
"Ini, Mbak, kotak obatnya," ucap Ozil menyodorkan kotak obat kepada wanita yang sedang menghipaskan tangannya di atas paha yang terkena air panas. Ozil sempat tertegun begitu dia masuk dapur. Bahkan matanya hampir tidak berkedip saat menilhat yang mulus mulus di depan matanya.
Mbak Lisa langsung menerima kotak obat itu dan membuka isinya. Wanita itu mengambil sebuah salep dan meletakan kotak obat di meja sebelahnya. Mbak Lisa langsung mengolesi salah satu paha mulusnya yang terkena air panas. Bahkan dia mengangkat baju yang dia pakai hingga ke pinggang dan mengolesi salep itu sampai ke pangkal paha.
Ozil yang masih berdiri di sana tentu saja langsung kesusahan menelan salivanya. Ternyata Mbak Lisa hanya memakai baju seperti daster saja dan tidak memakai apa apa lagi di dalamnya. Ozil bisa melihat dengan jelas rerimbunan yang nampak indah milik wanita yang sedang menunduk.
"Astaga! Kamu masih disini?" seru Mbak Lisa saat menyadari Ozil masih berdiri mematung di hadapannya. Wanita itu langsung saja menutupi pahanya dengan baju yang dia pakai. Mbak Lisa benar benar tidak sadar karena terlalu fokus pada pahanya yang sakit tadi.
"Maaf, Mbak,"Ozil langsung pergi dari dapur dengan wajah sedikit malu meski dia juga senang melihat aset pribadi milik wanita itu. Mbak Lisa pun sama, dia cukup malu meski ada sedikit rasa senang juga. Wanita itu segera bangkit dan membawa secangkir kopi menuju ke tempat Ozil berada. Tiba tiba rasa canggung langsung menyelimuti mereka berdua.
"Makasih, Mbak," ucap Ozil sambil menerima gelas kopi dan menyeruput isinya."Udah nggak sakit, Mbak?" tanya pemuda itu untuk menutupi rasa canggungnya.
"Udah lumayan adem sih," jawab Mbak Lisa. "Untungnya itu air panas tadi pagi, jadi ya nggak bikin melepuh. Lagian isinya tinggal setengah. Makanya tadi aku memiringkannya terlalu kebawah sampai pahaku terkena air."
"Ya syukur lah sampai nggak melepuh, Mbak," jawab Ozil sambil tersenyum tipis, dan dia terdiam karena dia merasa kehabisan kata kata secara mendadak setelah perisitiwa kecil tadi di dapur. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, Mbak."
"Loh, kok pulang?" Mbak Lisa nampak terkejut. "Baru juga main sebentar kan?" wanita itu terlihat kecewa.
"Ya kan keperluannya udah selesai, Mbak, udah aku tanyakan tadi," jawab Ozil.
__ADS_1
"Ya kan nggak harus langsung pulang gitu," Mbak Lisa berusaha menahan Ozil. "Apa kamu ada acara malam minggu ini?"
"Ya nggak ada sih, Mbak. paling ya berdiam diri di kamar," jawab Ozil jujur.
"Nah tuh! Di sana juga nggak ngapa ngapain, mending disini bareng aku," balas Mbak Lisa.
Ozil kembali tersenyum. "Maaf ya, Mbak, tadi aku lancang, lihatin punya kamu, Mbak."
Kening Mbak Lisa sontak berkerut, tapi tak lama setelahnya senyumnya terkembang. "Nggak apa apa, Zil. Kan kamu nggak sengaja. Apa kamu ingin lihat lagi yang dengan sengaja?"
Ozil sontak tersiap mendengar bertanyaan dari Mbak Lisa. "Lihat apa, Mbak?" Ozil langsung mengambil sikap pura pura.
Mbak Lisa masih tersenyum. "Nggak usah pura pura, kalau mau lihat lebih lama ya tinggal ngomong aja?"
Mbak Lisa tersenyum gemas, dia lalu bangkit dan beranjak menutup pintu dan menguncinya. Kemudian wanita itu duduk disebelah Ozil, membuat si pemuda merasa sesak nafas secara mendadak. Dengan santai Mbak Lisa mengangkat baju selututnya sampai ke perut. "Tuh, lihatin!"
Ozil tersenyum dengan perasaan yang cukup campur caduk. Namun Ozil tentu tidak menyia nyiakan kesempataan seperti itu. Matanya langsung memandang benda di bawah perut Mbak Lisa. "Ternyata aslinya lebih baus ya, Mbak. Cantik, dengan bulu agak lebat."
"Emang kamu baru pertama kali lihat, Zil?"
__ADS_1
Ozil langsung mengangguk. Tentu saja pria muda itu lebih memilih berbohong. "Paling selama ini cuma lihat di video, Mbak. Kalau yang lihat secara langsung, ya baru kali ini."
Mbak Lisa pun mengangguk sembari tersenyum, lalu tangannya bergerrak menyingkirkan gelas kopi milik Ozil dan wanita itu pindah duduk di atas meja menghadap Ozil. Mbak Lisa mengangkat dan membentangkan kakinya hingga Ozil bisa dengan jelas melihat keindahan itu.
"Boleh pegang ngak, Mbak?" tanya Ozil nglunjak. Beruntungnya Mbak Lisa lansgung mengangguk. "Hangat banget," ucap Ozil saat jarinya sudah mendarat di benda bercelah itu.
Sementara itu di tempat lain.
"Ada informasi apa, Dok?" tanya salah satu penjahat yang saat ini sudah bertemu dengaan seorang pria yang berprofesi sebagai dokter.
"Aku dengar dari penjaga rumahnya Tuan Go, sekarang Seruni ada di rumahnya bersama, Zhang," jawab sang dokter.
"Apa!" pekik para penjahat. "Terus kita harus gimana, Dok?"
Sang dokter menyeringai. "Kita harus berbagi tugas, dan kalau kita gagal lagi, aku sudah ada calon korban lain."
"Wahh! Siapa, Dok?"
"Kalian nggak perlu tahu, aku sudah menyuruh orang lain untuk menangkapnya."
__ADS_1
"Gawat!" pekik para hantu.
...@@@@@...