapi tangannya mulai bergerak nakal.


"Mulai, nakalnya kumat," ucap Ozil yang terlihat pasrah saat tubuhnya sedang dibelai belai oleh hantu itu. "Perasaam kalian gimana sih saat lihat tubuh aku? Apa kalian kayak manusia gitu? Bawah perut kalian itu terasa gatal kalau lihat tubuh aku?"


"Gatal sih enggak, Bang, cuma kayak ada denyutan gitu. Semakin berdenyut maka semakin merasa resah kita," Cempaka yang menjawab sambil mengusap dada kanan Ozil.


"Kalian pernah tanya nggak? Apa hantu lain juga mengalami hal yang sama?"


"Enggak, Bang. Kami juga heran loh," jawab yang lainnya. Pokoknya saat ini para hantu sedang meraba tubuh Ozil semua. Meskipun sentuhan mereka terasa dingin, tapi Ozil sudah bisa beradaptasi, makanya dia pasrah saja diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Kok aneh ya? Jangan jangan kalian sebenarnya masih hidup?"


...@@@@@...


__ADS_2