
"Tadi Lili kenapa? Katanya ada keanehan?" tanya Ozil disela sela obrolannya dengan para hantu.
"Oh iya, Bang," Melati yang menjawab. "Tadi aku dan Lili mencoba menyentuh pria yang akan menikah, tapi nggak bisa. Dan anehnya waktu nyentuh Bang Ozil bisa. Nih," Melati mengusap paha Ozil dan pria itu sampai terjengat kaget karena sentuhan Melati terasa dingin.
"Masa sih? Kok bisa gitu?" tanya Ozil lagi.
"Serius, Bang," jawab Lili penuh kesungguhan.
"Makanya, tadi pas kita dengar cerita dari Lili dan Melati, kita langsung praktek, Bang, memang aneh sih. Tapi kita pegang benda masih bisa," Anggrek ikut menunjukan fakta.
"Haduh, kalian kok penuh banget misteri ya?" Ozil sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatak. "Sejak kenal kalian, aku jadi ikutan mikir keras tahu nggak?"
"Hahaha ... ya salah sendiri, Bang Ozil punya keistimewaan," celetuk Anggrek dan hantu lainpun ikut tertawa. Tentu saja Ozil juga ikut tertawa pada akhirnya dan mereka kembali ngobrol ke hal seru lainnya sampai Ozil lupa kalau dia belum mandi sejak pulang kerja. Ozil malah langsung tertidur ketika rasa ngantuk menyerrang dan obrolan dengan para hantu selesai.
Hari berikutnya, Ozil kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Tapi untuk hari ini, Ozil lebih semangat karena esok adalah hari libur. Di tempat kerja Ozil, liburnya setiap sabtu minggu. Tapi meskipun libur, tiap karyawannya maupun bosnya, masih bisa menerima pekerjaaan melaluai aplikasi. Maskipun kalau libur responnya lambat, tapi hal itu tidak menjadi halangan untuk para pengguna jasa di kantor tersebut.
"Zil, tolong ini anter ke rumah ya? Dan bilang sama istri saya, taruh di meja kerja saya," ucap Mas Ari sambil menyerahkan sebuah kotak.
__ADS_1
"Baik, Mas," jawab Ozil.
"Oh iya, kamu sudah punya rekening belum? Untuk transfer gajian kamu."
"Belum, Mas," jawab Ozil agak malu.
"Nanti bikin aja sama aku, Zil," Mbak Lisa menyahuti. "Nanti kan kita pergi menemui orang yang kemarin. Sekalian aja kita mampir ke bank, bikin rekening."
"Tapi uang pembukaannya berapa, Mbak? Kan harus ada uang pembukanya kan?"
"Nggak perlu dipikirkan. Nanti pakai uang aku dulu. Kan stelah tabungan jadi, kamu langsung dapat ATM, jadi uangku langsung bisa diambil."
"Astaga! Para janda kenapa malah jadi rebutan brondong sih? Mentang mentang brondongnya ganteng, kita jadi dianggurin," celetuk Santos dan semua karyawan laki laki langsung saling sorak.
"Apaan sih kalian, rese banget!" sungut Rini. "Daripada aku godain kalian, yang ada aku dipecat."
"Eh Ozil juga karyawan kantor ini. Sama aja dong, kalian bisa melanggar peraturan," protes Edwin.
__ADS_1
"Udah udah, kalian kok malah jadi pada ribut sih?" suara Mas Ari langsung menggelegar. "Udah, Zil sana berangkat. Nanti kamu terima aja tuh tawarannya Lisa untuk bikin akun bank."
"Baik, Mas. Kalau begitu saya permisi." Ozil bergegas pergi dengan perasaan yang cukup hangat. Semua itu berkat sikap para karyawan di sana yang nampak seperti keluarga. Untuk urusan Mbak Lisa dan Mbak Rini, biarlah nanti waktu yang berbicara. Lagian benar kata Edwin, mereka masih satu kantor, jadi hati hati jika ingin menjalin hubungan.
Dengan menggunakan motor, Ozil telah sampai kediaman rumah bosnya. Rumah yang cukup besar dan jaraknya memang tidak terlalu jauh dari letak kantor. Tidak sampai lima menit, Ozil sudah berada di halaman rumah bercat warna warni seperti kue pelangi.
"Apa itu, Zil?" tanya Mbak Anindita yang saat ini sedang bermain bersama dua anak kecilnya. Anak yang laki laki berusia empat tahun dan yang perempuan dua tahun. mereka saat ini sedang berada di teras depan rumah.
"Nggak tahu, Mbak. Katanya, di suruh diletakkan di meja kerjanya Mas Ari," jawab Ozil sopan.
"Berat nggak? Kalau berat, tolong kamu yang naruh ya? Kamu tahu kan tempatnya? Bibi lagi saya suruh ke mini market."
"Iya, tahu kok, Mbak," Ozil memang sudah beberapa kali ke rumah itu jadi tahu dimana letak meja kerja bosnya. Ozil segera saja melaksanakan permintaan istri dari bosnya itu. Dia langsung masuk saja lewat pintu utama.
Beberapa waktu kemudian, di saat Ozil sudah berada di lantai atas menaruh barang bawaannya, telinganya mendengar teriakan minta tolong. Ozil tentu saja langsung terperanjat.
"Tolong!"
__ADS_1
"Mbak Anindita!" pekik Ozil dan dia segera saja berlari, turun, untuk melihat apa yang terjadi.
...@@@@@...