HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Titik Terang


__ADS_3

Di tempat para musuh.


"Kita diminta ke tempat Dokter Sakurata sekarang," ucap salah satu penjahat yang baru saja menerima sebuah telfon. Dari pembicaraan singkat yang tadi dia lakukan, sepertinya ada hal penting yang akan mereka lakukan.


"Ada apa memangnya?" tanya penjahat lainnya. Meski begitu mereka tetap bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.


"Mungkin ada hal penting yang akan dilakukan oleh kita. Maka itu kita ketemu dokter Sakurata terlebih dahulu." Tidak ada pertanyaaan lagi yang keluar dari mulut para penjahat. Mereka segera saja pergi menuju ke tempat dokter Sakurata berada.


Tentunya mereka pergi tidak sendirian. Ada lima hantu yang sangat setia mengikuti ketiga penjahat itu. Para hantu akan ikut kemanapun para penjahat pergi sampai mereka menemukan rumah dari bos para penjahat tersebut.


Sementara itu di tempat lain, seorang wanita nampak tercengang saat seorang anak muda menunjukkan sebuah benda. Namun rasa tercengang itu hanyaa sebentar dia tunjukan sembari mengamati benda tersebut. "Ini kan, alamat rumah Mbah Wiro, seorang dukun, Zil, kamu menemukan ini dimana?"


"Di laci kerja milik kamu, Mbak, aku nggak sengaja lihat kartu nama itu saat mengambil buku cacatan ini," jawab Ozil. "Mbak Lisa kenal dengan Mbah Wiro?"


"Nggak kenal sih, cuma aku ini direkomdasikan dari teman. Katanya dia dukun yang hebat," jawab Mbak Lisa. "Kamu kenal dengan dukun ini apa gimana? Sampai mau datang kesini segala?"


"Ya sama kayak Mbak Lisa, aku juga penasaran dengan orang itu," jawab Ozil yang sebenarnya saat ini sedang berpikir untuk mencari alasan yang tepat. "Aku juga dapat cerita dari teman kalau ada dukun yang hebat gitu, Mbak. Cuma kan aku tahu namanya aja, nggak tahu alamatnya."

__ADS_1


Seperinya Mbak Lisa percaya dengan alasan yang dikatakan Ozil. Terlihat wanita itu tersenyum sembari mengangguk. "Ya aku kan punya teman seorang biduan lokal, Zil. Dia yang ngasih tahu. Yang aku lihat sih, job manggung temanku sekarang lumayan banyak sejak pergi ke tempat dukun ini."


"Mbak Lisa mau jadi biduan?" tanya Ozil yang sedikit terkejut mendengar cerita dari wanita si pemilik rumah.


"Ya nggak lah," bantah Mbak Lisa diiringi dengan senyuman lebar. "Aku ingin konsultasi aja, kali aja aku bisa dapat jodoh yang gantengnya kayak kamu, Zil."


"Heherhe ..."Ozil malah jadi tersanjung mendapat pujian. "Mbak bisa aja kalau ngomong."


"Nyatanya, emang kamu ganteng kan?" ucap Mbak Lisa tak mau kalah. "Terus kamu sendiri, mau apa, sampai mencari dukun ini?"


Mbak Lisa tersenyum tipis. "Kamu itu sebenarnya ganteng, Zil. Cuma ya mungkin karena kamu dulu nggak ada uang. Sekarang kamu juga pasti merasakan bedanya kan? Sejak kamu punya uang?"


"Iya sih, Mbak. Cuma ya itu, satu, pasti banyak cewek yang malu punya cowok seorang Ob kan?"


Mbak Lisa malah tertawa. "Hahaha ... kamu masih muda, Ozil, jangan terlalu mikirin pacaran. Lihat aku, dulu aku terobsesi pacaran lalu nikah. Tapi sekarang, aku malah jadi janda. Kamu laki laki, mending kamu sukseskan dulu karir kamu. Kalau kamu sudah banyak uang, pasti cewek yang mau sama kamu, berdatangan sendiri."


"Hehehe ... iya juga sih, Mbak," ucap Ozil sambil cengengesan. "Kok rumahnya sepi, Mbak?"

__ADS_1


"Loh," Mbak Lisa nampak terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Ozil. "Kan aku udah pernah bilang, rumahku itu sepi. Kamu lupa apa gimana?"


"Hahaha ..." OZil malah terbahak dan sedikit salah tingkah."Lupa, Mbak," kilahnya. Padahal tadi hanya basa basi karena dia bingung, mau ngobrol apa lagi.


"Ish, ada ada aja," balas Mbak Lisa lalu dia juga ikut tersenyum. "Astaga! Saking asyiknya ngobrol sampai lupa ngasih kamu minum, Zil. Kamu mau minum apa?"


"Hahaha ... apa aja deh, Mbak, yang anget anget," jawab Ozil.


"Baiklah," balas Mbak Lisa, dan wanita itu langsung bangkit menuju ke arah dapur. Ozil pun mempersiilahkan. Namun di saat Ozil sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan rumah itu, tiba tiba terdengar suara teriakan. "Aduh!"


Ozil sampai terperanjat dan matanya langsung menuju ke arah dapur. "Mbak Lisa! Kamu kenapa, Mbak?"


"Kena air panas, Zil," sahut Mbak Lisa deengan suara yang cukup kencang. "Zil, tolong ambilkan kotak obat yang ada di sebelah televisi."


"Baik, Mbak," Ozil langsung bangkit dan mengambil obat di tempat yang ditunjukkan Mbak Lisa. Televisinya berada di ruangan sebelah tempat Ozil duduk. Ozil bergegas menuju dapur dan dia nampak tercengang dengan apa yang dia lihat saat ini.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2