
"Apa yang sedang kalian lakukan!" seru Ozil dengan mata membelalak. Ozil langsung bangkit dan bergeser mundur. "Kalian mau menodaiku?"
Kening kelima hantu wanita sontak berkerut untuk sesaat dan setelahnya suara tawa mereka langsung pecah. "Siapa yang mau menodai kamu, Bang?"
"Nah itu tadi, kalian sedang merogoh isi celana kolorku. Apa namanya kalau bukan ingin menodaiku?" sungut Ozil tidak terma.
"Ya ampun, Bang. Namanya juga udah lama pengin megang, wajar kan? Mumpung kita sudah bisa pegang benda. Jadi kita pegang isi kolor Abang juga."
Ucapan yang terlontar dari mulut Melati sontak membuat Ozil terperangah. "Kalian sudah bisa megang benda?" tanyanya dengan tatapan kaget dan tidak percaya.
"Bisa dong. Kan tadi bang Ozil udah lihat buktinya. Gimana? Terasa enak nggak, bang?" tanya Anggrek dengan bangganya.
"Pasti sangat terasa enak ya, Bang? Buktinya Bang Ozil sampai bangun. Pasti karena keenakan tuh sudah dipegang oleh lima cewek," Mawar menimpali dan semua hantu langsung tersenyum dengan nakalnya.
"Nikmat darimananya. Aku terbangun tuh karena tadi ngerasa dingin banget. Mau ambil selimut, eh malah aku mau dinodai oleh kalian," bantah Ozil. "kok sentuhan tangan kalian terasa dingin banget ya?"
"Dingin? Maksudnya, Bang?" tanya Cempaka dan pertanyaan itu mewakili keempat hantu yang lain.
__ADS_1
"Ya dingin gitu. Kalau sesama manusia kan, jika kulitnya bersentuhan itu terasa hangat. Nah tadi sentuhan kalian itu terasa dingin. Makanya aku tadi sampai bangun," terang Ozil.
"Ya kita nggak tahu, bang. Mungkin karena kita jadi mayat kali ya, nggak ada aliran darah dan jantung juga nggak berfungsi, jadi kulit kita dingin gini," ucap Lili.
"Bisa jadi itu. Ya udahlah. Aku mau tidur. Kalian jangan ganggu ya? Besok aku harus kerja loh," Ozil kembali membaringkan tubuhnya.
"Oke. Tapi nanti kalau libur, kita boleh dong, pegang pegang isi kolor lagi?"
"Terserah," balas Ozil sambil memunggungi para hantu. Entah dia harus senang atau bagaimana, yang pasti Ozil bingung sendiri saat ini. Setelah mengetahui sentuhan para hantu terasa dingin, keinginan untuk menyentuh para hantu jadi pudar. Maka itu Ozil jadi bimbang.
Para hantu juga awalnya terkejut dengan ilmu yang mereka miliki saat ini. Mereka pikir fokus itu hanya berguna untuk memindahkan benda saja, tapi kefokusan bisa digunakan untuk hal yang lainnya seperti menyentuh, merasuki tubuh manusia dan mengingat beberapa bagian perjalanan hidup mereka. Yang paling sangat disayangkan, mereka tidak mengingat orang yang telah membuat mereka menjadi hantu.
Hari kini berganti lagi dan sepert biasa, Ozil sibuk dengan pekerjaan wajibnya. Ozil sudah hafal betul apa saja yang harus dia lakukan di setiap paginya. Setelah semuanya rapi dan bersih, baru Ozil membersihkan tubuhnya kemudian mencari makan buat sarpapan.
"Zil, nanti jika itu sudah selesai, kamu ikut aku ya?" ucap Mbak Lisa saat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh siang dan Ozil sedang membantu pekerjaan karyawan lainnya.
"Ikut kemana, Mbak?" tanya Ozil menghentikan pekerjaanya sejenak dan menoleh ke arah wanita itu berada.
__ADS_1
"Ke hotel, kita chek in," jawab Mbak Lisa cuek sambil berkedip nakal. Ozil yang ternganga langsung saja dsorakin oleh karyawan lainnya.
"Ya ampun, Lis, Ozil masih polos loh. Jangan kamu rusak anak orang," celetuk Santos yang pekerjaannya sedang di bantu Ozil.
"Iya, Lis, yang berpengalaman kan banyak. Jangan anak polos kayak Ozil. Kasihan, masa depannya masih panjang," seru karyawan pria lainyya dan mereka saling terbahak.
"Apaan sih kalian. Orang ke hotel mau cek lokasi buat acara dua minggu lagi kok. Huu! Dasar otak kotor," sungut Lisa, tapi disambut suara tawa oleh rekan kerja yang lain. Ozil sendiri hanya senyum senyum sendiri sambil meneruskan pekerjaannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya pekerjaan Ozil pun selesai. Setelah Ozil istirahat sekitar lima belas menit sambil menunggu Mbak Lisa mempersiapkan segala sesuatu yang perlu di bawa, akhirnya dua orang itu pergi bersama dengan menggunakan mobil Mbak Lisa. Meski beberapa kali pernah pergi bareng, tapi Ozil selalu merasa grog jika pergi berdua dengan wanita itu ataupun dengan karyawan wanita lainnya.
"Tumben, Zil, kamu diam? Ada yang sedang kamu pikrkan?" tanya Mbak Lisa ditengah tengah perjalanan mereka.
"Nggak ada apa apa kok, mbak," jawab Ozil agak gugup.
"Oh, kirain kamu lagi mikiran bulu rimbun yang pernah kamu lihat," ucapan Mbak Lisa sukses membuat mata Ozil membulat.
...@@@@@...
__ADS_1