
"Kamu kenapa? Kok Senyum senyum sendiri gitu?" tanya Ozil yang melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh tamunya. Namun begitu, dia jadi terpesona dengan senyum yang ditunjukan oleh tamu wanita yang beberapa waktu lalu sering menjadi teman ngobrolnya saat wanita itu masih menjadi hantu. "Tapi senyum kamu kok kelihatan beda ya?" tanyanya.
"Beda gimana?" tanya wanita yang pernah memiliki nama Cempaka saat menjadi hantu. Nama yang dia dapat dari pria yang saat ini duduk di taman bersamanya.
"Ya beda aja. Senyuman kamu terlihat lebih manis daripada saat kamu menjadi hantu," bukan bermaksud untuk menggombal, tapi itu yang sedang Ozil perhatikan dari wanita itu.
"Hahaha ... bisa gombal juga kamu, Bang?" ledek Cempaka. "Belajar dari mana sih? Apa mungkin aslinya kamu seorang playboy?"
"Sembarangan," sungut Ozil sedikit tidak terima. "Aku tuh ngomong jujur tahu. Mungkin ketika kamu menjadi hantu wajah kamu itu pucat kali ya? Jadi senyumnya itu nggak semanis sekarang," terangnya.
"Benarkah?" tanya Cempaka memastikan dengan wajah yang terlihat berbinar. Melihst Ozil mengangguk, Senyum Cempaka kembali terkembang. "Sepertinya kamu memang lagi merayu. Pasti Abang lagi ingin sesuatu, kan? Hayo ngaku?"
"Pengin apa? Ya nggak lah," Ozil jadi terlihat heran bercampur kesal. "Orang ngomong benar juga, malah nggak percaya."
"Hahaha ...kan aku cuma nebak aja, Bang. Kali aja, kamu lagi pengin sesuatu sampai mengeluarkan jurus rayuan kayak gitu," balas Cempaka tidak mau kalah.
"Pengin apa sih? Ngaco kalau ngomong. Orang lagi nggak pengin apa apa," bantah Ozil. Dia memang saat ini sedang tidak ingin sesuatu.
__ADS_1
"Ya kan kali aja, Bang. Misalnya Abang tuh pengin mandi dilihatin oleh aku atau tidur sambil dipegangin isi celananya gitu."
"Astaga, Cempaka!" seru Ozil dengan wajah terperangah. "Kenapa pikiran kamu jadi nakal gitu sih? igh, aku jad gemas. Ada ada aja sih pikiran kamu itu."
"Loh, emang salah? Dulu kan Abang suka menggerutu kalau aku sama yang lain sedang jahil ke kamu, Bang. Kok sekarang malah kayak nggak suka?" Cempaka terlihat sedikt heran dan tidak terima. "Bukankah dulu kamu pernah menggerutu, cuma bisa lihat doang ngak bisa pegang. Percuma isi celanaku dipegang kalian, tangannya dingin. Sekarang kayak cowok suci gitu."
"Hahaha ..." Ozil malah terbahak. "Kenapa kamu malah ingatnya yang nakal nakal sih? Ya ampun, hahaha ..." Ozil benar benar makin terperangah sampai dia terpingkal pingkal.
"Ih, malah diketawain, kamu ngeledek, Bang? Orang aku ngomong serius juga. Lagian nggak ada yang lebih mengesankan selain dua hal itu. Orang dari sekian kejadian yang aku ingat saat aku jadi hantu, ya itu, saat ngintipin kamu mandi dan saat megangin punya kamu pas tidur."
"Terus kenapa? Kamu pengin mengulang kejadian itu lagi, gitu?"
Senyum Ozil seketika menghilang dan dia kembali menunjukkan wajah terperangahnya. Kali ini bukan ingin menertawakannya, tapi Ozil terkejut karena Cempaka malah terlihat marah. "Loh kok ngomong kayak gitu? Ya maaf, bukan maksud aku ngetawaain kamu, aku heran aja."
"Tapi nggak perlu diketawain juga, orang aku ngomong apa adanya," sungut Cempaka tanpa mau memansang Ozil yang kali ini sedikit nampak frustasi.
"Iya iya, maaf. Ya udah, kamu aau pegang isi celanaku? Ayo!"
__ADS_1
"Nggak mau, udah nggak minat," tolak Cempaka dengan nada yang begitu kesal.
Ozil menghela nafasnya secara kasar. Sekarang dia malah merasa bingung sendiri menghadapi wanita yang suasana hatinya mendadak berubah karena sikap Ozil yang spontan menertawakannya. "Ya ampun, ya jangan marah dong. Kalau mau pegang isi celanaku ya ayo, kapan?" mungkin karena tidak pernah pacaran, Ozil jadi bingung sendiri mencari cara untuk meluluhkan wanita yang sedang ngambek.
"Udah nggak pengin. Udah lah, aku mau pulang. Kesini sengaja pengin ketemu malah diketawaain doang," sungut Cempaka sambil bangkit dari duduknya.
"Loh kok pulang? Jangan pulang dong, Cem. Masa gitu aja marah sih?" Ozil benar benar terlihat kaget. Apalagi cempaka terus melangkah dan menuju ke mobilnya. Ozil makin terlihat frustasi dan sedikit panik. "Cem, tunggu dulu," untuk pertama kalinya, Ozil memegang pergelangan tangan Cempaka,
"Apa sih? Aku mau pulang." Langkah kaki Cempaka sampai terhenti karena tangannya dicekal Ozil.
"Nggak, nggak boleh! Kamu nggak boleh pulang dalam keadaan marah," tolak Ozil.
"Yang buat marah juga kamu, ngapain kamu pake ngelarang?"
"Ya kan aku udah minta maaf. Masa nggak kamu maafin," rengek Ozil sambil terus mencari cara agar Cempaka tidak jadi pulang. "Asal kamu tahu, disekitar sini ada orang orangnya Sakurata loh."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@@...