
"Sudah tidak ada orang," ucap Ozil begitu laju motor yang dia kendarai, hampir sampai di tempat dia tinggal. Tidak ada orang yang berdiri di depan gerbang sama seperti semalam. Ozil pun langsung menghentikan motornya di sana. Setelah itu, Ozil turun untuk membuka gerbang.
"Bang Ozil!" seru salah hantu sembari menampakan wujudnya di hadapan pemuda itu. "Bang Ozil dari mana? Kok baru pulang?"
Sebelum menjawab, Ozil terlebih dahulu membuka gerbang dan memasukan motornya ke area tempat tinggalnnya. "Aku nginep di rumah temen," dustanya. "Kok kamu sendirian? Yang lain mana?"
"Lagi di tempat para penjahat," jawab sang hantu yang diberi nama Melati. "Tadi aku kesini karena diminta ngecek kamu, soalnya dari semalam kamu nggak kelihatan."
Ozil lantas tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju taman kecil yang ada di sana. "Ada informasi apa lagi hari ini?" tanya Ozil begitu dia duduk di bangku yang ada di taman itu.
"Nggak ada informasi apa apa sih, Bang. Cuma ya itu kami kaget saat tadi para penjahat ngomongin soal Seruni. Mereka udah tahu Seruni bersembunyi di sini?"
Ozil pun mengangguk. "Mereka tahu dari hasil melacak nomer ponsel Seruni. Makanya semalam Seruni minta nginep di rumah Zhang. Pas aku pulang nganterin, eh ada penjahat di depan gerbang. Aku malas di tanya tanya, jadi ya aku memutuskan pergi aja ke tempat temenku."
"Sudah aku duga," sahut Melati. "Terus, rencana kita gimana? Kemungkinan nanti para penjahat akan kesini lagi, buat nyari info."
"Ya rencana kita tetap akan jalan. Tenang aja, aku juga sudah memiliki rencana lain jika rencana kita nanti gagal," ucap Ozil dengan yakin. "Emang tadi penjahat cerita kalau mereka mau ke sini?"
"Ya cerita, mereka ngobrol gitu tadi saat mereka bangun tidur. Kamu ngggak takut kan, Bang?"
__ADS_1
"Hahaha ... takut? Meski badan mereka lebih kekar, bukan berarti aku harus takut. Lagian kan ada kalian."
Melati lantas tersenyum. Mereka pun kembali melanjutkan obrolan dan membaha yang lainnya sampai tak lama kemudian, Melati harus pergi memberi tahu hantu yang lainnnya tentang kepulangan Ozil. Ozil sendiri segera masuk ke kamar, hanya untuk meletakkan tas slempangnya saja. Setelah itu Ozil keluar lagi untuk membersihkan ruang kantor seperti biasanya meski dia sedang libur.
Seperti yang sudah diduga, Saat Ozil hampir selesai dengan tugasnya, matanya menangkap sosok sedang memandangi area tempat kerjanya. Tatapan pria itu seperti sedang menyelidiki. Ozil sontak saja membuka pintu utama ruang kantor, sampai membuat orang yang mengawasi tempat itu merasa kaget.
"Lagi nyari apa, Pak?" tanya Ozil dengan suara yang cukup kencang karena di hanya berdiri di depan pintu saja.
"Oh tidak," pria itu terlihat salah tingkah. "Cuma lagi lihat lihat," kilah pria itu.
"Oh," ucap Ozil singkat, lalu dia melanjutkan pekerjaannya sampai selesai. Namun Ozil merasa heran karena pria yang sama, masih berada di sana, dengan mata yang terus menyelidik. Ozil pun mendengus dan dia melangkah mendekat ke arah pintu gerbang. "Bapak ada pertu? Hari sabtu dan minggu kantor tutup. Kalau bapak ada perlu, lebih baik bapak datang saja besok senin."
Ozil ingin tersenyum sinis, tapi dia tahan karena Ozil tidak mau penjahat itu tahu tentang Ozil. "Hilangnya sejak kapan, Pak? Kok mencarinya ke tempat ini?"
"Hilang sejak satu minggu sih, cuma dua hari yang lalu aku dengar kalau dia ada disini," pria itu semakin mengarang cerita.
"Terus, Bapak mau menggeledah tempat ini?" tanya Ozil. "Kalau mau menggeledah ya silakan, tapi aku laporan dulu sama bos aku."
"Nggak usah, Mas," pria itu langsung menolaknya. "Kalau begitu saya permisi." pria itu langsung pergi tanpa menunggu Ozil membuka suaranya. Ozil langsung mendengus dan dia segera menutup pintru gerbangnya. Ozil pun meletakkan alat kebersihan pada tempatnya dan kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Baru saja Ozil merebahkan tubuhnya, telfon milik pemuda itu berdering. Ada nama Mbak Lisa di sana yang memanggil. Ozil pun langsung menggeser tombol warna hijau dan meletakkan ponsel di telinganya.
"Hallo!
"Iya, Mbak, kenapa?
"Oh, iya, Mbak."
"Iya, Mbak, nanti aku cariin."
"Oke, Mbak."
Klik! Telfon pun berakhir.
Ozil bangkit lagi dari berbaringnya dan keluar kamar. lalu kembali memasuki area kantor dan berhenti di meja kerja karyawan wanita yang baru saja menelfonnya. Ozil nampak sedang mencari sesuatu dan saat membuka laci, mata Ozil nampak berbinar. Ozil pun mengambil sesuattu yang ada di sana. Tapi Ozil tertegun saat melihat sesuatu yang lain di laci meja kerja Mbak Lisa.
"Mbak Lisa kok punya ini?"
...@@@@@@...
__ADS_1