HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Meminta Pendapat


__ADS_3

Seorang pemuda nampak sedang berbaring di atas ranjang. Meski matanya terpejam, pemuda itu belum terlelap dengn tubuh yang cukup lelah. Jam yang terpampang di layar ponsel sudah menunjukan pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit mungkin, saat ini ada yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu sampai rasa ngantuk belum menyerang matanya.


Di waktu yang sama, seorang wanita masuk ke dalam kamar tersebut. Masuknya wanita tersebut membuat mata si pemuda terbuka dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang baru datang lalu dia naik ke atas ranjang yang sama dengan pemuda itu. Mereka lantas saling melempar senyum. "Kirain kamu sudah tidur, Zil," ucap wanita itu sembari berbaring menghadap si pria.


"Belum lah, Mbak, belum ngantuk," jawab pemuda yang dipanggil Ozil. Wajah mereka kini saling pandang satu sama lain. "Kamu kok sudah pakai baju sih, Mbak? Dilepas aja napa? Aku juga nggak pakai baju," Ozil melayangkan protes sampai membut wanita yang akrab dipanggil Mbak Lisa kembali melebarkan senyumnya.


"Ya kan cuma daster doang, Sayang. Masa aku keluar kamar nggak pake baju," wanita yang usianya lebih tua dari Ozil itu berkata. Selisih usia mereka sekitar empat tahun. "Apa ada yang kamu pikirkan? Nanti kalau wanita itu nyari kamu gimana?"


Sebelum menjawab, tangan Ozil bergerak, meraih daster yang digunakan Mbak Lisa dan mengangkatnya hingga daster itu naik sampai sebatas leher. Mbak Lisa paham apa yang diinginkan pemuda yang baru saja memberinya kepuasan. Wanita itu pun akhirnya melepas daster yang dia pakai dan membiarkan tangan Ozil menjelajahi tubuh polosnya.


"Aku udah ngasih pesan kok, Mbak, kertasnya ada di dekat kasur. Pasti dia ngerti," jawab Ozil sembari salah satu tanggannya bermain di area dada Mbak Lisa. "Meurut Mbak Lisa, aku harus bagaimana ya sama cewek itu? Aku bingung, Mbak, tapi aku juga kasian sama dia."


Sebelum memberi pendapat, Mbak Lisa terlihat berpikir sejenak. Di saat itu pula, tubuh Ozil bergeser hingga wajahnya tepat di hadapan dada Mbak Lisa. Sekarang bukan tangan aja yang bermain, mulut Ozil juga ikut bermain layaknya bayi yang sedang kehausan. Mbak Lisa membiarkan saja Ozil berbuat sesukanya sembari mengusap usap kepala pemuda itu.

__ADS_1


"Emang wanita itu gimana? Orang kamu belum cerita banyak. Tadi kan kamu begitu datang langsung ke kamar," jawab Mbak Lisa.


Ozil malah mengeluarkan suara tawa kecilnya. "Kan Mbak yang ngajakin langsung ke kamar. Padahal tadi aku mau cerita duluan."


"Hehehe ... ya abis, kamu datang di saat yang tepat. Aku tadi lagi pengin, Zil, eh kamu malah datang, ya kebetulan kan. Ngapain pake basa basi, orang kita udah pernah melakukannya ini," jawab si wanita. "Sekarang ceritakan tentang wanita yang kamu tolong itu."


Sambil menikmati pucuk dua bukit kembar, Ozil menceritakan semua yang dia ketahui tentang Nirmala. Mbak Lisa pun mendengarkan dengan baik sembari menikmati kenakalan pemuda yang sudah tidak polos lagi. "Nah yang membuat aku bingung, ke depannya aku harus bagaimana sama Nirmala? Dia sama sekali nggak ada tempat untuk pulang."


"Ya gitu lah, Mbak. Maka itu aku bingung harus menolong dia dengan cara seperti apa," ucap Ozil sembari kembalinya sesekali mendongak jika sedang mengeluarkan suaranya.


"Mending, kamu coba aja hubungi para orang kaya yang kamu kenal itu dan menanyakan pekerjaan."


"Sudah, Mbak, tapi untuk saat ini lagi nggak ada lowongan. Apa lag Nirmala nggak tahu lulusan sekolah apa. Untuk menjadi pembantupun, lagi nggak ada lowongan juga."

__ADS_1


Mbak Lisa nampak mangggut manggut. "Ya kalau nggak gini aja, kamu kan saat ini lagi banyak duit. Kenapa kamu nggak kasih dia modal aja buat jualan. Kamu tanya sama dia, minat nggak? Lalu kalian rencanakan dengan baik. Untuk soal tempat tinggal, kamu bayarin aja dia di tempat kost atau kontrakan untuk beberapa bulan. Nanti jika usahanya sudah lancar, wanita itu bisa bayar kos sendiri."


Ozil seketika tercengung. Dengan bibir yang maasih menyesap salah satu bukit kembar Mbak Lisa, pemuda itu juga memikirkan usulan dari wanita yang memiliki bukit kembar dengan ukuran lumayan besar. "Benar juga ya? Ya udah deh, besok aku coba tanyakan," ucap Ozil nampak bersemangat.


Mbak Lisa pun kembali mengembangkan senyumnya. "Ya udah mau masukin lagi nggak, Sayang?"


"Ya mau banget dong, Mbak, masa cuma main satu ronde doang. Nggak seru."


"Hahaha ... ya udah ayok."


"Siap!"


Dan ronde kedua pun sebentar lagi berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2